Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
Salam hangat untuk semua shobat disana (kayak ada yang baca aja, hehe). Meski agak terlambat tetap aku
harus membuat entri ini. Lumayan buat nambah entri. Semoga bisa menjembatani
silaturahmi antara saya dan shobat semua. Bisa membuat shobat lebih mengenal
pemilik blog ini. Karena pepatah yang begitu terkenal mengatakan: tak kenal
maka tak sayang. Selamat membaca! Need critic and suggestion! ^_^
Zahra.
Zahra sebenarnya adalah sosok yang aku kagumi dalam film Children
Of Heaven asal Iran tentang dua
kakak beradik yang memiliki masalah sepatu. Meski Zahra hanyalah seorang
adik dari Ali tapi aku sangat menyukai sifatnya dalam film itu, kala aku masih
kecil. Itulah alasan
mengapa aku menyematkan Zahra sebagai nama penaku. Mereka
adalah anak-anak yang tidak suka merepotkan kedua orang tuanya, dan yakin bahwa
di setiap masalah pasti akan menemukan jalan keluarnya.Aku juga sering
menyematkan nama Zahra di beberapa akun sosial media-ku. Aku berharap bisa
menjadi sosok Zahra yang kuat menjalani hidup. Zahra sendiri berasal dari
Bahasa Arab yang artinya bunga.
Demi Allah yang jiwaku ada dalam
genggaman-Nya. Aku hanyalah seorang
hamba. Hamba Allah yang penuh khilaf dan dosa. Terus berusaha mencari
keridhaan-Nya. Demi kebahagiaan dunia dan kebahagiaan yang hakiki di
akhirat. Meski tak dapat dipungkiri datangnya godaan yang seringkali
berkelebat. Semoga Allah membimbingku, menjauhkanku dari yang namanya maksiat.
Aamiin~
Aku hanyalah manusia. Tak sempurna. Sering khilaf dan penuh
dosa. Menapaki kaki dengan meraba. Tak ada yang istimewa. Bagiku satu hal yang
membuatku berbeda dengan saudaraku. Yakni, tak pernah mendapat peringkat satu.
Mungkin bagi sebagian orang itu sederhana. Tapi keadaan itu cukup membuatku
merana. Hingga aku merasa berdosa pada kedua orang tua. Meski Ibu tak pernah
menuntut. Untuk bisa membaca dan menulis saja baginya sudah cukup. Begitu pula
Ayah, namun dapat ku baca raut kekecewaan Ayah yang tak mengenakkan kalbu.
Tetap saja, walaupun aku sudah merasa bersalah aku tak
belajar dengan keras demi keinginan itu. Mungkin karena aku masih kecil, jadi
rasa itu meluap bersama gelak tawa saat bercanda bersama teman – teman. Hingga
akhirnya aku duduk di bangku menengah atas, aku berusaha mewujudkan keinginan
itu. Demi Ayah dan Ibu. Sebuah pemahaman dalam pembelajaran bagiku adalah kerja
keras dan perjuangan. Meski tak bisa di bilang secuil usaha yang kulakukan itu
adalah kerja keras dan perjuangan. Menghantarkanku ke posisi kedua di kelas.
Aku belum bisa mewujudkannya!
Memang benar pendapat Ibu bahwa nilai bukanlah segalanya.
Jangan menuhankan nilai! Begitu mungkin maksud beliau. Namun bagiku selain
untuk kedua orang tua, justru nilai itulah bukti pada tuhan! Bahwa hamba-Nya
menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Meski yang terpenting adalah
implementasinya, pengamalannya.
Aku tak memilki keistimewaan. Hobiku hanya menonton TV. Tak
suka menulis, apalagi membaca. Entah apa kemampuanku. Saat kecil aku
seringkali menggambar di waktu luangku. Ya, agaknya aku menyukai seni. Meski
gambarku layaknya cakar ayam tapi aku senang menjalani hobi itu hingga kini.
Bedanya, kini aku menggambar di aplikasi elektronik, mengedit foto, dll. Aku
bilang aku tak punya keistimewaan. Ah, bukannya setiap orang pasti memiliki
kesitimewaan. Kelebihan di balik kekurangan. Hmm.. hanya saja mereka
menemukannya dalam waktu yang berbeda. Seberapa pandai mereka menggalinya,
katanya. Hobi menonton TV-pun kini telah sirna. Acaranya benar-benar semakin
tak layak tonton. Aku harus merelakan hobi yang satu itu. Terlebih aku
disibukkan dengan tugas kampus. Bukan berarti semenjak kuliah aku tak menonton
TV. Bukan. Sesekali aku hanya menonton beberapa menit acara yang masih aku
suka. Seperti ILK, Stand Up Comedy, Metro TV News, dan Khazanah.
Kini aku masih semester dua di Universitas Trunojoyo
Madura. Namun aku masih belum menemukan potensi yang utama dalam diri. Jujur,
aku memang punya banyak hobi sejak lama. Aku suka memasak, menggambar, menyanyi
meski cempreng, dan hobi yang paling aku suka sejak kecil adalah bersepeda
menikmati panorama alam. Sepertinya hal ini beralasan. Golongan darahku B. Aku
pernah baca tentang kecenderungan sifat golongan darah B. Salah satunya bahwa
mereka memilki banyak hobi sehingga cenderung tidak dapat memaksimalkannya.
