Ujian Itu Bernama Fracture

Beberapa jam sebelum kejadian itu aku bahkan masih membantu Ibu mengangkat berkarung-karung padi menggunakan tangan, anugerah Sang Illahi. Tangan yang selalu aku kagumi karena begitu banyak manfaatnya, kini harus menjalani sebuah ujian. Fracture, itu bahasa asingnya.
Baik akan aku ceritakan kronologinya…
Berawal dari pukul 07:37 WIB aku pamit berangkat kuliah setelah menandaskan setengah piring nasi yang mengepul lengkap dengan tempe goreng yang masih hangat. Kakak perempuanku yang baru pulang kemarin karena weekend mengambil alih memasak sementara Ibu mengipas padi dan Kakak laki-lakiku didalam rumah. Seperti biasa karena rumah kami lumayan jauh dari jalan raya, aku meminta Kakak perempuanku untuk mengantar.
“Mbak, anterin yok!”
“minta anter Kak Wahed aja ya, ini belum kelar”
Aku pun bergegas pergi ke dalam rumah.
“Kak, anterin yok kedepan”
“bawa aja sepedanya”
“loh Kakak mau balik kapan?”
“udah bawa aja, besok mungkin”
“ok”
Setelah mengambil STNK dan helm, aku berpamitan pada Ibu dan Kakak. Saat aku siap untuk berangkat Kakak perempuanku itu sempat keluar dari dapur dan bertanya.
“gimana? Ga mau dianter ya?” Tanyanya dengan mimik penuh arti.
“ngga Mbak, suruh bawa aja” aku tersenyum.
Assalamu’alaikum..
Bruuum… Aku melesat pelan menjauhi rumah. Dalam perjalanan aku menyetir dengan tenang seperti biasa. Sudah tak ada rasa canggung karena ini untuk kali ketujuh aku mengendarai motor sendiri dengan jarak yang lumayan terbilang jauh---bagi Bapak—terlebih beliau tidak pernah menyetujuinya (perempuan, ngebis aja. Kedalem kampus tinggal naik becak. Beres. Bapak khawatir, takok palangah abhak). Namun karena yang kubawa adalah motor Kakak, jadi tanpa persetujuan Bapak aku berangkat. Di ketujuh kali itu kebetulan aku berangkat saat Bapak tengah bekerja atau saat beliau berada di sawah. Di keenam dari tujuh itu (haha.. bahasanya) yang aku kendarai adalah motor Kakak (jadi, sekali lagi, secara kurang ajar betul aku merasa tidak perlu menunggu persetujuan Bapak). Tapi sungguh, aku tidak pernah memaksa. Jujur, aku lebih suka jalan kaki yang menyenangkan. Berkhayal menjadi sosok Lintang dan Dahlan kecil. Meski sebenarnya secuil pun aku tak ada apa-apanya dibanding mereka. Aku membawa motor jika sangat perlu, kuliah suma satu, dengan persetujuan Ibu, atau dorongan Kakak yang menggebu-gebu.
***
Sudah beberapa menit aku mengendarai motor. Ada sesuatu yang terasa begitu ganjil. Aku seringkali melihat kedua tanganku dan aku juga bingung kenapa. Beberapa kali aku melihat tanganku hingga sampai di lampu merah junok aku tak lagi melakukannya.
Setelah berkebut-kebut hehehe (setelah ku intip speedometernya hanya 85 km/jam karena sepi), akhirnya aku sampai di pertelon telang, jalan menuju kampus. Saat itu aku menjumpai seorang mahasiswi yang tengah berjalan. Tanpa pikir panjang aku menanyakan tujuannya. Ia bilang ingin ke kost-nya didekat gerbang kampus. Aku mengajaknya naik dan ia mengiyakan. Tentu saja dikawasan seperti itu aku melintas dengan pelan hingga akhirnya aku hampir tiba didepan sebuah kost berwarna ungu yang dekat dengan pedagang sayur. Aku langsung bertanya:
“turun didepan ya, Mbak?”
“iya Mbak.”
