Petuah Ibu Kartini

Bangkalan, 16 November 2015
Sulit dipercaya, malam ini aku naik motor begitu jauh. Hal itu muskil bukan karena aku baru belajar bersepeda motor namun karena ijin bapak yang muskil ku dapatkan. Untung saja bapak sedang bekerja. Diperjalanan aku masih belum percaya bahwa angin dingin yang menerpa wajahku itu nyata, aku juga sangsi kalau kendaraan yang berseliweran itu nyata, motor yang kutunggangi, bahkan diriku sendiri. Apakah aku nyata?
Dahlan kecil pernah mempunyai impian untuk bersepeda kesekolah supaya lebih efisien sehingga waktu yang lain itu dapat digunakan untuk kegiatan bermanfat lainnya.
Aku sendiri seringkali menyusun-nyusun kata-kata permohonan pada bapak. Seperti:
‘’ayolah pak, anakmu ini sudah pandai menjaga diri. Bahkan lebih pandai dari seekor tupai”
Atau:
‘’pak, saya janji saya tidak akan ngebut. Hanya 0 Km/Jam! *eh”
Atau kalimat yang dianjurkan temanku:
‘’pak, saya ingin menjadi mahasiswa seutuhnya, ingin belajar organisasi. jika saya tidak dijinkan ngekos. Maka ijinkanlah sayaaa…’’
Namun, kata hanyalah kata, kalimat hanyalah kalimat. Semua itu seakan tertelan begitu menghadapi bapak. Bukan karena beliau akan marah, mengamuk, lantas berteriak sampai memekakkan telinga. Bukan! Tapi wajah muram beliau telah menerjemahkan segalanya. Aku tahu beliau akan ketar ketir Karena kuatir. Seringkali pernyataan bapak--untuk mengantar dan menjemputku saja-- membuatku merasa bersalah. Sungguh, meskipun aku sering sekali menyusahkan orang lain, namun aku sangat membeci hal itu. Maka dengan segenap hati aku tolak tawaran yang satu itu mentah-mentah. Ya, mentah-mentah, tanpa dimasak. Padahal aku senang sekali memasak. Eh, senang memasak bukan berarti jago memasak. Jago? Emangnya ayam? Nahloh, kok jadi kesitu?!!!
intinya, akan aku jalani hidup ini apa adanya. Akan aku terima. Toh hidupku tak sesulit para pendulang timah di belitong. Toh bapak tidak marah walau aku sampai malam hari di rumah. Hebat betul kuliah itu! Omong-omong apa saja yang telah ku dapat ya? Toh aku hampir selalu mendapatkan apa yang aku inginkan. Maka, akan aku terima dengan lapang.

Tapi ijin dari ibu yang meluap-luap meski tak dapat dipungkiri beliau juga khawatir --walau tak se-over protektif bapak—seringkali menggodaku.

Maulidin teman SD-ku, prodi ilmu hukum, jarak rumah kami dekat dan dia boleh berspeda motor. Hahaha..

Rohman adikku, masih kelas enam SD dan bapak membolehkannya bersepeda motor ke sekolah. Heufh!

‘’Habis gelap terbitlah terang’’ petuah Ibu Kartini menari-nari dikepalaku.

NB: Ambillah pesan penting dari oretan ini, kalo ga ada ga usah dipaksain. Masih banyak hal penting lain!

0 komentar