Seperti halnya hobi, aku juga bingung menentukan cita –
cita. Dulu. Sekarang pun masih. Bagaimana tidak, kadang aku memutuskan ingin
menjadi dokter, guru bahasa inggris, chef, arsitek, penyanyi, pengusaha,
reporter, ahli gizi, bahkan pengamat politik. Selalu berubah – ubah. Tapi aku
tak ambil pusing. Tugasku sekarang hanyalah belajar, belajar dan belajar.
Wiih.. sampai di ulang – ulang kata belajarnya. Walau begitu sulit bagi orang
sepertiku tapi semoga menjadi doa. Cita – cita yang baru saja aku rangkai
adalah menjadi seorang penulis. Ah, semut saja sampai tertawa mendengarnya.
Padahal belum aku lontarkan ide yang satu itu. Rupanya jenis semut peramal.
Bagaimana bisa orang yang tidak suka membaca dan menulis
bisa menjadi seorang penulis. Ya, itulah aku dengan sejuta ide konyol. Baiklah
akan aku ceritakan kenapa ide itu muncul. Dari dulu, dulu sekali sejak aku
masih duduk di bangku SLTP, MTs lebih tepatnya. Aku diam – diam memiliki
keinginan untuk bisa membuat puisi. Keinginan itu terkubur hingga aku lulus
SLTA, alias MA. Bangor begini aku juga disibukkan dengan
tugas hingga lupa dengan keinginan lain. Lalu adikku sering menceritakan teman
- temannya yang pandai membuat karya sastra. Aku terpana. Kutanyakan
bagaimana bisa. Tentu saja mereka banyak membaca, jauh berbeda denganku.
Temannya merekomendasikan sebuah novel pada adikku sebagai pemula. Adikku
memberitahukannya padaku. Ingin segera aku membeli novel itu, namun uangku jauh
dari cukup.
Keesokan harinya aku iseng mencari e-book novel itu di
internet. Dan walaaa.. ternyata ada. Bahkan bukan cuma satu novel, tapi tujuh
novel sekaligus dengan penulis yang sama. Aku senang tak alang kepalang. Segera
ku unduh semuanya dengan bersemangat. Namun pesan di akhir weblog itu membuatku akan kecewa. Begini
bunyinya: ‘’Saya sarankan anda
beli saja novelnya, karena ebook ini bikin mata panas.’’ Aku tak menghiraukannya setelah itu.
Singkat cerita aku membaca novel – novel itu. Karena keterbatasan waktu aku
hanya bisa mebaca empat novel saja. Novel itu sangat cocok denganku, orang yang
tak pernah membaca novel.
Dahsyat betul efek novel itu. Tiba – tiba saja di kepalaku
muncul kosa kata yang kemudian terangkai menjadi kalimat, lalu paragraf. Meski
belum bagus aku coba saja mengarang cerita. Malah dengan nekatnya aku bertekad
membuat novel. Membuat novel! Indah bukan buatan kalimat itu. Kebetulan saat
itu hampir dua bulan kampus libur. Setelah menamatkan empat novel itu aku mulai
mencoba mengarang novel. Meski urak – urakan aku membuat novel dengan tanganku
sendiri. kalimatnyapun masih begitu sederhana. Tapi tekadku sudah bulat kala
itu. Tak kurang dari empat puluh halaman oretan yang berhasil ku buat. Menahan
panasnya sinar monitor yang menguji mata. Kakak dan kakak iparku menyarankan
untuk aku mengirimkannya ke redaksi. Tapi akau belum yakin. Aku masih harus
meng-edit-nya lagi. Namun sekali lagi karena keterbatasan waktu, aku
selalu menunda untuk merealisasikannya. Ternyata artikel itu ada benarnya juga!
Selain kakak, kakak ipar, dan kakak perempuanku yang
mendukung supaya aku mengembangkan bakat itu (kayak ada aja bakatnya, hehe), teman kampusku juga mendukung. Mereka
menawarkan diri menjadi editor.
Alasan mereka berpendapat begitu karena katanya mereka membaca status di socmed-ku. Aku hanya menjawab
dengan apa adanya ‘’Haduu..
aku tak punya bakat, tak punya latar belakang sastra, tak suka membaca,
bagaimana bisa menulis…hehe.’’ Mereka
terus saja mendukungku. Aku sangat bersyukur dikelilingi orang – orang
seperti mereka.
Lebih dari itu aku masih memiliki banyak tugas. Salah
satunya menjadi mahasiswi seutuhnya. Sampai saat ini belum bisa. Bagiku,
mahasiswi utuh itu yang bagus ketaqwaannya, kebaktiannya pada kedua orang tua,
kasih sayangnya pada saudara, selalu penasaran menggali ilmu, dan bisa
mengamalkannya. Dan yang paling penting adalah ikhlas mengerjakannya karena
Allah swt. Aduhai indah tak terperikan seorang mahasiswi yang utuh itu!
Secuilpun rasanya aku belum termasuk. Namun aku akan terus berusaha untuk itu.
Shobat, aku hanyalah sosok manusia yang gugup menatap masa
depan. Masa depan di dunia apalagi di akhirat. Tapi aku tak boleh mendahului
takdir, karena hasil tak ‘kan menghianati proses! Bismillah..
0 komentar