Tepat saat aku hendak menepi lalu mengerem tangan/depan tiba-tiba jalannya terasa begitu licin. Sepertinya ada banyak kelereng bertebaran yang akhirnya ku ketahui itu tumpukan pasir setinggi beberapa senti dan kejadiannya begitu cepat… bruuum…bug..srroott.. Aku tidak ingat kenapa aku tergelincir, apa karena Mbak-Mbak yang ku bonceng turun sebelum aku berhenti, atau karena tumpukan pasir degan rem tangan, yang jelas aku tidak ingat karena kejadiannya begitu cepat. Namun yang aku ingat adalah saat lengan dan siku aku jadikan tumpuan, saat bunyi srooot itu ternyata bunyi lenganku yang tergerus. Aku langsung berusaha duduk mengangkat lenganku yang terasa lemas tak bertulang, untuk kemudian terasa sakit bak dipelintir. Lalu orang-orang membantuku berdiri meski sebenarnya aku sehat-sehat saja, hanya lenganku. Ya, lenganku. Kenapa dengan lenganku?
Aku meringis kesakitan tanpa mengaduh karena masih bisa ku tahan. Ku lihat orang-orang disekitarku kebingungan. Ku lihat Mbak yang ku bonceng baik-baik saja, syukurlah. Dengan masih meringis kesakitan aku memecah kebingunngan semua orang.
“Pak, tukang sshh urut sshh disekitar ssshh sini dimana ya?”
“kurang tau saya Mbak. Ke rumah sakit aja.” Jawab seorang Bapak paruh baya.
“ke klinik aja.” Sambung lelaki yang sebaya denganku.
“Iya, mas bisa anterin?” Tanya Mbak yang ku bonceng tadi.
“iya bisa, ini kuncinya,” jawab lelaki itu sambil menyerahkan kontak motorku *eh motor Kakakku.
Aku langsung memberikan kontak itu pada Mbak yang ku bonceng---orang baik hati yang tak pernah ku kenal sebelumnya--- dan dengan senang hati ia bersedia untuk menjaganya. Lalu aku langsung menuju ke klinik diantar lelaki yang juga baik hati. Disitulah mode on-ku seakan menyala. Baik, biar aku jelaskan. Begini, aku ini adalah spesies orang yang memiliki mode on-off. Kalau mode on-ku yang sedang berfungsi, maka aku bisa cerewet bukan main. Tapi kalau mode off-ku yang sedang menyala (menarik bukan, mode off tapi menyala), maka aku bisa menjadi sangat pendiam. Pernah suatu saat dikampus, temanku Himma menegurku. Menanyakan aku yang hanya diam tak mengeluarkan banyak kata seharian. Ia mengira aku sedang menghadapi suatu masalah. Tetapi ia salah, ia tidak tahu bahwa mode off-ku sedang bekerja. Btw, berapa gajinya? Hehehe…
Dalam perjalanan menuju klinik kampus alias UPK aku bertanya pada lelaki itu sambil meringis kesakitan, hampir mengaduh karena sakitnya makin terasa.
“mas, ini sshh mau sshh kemana?”
“mau ke klinik, Mbak.”
“dimana itu?” (jangan tiru orang seperti ini, hampir setiap hari ke Gedung Cakra tapi kliniknya saja tak tahu)
“di cakra Mbak.”
“sshh.. bisa lebih cepet ga mas?!”
“eh… iya, Mbak, iya,” dengan panik ia mempercepat laju motornya.
“memangnya disana sshh ada tukang sshh urut, mas?”
“saya juga ga tahu Mbak.”
“terus ssh gimana nasib sshh saya?”
“yang penting dapet pertolongan pertama dulu, Mbak.”
“lebih cepet, aduh.. sakit ini.. sshh”
“iya, Mbak, iya.” Lelaki itu makin panik.
Akhirnya, sampailah kita didepan gedung Cakra. Aku langsung bergegas turun dari motor matik itu. Merasakan kepalaku yang berat, aku meminta agar helm-ku dIbuka, tetap sambil meringis karena sakitnya makin terasa. Padahal lelaki itu belum genap memarkirkan motornya.
“Mas.. tolong helm mas.. sshh.. bukain helm saya.”
“Iya Mbak, permisi”
Aku bahkan tidak peduli mau dikemanakan helm itu. Aku langsung menerobos pintu depan untuk masuk ke ruang klinik. Lelaki itu terhuyung-huyung menyusulku dan menujukkan tempatnya. Di dalam ruangan kutemui ada tiga petugas---sebut saja dokter---dan lelaki itu mulai menjelaskan situasinya. Sementara aku akhirnya mengaduh dan merengek seperti anak kecil. Seingatku, aku tidak pernah merengek seperti ini pada kedua orang tuaku.
“aduh ini patah Mbak,” kata seorang wanita yang kusimpulkan seorang senior diantara ketiga petugas.
“jatuh dimana, Mbak?” wanita satunya yang memiliki wajah yang hampir mirip bertanya padaku yang kesakitan.
Mereka semua panik termasuk Bapak dokter, sebut saja begitu. Sementara aku patah-patah menjelaskan semuanya dibantu lelaki itu. Menjelaskan kejadiannya, namaku, jurusan, semester, dsb. Lalu aku diminta berbaring namun aku menolak karena merasa sehat dan tak perlu berbaring, hanya saja lenganku makin sakit. Semuanya memaksaku untuk berbaring dan beberapa saat kemudian Pak *eh anggap saja Pak Dokter kembali dengan kardus memanjang yang dibaLut perban dan memintaku untuk meletakkan lengan yang sakit.
“ayo sini Bapak balut dulu lengannya”
“aduh Pak, sakiiiit”
“iya, sabar. Luruskan dulu”
“aduh… aw… sakiit”
Sakit bukan main karena hakikatnya mereka tidak tahu posisi tulang yang mengalami dislokasi itu. Hanya diluruskan seadanya, dibalut, mungkin agar tidak terlalu banyak bergeser.
“ini temannya mana, mas?”
“ada bu, dikostnya”
“tolong dibawa kesini”
“baik bu.” Jawab lelaki itu bergegas berangkat.
“Ibu, itu bukan teman saya. Saya cuma kenal tadi,” kataku.
“oh, yaudah telfon temanmu”
“iya bu”
“disebelah mana hpnya? Biar Ibu ambilkan.”
“paling aduuh depan aduuh.”
Ngomong-ngomong buat apa menghubungi teman. Mereka semua tengah bersiap kuliah bukan. Kasihan, pasti akan sangat mengganngu. Aku tidak mau. Eh, tapi apa salahnya menghubungi hanya untuk menitipkan semua tugas-tugas yang kebetulan ditas. Apa pula aku ini? Disaat seperti ini masih ingat tugas. Hehehe, maklumlah, mengerjakannya perlu pengobanan waktu, pikiran dll. Aku menghubungi Ana dan Ulfa karena berpikir ada gratisan nelfon. Tapi ternyata malah suara orang yang tidak diharapkan yang berbunyi: Maaf pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini. Beberapa saat kemudian, Ana balik menghubungiku. Tepat ketika waktu menunjukkan 08:43 WIB.
“Ada apa Lut-Lut?” (Lut-Lut adalah panggilan khusus katanya, sama seperti cartoon, Lutfi, pia, bakpia, saat SLTA dulu)
“An, aku jatoh. Lenganku patah. Bisa kesini sebentar?”
“haduuh, iya iya. Dimana?”
“di UPK, Cakra”
“Mbak, hubungi orang tuamu ya. Ketemuan dirumah sakit *tiiiit* yaa..” ucap Ibu senior.
“hah, apa? Ngga bu. Ga usah. Saya ga papa. Ga perlu kerumah sakit. Ga perlu hubungi keluarga saya bu. Tinggal ke tukang urut aja dan saya bisa kuliah hari ini,” jawabku panjang tanpa meringis karena takut menghubungi Bapak dan Ibu.
“ke tukang urut? Kalo itu saya gak berani. Kamu pergi saja sendiri!” nadanya semakin meninggi.
Aku terdiam dalam sakit ketika sesaat kemudian Ana datang dengan begitu panik.
“aduuh.. kenapa Lut-Lut?”
“an.. sakiiit. aku disuruh nelfon Ebo’ sama Bapak tapi ga mau. aku ga mau nyusahin mereka. Menurutku ke tukang urut aja. Gimana menurutmu?”
“sudahlah.. nurut aja Lut-Lut. Mana kontaknya?”
Aku pasrah saja ketika akhirnya Ana berbincang-bincang dalam hp dengan Kakak perempuanku yang ternyata belum kembali ke kost-nya di Surabaya. Lalu diambil alih bu senior dan aku.
“Mbak, aku jatoh. Tapi jangan bilang-bilang ke Ibu. Aku ga papa, cuma tanganku patah.”
“aduuh, k-o-k b-i-s-a?”
‘’tadi pas mau berhenti ada tumpukan pasir dan bla bla bla. Ketemuan di RS J****”
Ana mengambil kembali HP-nya, masih dengan air muka yang gugup dan panik. Lalu ia menerima sebuah kartu berwarna biru langit. Mungkin semacam surat izin.
“An… makasih ya. Sudah sana kuliah. Aku ga papa. Sebenarnya aku cuma mau nitip tasku. Semua tugasku ada didalam. Tolong kumpulkan yaa. O..ya, jangan kasih tahu siapa-siapa ya.”
“Mmm.. aduhh.. eh.. iya aduuh.. eh yang mana tasmu?”
“yang item”
Sebentar kemudian datanglah Mbak yang aku bonceng. Aduh, kasihan sekali dia. Lelaki itu benar-benar menyusulnya, membawanya kesini.
“Mbak, maaf ya.” Ucapnya lirih
“aduh, maaf untuk apa Mbak? Ga usah minta maaf,” jawabku.
“coba Mbak ga bawa saya. Kan ga Pake berhenti di depan kost berpasir itu. Maaf ya Mbak.”
“aduh. Ngga Mbak. Jangan minta maaf. Mbak ga salah. Berarti coba saya ga ngajak Mbak. Mbak ga bakal keikut kayak gini,” rasa sakitku makin menjadi. Namun Mbak itu tetap meminta maaf.
“ngga Mbak. Saya minta maaf. Coba Mbak ga ngajak saya.”
“sudahlah Mbak. Aduh, sudah. Ini sudah takdir. Sudah waktunya,” jawabku sekenanya.
“iya Mbak, Mbak tahu Bapak-Bapak tadi? Itu Pak kost saya. Beliau juga heran kenapa bisa jatuh. Padahal kata beliau Mbak sudah sangat hati-hati. Oya, sepeda motornya sudah saya titipin ke beliau.”
Panjang lebar Mbak itu masih bercerita meski dengan wajah yang masih bersedih. Aku menanggapi satu-satu kata karena tengah menahan sakit yang makin berlipat. Rasanya aku ingin menangis tapi mataku sepertinya kering.
‘’bu, ini nunggu apa? Saya tidak tahan dengan sakitnya.”
“sabar ya.. lagi nunggu mobil kampus.. sabar ya..” kata Ibu---sebut saja asisten bu senior--- dengan nada yang nyaman didengar.
“Mbak, sudah sana ga papa kuliah saja. “
“ngga Mbak, nanti masih jam 11 kok masuknya.”
“maaf ya, Mbak.” ucapnya lagi.
Akhirnya mobil kampus sudah siap menngantarku ke RS. Aku dipapah keluar klinik. Kurasakan pipiku basah. Oh tuhan, sakitnya makin berlipat. Cepat-cepat ku hapus air itu dengan kain kerudungku yang menjuntai sebelumnya. Tepat ketika aku menatap keluar lewat pintu klinik yang terbuka lebar, kudapati temanku Nicun sedang menunggu antrian untuk naik lift. Secara reflex aku mengangkat tangan kiriku untuk ber-dadah sebagai tanda menyapa. Sebaliknya Nicum begitu kaget dan menghampiri kami. Aku langsung masuk ke mobil, tak ingin membuang waktu sedikitpun, ingin rasa sakit ini segera berakhir. Ku dengar dari dalam mobil diluar sedang riuh.
“Bu, kenapa bu?” Tanya Nicun
“ini Mbak, tadi…” Mbak yang ku bonceng menjelaskan.
“ini temannya siapa yang mau ikut?” Tanya bu senior.
“saya bu, saya,” jawab Nicun cepat.
Semua orang memasuki mobil, asisten bu senior, Bapak dokter, Bapak yang bertugas menyetir, termasuk Nicun. Sementara Mbak yang ku bonceng tidak ikut karena harus masuk kuliah jam 11:00 WIB. Memang seharusnya begitu. Tapi oh. Lihatlah Nicun. Lihatlah ia. Annisa Aulia HIdayah. Teman satu fakultas, satu jurusan, satu angkatan, bahkan satu kelas di beberapa MK (mata kuliah). Oh Nicun. Orang ramah yang ku kenal saat pulang ospek, saat hendak berjalan menuju pertigaan untuk menyetop bus. Orang yang sangat baik. Orang yang selalu menawarkan menjadi editorku. Orang yang begitu amat sangat baik sekali. Hehehe…
Kawan, tanyakan padaku tentang siapapun orang yang ku kenal, tanyakan tentang bagaimana pertama kali aku bertemu orang itu, insyAllah aku akan selalu ingat. Bagaimana mimiknya, gerak geriknya, nada bicaranya, tapi jangan tanyakan padaku berapa isi dompetnya. Bisa jadi dompetnya sedang tertinggal dirumah. Iya, aku mengingat kesan pertama saat mengenal orang. Tapi sayangnya ingatan ini tidak berbanding lurus saat yang aku hadapi adalah mata kuliah. Hahaha...
“Nicun, uda ga papa sana kuliah.”
“ga papa kok, Lut. Aku kuliah jam 10:40 WIB kok.”
“iya, Mbak. Biar ada yang jagain Mbak,” asisten bu senior menyambung pembicaraan.
Mobil melaju dengan kecepatan yang relatif pelan menuju RS. Aku masih menahan rasa sakit. Kini rasa sakitnya sulit ditahan, membuat mataku berair, merengek. Eh, tapi tunggu dulu. Dimana lelaki yang membantuku tadi? Lelaki yang dengan sabar menjawab banyaknya pertanyaanku. Lelaki yang ku suruh-suruh membuka helm. Ku lihat saat hendak memasuki mobil kampus, helm-ku *eh helm kakakku ada di kursi di dalam klinik. Aku bahkan belum sempat berterima kasih padanya. Allah, kabulkan semua keinginannya, cita-citanya. Aku jadi benar-benar menangis karena mengingat setiap kebaikan semua orang.
Akhirnya kami tiba di sebuah rumah sakit yang begitu tersohor karena pelayanannya yang buruk, katanya. Ibu, mimpi apa aku sampai harus tiba di tempat ini? Ibu, aku ikhlas.
Saat tiba dan keluar dari mobil kami langsung disuguhkan semacan tempat untuk berbaring yang memiliki roda. Dengan keras kepala aku menolak.
‘’ngga, Pak, saya masih bisa jalan.”
“naiklah, didalam tidak ada tempat tidur,” kata salah seorang petugas.
Setelah mengurus ini dan itu, menunggu ini dan itu, diwawancarai ini dan itu, akhirnya aku dan Nicun memasuki sebuah ruangan untuk kemudian lenganku dirontgen. Setelah itu kami dibiarkan saja disebuah lorong rumah sakit. Aku yang meringis kesakitan dan Nicun yang kebingungan mencoba berkali-kali menghubungi keluargaku.
“aduuh.. sakit Cun..”
“iya, sabar ya Lut”
Akhir-akhir ini ku ketahui bahwa ternyata Kakak dan Ibuku sudah lama sekali tiba di RS, pihak rumah sakit mengatakan aku sedang di rontgen. Padahal kenyataan aku dan Nicun menunggu mereka sambil menahan sakit yang tak tertangguhkan. Sebentar kemudian petugas klinik kampus yang kita sebut saja dokter undur pamit karena klinik tidak ada yang menjaga. Satu-satunya Bapak diantara mereka mewakili datang menghampiriku.
“Mbak saya balik dulu yah, Mbak nanti bisa hubungi temannya kalo mau balik ke kampus,” katanya pada Nicun.
“mmm.. ngga cun, ga papa. Biar enak kamu ikut aja. Aku sendirian aja”
“ngga Lut, ga papa. Aku bisa naik angkot.”
“iya Mbak, ntar yang jaga Mbak siapa? Terus kalau ortunya dateng gimana? Ya sudah, saya pamit yah. Cepet sembuh ya Mbak. Yang sabar, saya dulu juga pernah seperti Mbak tapi yang kiri.
“iya Pak? Terus diapain?,” aku penasaran. Sungguh, setiap kata yang keluar dari mulut setiap orang sejak aku tergelincir jatuh aku dengar dan perhatikan baik-baik. Layaknya saat mendengarkan ceramah Pak Andrie tentang MKB, karena lemotku sering kumat.
“diurut, jadinya ga sempurna hasilnya seperti ini.”
“yasudah, saya pamit ya, Mbak,” kata bapak itu dengan air muka yang menenangkan.
“iya, Pak. Maaf ya Pak.. makasih banyak.”
Sungai kecil di mataku kembali mengalir deras. Kawan, ceritakan padaku tentang ilmu dan study abroad aku akan terperangah. Lalu, ceritakan aku tentang kebaikan seseorang, niscaya aku akan menangis.
***
Aku masih kesakitan ketika akhirnya Nicun datang bersama Kakak dan Ibuku. Aku langsung menggenggam tangan malaikatku, Ibu. Menceritakan setiap kejadian meski Ibu tidak meminta detailnya. Ibu, tak seperti yang lain, mengerti bahwa anaknya sedang menahan sakit dan tak pantas ditanya-tanya. Sementara Kakak, dokter dan Nicun sepertinya sedang berbincang mengenai hasil rontgen. Kemudian Nicun menghampiriki saat Ibu dan Kakak sedang mengurus administrasi.
“cun, gimana?” aku butuh kejelasan.
“mm..Lut, mm..” Nicun dengan wajah yang sedu.
“tapi kamu jangan down ya Lut, dokter menyarankan agar tidak memberitahumu,” lanjutnya.
“aduuh, ga papa cun, certain aja. Aku cuma pengin tahu, udah sakit banget ini,” ucapku memohon.
“gini Lut, tulangmu patah, kata dokter harus dioperasi. Kalo ngga sembuhnya ga sempurna dan kemungkinan cacat. Sabar ya Lut.”
“mmm.. iya cun aku ga papa kok.” Aku ikhlas, pikirku dalam hati. Aku hanya ingin sakitnya berakhir dulu. “Patahnya gimana cun? Retak atau cuma terlepas?”aku meminta penjelasan.
“lepas terus bergeser, Lut”
“mmm..” aku terpejam sejenak. Berpikir. Aku teringat penjelasan Bu Erna tentang fenomena itu pada pelajaran Sains saat di MAN dulu. Tentang tulang yang patah karena terlepas dari sendi, mengalami dislokasi. Beda lagi saat tulangnya retak dan patah menjadi dua. Iya, aku ingat!
“cun, kalo dioperasi Pake pisau-pisau gitu? Ga mau, Cun.”
“ga tau juga Lut, tapi nanti kan disuntik biar ga kerasa.”
“tapi biayanya pasti mahal, cun.”
“cun, sakit sekali, cun.”
“sudah, Lut ga usah ditahan, nangis aja.”
Aku menangis, meringis, mengaduh kesakitan hingga makin sipit mataku. Tapi mode on-ku masih bekerja.
“cun, tapi kan ga retak, jadi masih bisa diurut kan, Cun?
“iya sih Lut, tapi kata dokter ga memungkinkan. Gini aja uda sakit, apalagi diurut.
Tapi seperti tayangan yang ku lihat ditelevisi, seperti pelajaran sains yang pernah ku pelajari, masalah dislokasi tulang ini jika tidak patah retak maka tidak akan terasa sakit bila lokasi tulang tepat kembali. Tinggal menunggu masa pemulihan dengan posisi tulang yang telah dibalut dengan bahan keras dan makanan-makanan penunjang. Kakak dan Ibuku akhirnya datang memecah lamunanku.
“Kak, nunggu apa ini? Lama sekali. Ayo ke tukang urut aja, disini lama.”
“iya, ini Kakak sedang mengurus kepulanganmu. Kita ke sangkal potong, Kakak tahu tempatnya.”
“Kak, mana hasil rontgen-nya?”
“Ini..”
Aku perhatikan baik-baik foto itu. Lalu ku dekap sambil terpejam. insyaAllah, operasi bukan jalan satu-satunya yang tepat. Luka operasi hanya akan memperlama penyembuhan, pikirku.
“bu, aku dikaksa dokter untuk segera melakukan operasi. Tapi aku menolak. Sekarang kita hanya tinggal bayar dan pulang. Masalahnya, aku ga punya uang,” kata Kakakku tegang.
“aku cuma bawa segini,” kata Ibuku.
Aku segera merogoh saku, teringat tadi Nicun memberikan uang seratus ribuan dan lima puluh ribuan yang diakuinya titipan dari Mbak yang ku bonceng. Aku menolak, tapi Nicun bilang hanya menyampaikan amanah.
“Ibu, ini..” kataku menyerahkan uang itu sambil berjanji dalam hati akan segera menggatinya. Aku yakin, Mbak itu lebih membutuhkannya.
***
Tekad kami sudah bulat. Namun dokter tiba-tiba menghadang kami dan menceramahi Kakak-ku. Hingga terjadilah keriuhan kecil.
“mas, ini bener mau dibawa pulang?” Tanya sang dokter.
“iya, tadi saya sudah urus penolakan operasinya dok.”
“saya tidak tanggung jawab ya kalo ada apa apa.”
“iya.”
“inget mas, eman.. Mbak ini masih umur 20th, tangan kanan dan belum menikah. Kemungkinan cacat loh mas kalo ga dioperasi,” kata dokter itu dengan nada yang makin meninggi.
‘’Iya, kami bawa pulang dulu dok.”
“itu sudah parah, mas. Masak sih tega liat adiknya kesakitan seperti itu. Cacat loh mas. Yah, kun fayakun aja!” ucap si dokter dengan nada tinggi dan mata yang agak nanar. Lucunya dokter itu mengatakannya tepat didepanku, padahal sebelumnya menyuruh Kakak dan Nicun untuk tidak memberitahukan padaku. Sepertinya di kamus sang dokter tidak mengenal kata konsisten.
Keriuhan itu akhirnya berhenti saat aku menyumbang suara. Meski kesakitan suaraku cukup terdengar lantang.
“Loh, dok, tapi kan kalo dislokasinya dibenerin bisa nyambung lagi.”

Kami pun berlalu melewati dokter yang terdiam tak dapat menanggapi pernyataanku. Sementara aku malah melamun, mengingat mimic wajah dokter yang menyebalkan, matanya yang nanar dan terakhir, tajwidnya yang payah saat mengucapkan kun fayakun (kayak tajwid loe jago aja Lut, hehe).
Nicun, Ibu dan aku menunggu di depan saat Kakak berusaha men-carter sebuah carry. Karena lama sekali, akhirnya Ibu menyusul Kakak. Nicun duduk dan aku masih terbaring menahan sakit. Kini aku sudah terbiasa dengan rasa sakit itu. Sudah tidak ada rengekan, aku diam terpejam. Lebih tepatnya, rasa sakit itu tertutupi karena mendengar perbincangan atau mungkin lelucon para petugas RS di teras bagian dalam. Nicun sepertinya tidak paham karena perbincangan itu dalam bahasa Madura.
“eh, beneran pasien itu mau dibawa pulang?” kata salah seorang dari mereka.
“iya, katanya,” sahut yang lain.
“memangnya dokter sudah memberi motivasi?” yang lain lagi bertanya. (itu yang mereka sebut motivasi? Bukannya menakut-nakuti?)
“sudah, tapi bebal.”
“bagaimana katanya?”
“ya, sayang, masih umur 20 tahun, belum nikah, tangan kanan pula. Ditambah lagi, kemungkinan cacat dan tidak bisa bergerak leluasa seperti ini, cuma bisa seperti ini.” Kata seseorang yang sepertinya memperagakan sebuah gerakan.
“oh, jadi begitu? Kalo gitu ntar pas dia sembuh jago dong gerak jalannya tuh orang, hahaha.” ketiganya cengengesan bahagia atau mungkin puas dengan leluconnya.
Allah, terima kasih atas anugerah pendengaran yang engkau berikan pada hamba. Hei, namaku Lutfiyah, aku bisa mendengar, melihat meski dengan mengintip karena terbaring dan aku menyukai lelucon. Tapi tidak dengan lelucon kalian. Aku justru muak mendengarnya, membuatku lebih kuat menyembunyikan rasa sakit. Perlu ku perjelas, accident tadi, Alhamdulillah, hanya membuat lenganku patah, tidak dengan yang lain. Satu lagi, umurku belum genap 20 tahun, hanya saja aku diam saja saat ditanya perihal umur karena lebih memilih menahan sakit sebelumnya. Allah, kenapa mereka sampai hati membuat lelucon semacam itu? Engkau bahkan tidak pernah menyakiti hati hamba-Mu ini.
“Lut, Buk, aku balik ke kampus dulu ya,” Nicun pamit padaku dan Ibu.
“makasih banyak ya, Cun.”
“makasih, Nak. Hati-hati ya.”
Sudah ba’dha dzuhur saat Nicun kembali ke kampus dengan menyetop angkot. Kasihan sekali dia, padahal kuliah pertamanya pukul 10:40 WIB. Aku benar-benar sampai lupa akan hal itu.
***
Hampir empat jam aku menahan dan meringis kesakitan hingga sekitar pukul 12:30 WIB angkot carteran yang akan menghantarkanku ke tempat sangkal potong akhirnya datang dengan Pakde yang membantuku masuk, memegangi lenganku, Ibu dan Kakak perempuanku duduk dibelakang, sementara Kak Wahed menyusul kami dari belakang dengan mengendarai sepeda motor. Kami pun ahkhirnya meninggalkan tempat yang begitu bagus karena baru-baru ini direnovasi itu, katanya.
Dalam perjalanan, sopir menyetir dengan amat hati-hati. Aku dan Pakde memegangi lenganku yang patah. Sedangkan yang lain terlihat cemas.
***
Syukurlah, kami tiba disebuah rumah yang bagus, namun sederhana karena temboknya masih belum dilapisi, lantainya masih tanah, langit-langit belum terpasang, tapi terlihat kokoh karena masih baru. Aku dan semua orang melangkah memasuki area rumah untuk kemudian menunggu disebuah ruangan karena Abah---begitu panggilan untuk beliau---sedang mengambil pakan rumput untuk ternaknya, menandakan aku masih harus menahan sakit. Saat pertama kali melangkah sambil menatap rumah itu aku sempat bergumam dalam hati sambil memegangi lenganku: Allah, disinikah tempat perantara dari-Mu untukku sembuh. Semoga tempat yang tepat.
Beberapa saat kemudian datanglah seorang laki-laki paruh baya dengan rokok yang masih berasap. Setelah berbincang ini itu, melihat hasil rontgen lenganku, terpancar semangat optimisme sembuh dari raut wajah yang kusimpulkan ialah sang abah. Sungguh ber-cateris paribus *eh maksudku berbanding terbalik dengan gedung yang begitu bagus sebelumnya, namun hanya aroma pesimisme tengik yang kami dapatkan.
Seusai merencanakan, menyiapkan sebagainya, akhirnya perban dan kardus yang membalut lenganku sebelumnya dibuka, untuk kemudian dipijat berkali-kali, diolesi minyak, dan hei, sudah tidak sakit lagi. Hanya sedikit nyeri dan tulang yang rasanya menggantung. Kemudian tanganku dililit, dibalut dengan kayu khusus agar tulang tidak bergeser, selesai. Abah menyarankan untuk mengkonsumsi kuning telur ayam kampung mentah setiap hari dan kembali rutin ke tempat pengobatan itu.
Kami pun pulang…

Note:
*catatan ini diketik menggunakan tangan kiri pada tanggal 28 hingga 31 Maret 2016, hehe.
*eh btw, Bapak mana? Dimanaaa? Katanya Bapak jatuh pingsan. Aduh… Maafkan anakmu ini ya, Pak.
*setelah kejadian ini aku bertanya pada diriku, kenapa ga dari dulu belajar nulis Pake tangan kiri ya?
*ana salah mengambil tas. Setelah dibuka kenapa ada jarum suntik dsb? Ternyata tas petugas.
*aku rindu sekali kuliah, tugas2, kelompok, jurnal, dll. Meskipun tugas membuatku hampir tidak pernah nonton TV tapi aku tetap rindu.
*semenjak kuliah, jarang sekali aku absen karena hampir tidak pernah sakit. Karena aku percaya, kadang semua hanya soal sugesti.
*Jangan suka suudzan spt saya saat melihat RS dan beberapa penghuninya :)
*saya banyak meyusahkan orang, khususnya keluarga. semoga mereka mendapat pahala yang tiada tara. Aamiin..
*Doa kalian sangat berharga. doakan yang terbaik untuk saya. bukankah sesama muslim itu bersaudara?


*Ma ashoba min musibatin fil'ardi wala fi anfsusikum illa fi kitabin min qobli annabroaha : tidaklah terjadi segala peristiwa yang terjadi di muka bumi dan di dirimu kecuali sudah dicatat oleh Tuhan sejak lima puluh ribu tahun sebelum tercipta langit dan bumi. Surah Al-hadiid, yang saya lupa ayat ke berapa. Hehe..

0 komentar