If you ask me about love..

Bangkalan, 19 Januari 2015               

‘’Don’t find love, let love find you. That’s why it’s called falling in love, because you don’t force yourself to fall. You just fall…’’

~Anonymous~
****
        Cinta itu apa sih! Di umurku yang setahun lagi insyaallah sudah kepala dua ini aku masih belum mengerti apa itu cinta. Cinta? Cinta itu fitrah. Perasaan suci yang di anugerahkan sang Illahi di setiap kalbu manusia. Cinta merupakan ibarat kecondonganhati terhadap sesuatu yang amat terasa keindahannya.Kalau condongnya hati terlalu kuat, artinya sudah sampai pada tingkat rindu, rasa itu mampu membawa seseorang menjadi budak bagi yang dicintai, bahkan membelanjakan semuanya demi yang dicintai. (Mukasyafatul Qulub -  Imam Al-Ghozali)

        Lalu cinta apa yang aku bingungkan? Cinta pada Allah maksudnya? Bukan! Kalau cinta pada Allah aku sedikit tahu. Intinya, dengan mengerjakan perihntah-Nya dan menjahui larangan-Nya dengan hati yang ikhlas karena-Nya. Maka itu yang disebut mencintai Allah. Namun, cinta yang ku tanyakan disini adalah bagaimana rasa cinta yang sebenarnya pada sesosok manusia atau lawan jenis. Seperti apakah cinta yang tulus dan sejati?

      Tentunya rasa cinta tidak akan timbul jika seseorang tidak terlebih dahulu jatuh cinta. Pertanyaan lain mncul, jatuh cinta seperti apa yang murni dari hati nurani?

         Demi Allah, Tuhan yang nafasku berada dalam genggaman-Nya. Aku benar – benar merasa kebingungan dengan pertanyaan yang ku buat sendiri dalam pikiranku. Jangan tanya kenapa pertanyaan – pertanyaan itu muncul. Karena aku sendiri tak dapat menjelaskannya.


         Kini kita bahas mengenai jatuh cinta terlebih dahulu. Bagaimana bisa disebut jatuh cinta yang sebenarnya dan bukan sekedar aplikasi murahan dari hawa nafsu. Apa jatuh cinta itu seperti yang sering teman – teman ceritakan padaku. Bermula saat mereka bertemu, saling memandang, kemudian tersenyum, saling bertukar nomor handphone, dan lama kelamaan temanku itu JATUH CINTA. Begitu pula sang pria pada temanku. Merekapun saling mencintai katanya. Atau cerita temanku yang lain yang hampir sama. Awalnya ia mengagumi seseorang karena ketampanannya, bersikeras mendapat nomor handphone-nya, kemudian saling berkomunikasi, dan akhirnya saling mencintai. Atau cerita – cerita lainnya yang jujur, masih belum dapat menjawab pertanyaanku.


         Dari cerita itu dapat ku simpulkan bahwa bagi mereka jatuh cinta itu dari mata yang memandang, kemudian hati yang merasakan. Seperti ungkapan yang berbunyi: cinta itu dari mata turun ke hati. Dengan kata lain mereka mencintai karena melihat FISIK terlebih dahulu. Ya, salah satunya bisa dibilang seperti itu. Menurut anggapanku---orang yang lemah ilmu pengetahuannya ini---jatuh cinta karena melihat fisik terlebih dahulu itu tidak murni dari hati nurani.

         Dulu aku pernah membaca status teman socmed-ku yang isinya begini: nafsu mengatakan perempuan cantik atas dasar rupanya, akal mengatakan perempuan itu cantik atas dasar ilmu atau kepintarannya, dan hati mengatakan perempuan itu cantik atas dasar akhlaknya. Status yang ditulis tanpa sumber itu membuatku merenung dan menyimpulkan satu hal. Yakni, bahwa cinta yang datangnya tulus dan murni dari hati itu karena kita melihat akhlak atau ketaqwaan seseorang. Ya, mungkin itu salah satunya pikirku. Lalu yang lain? Tak lain karena cinta yang Allah berikan dengan cara – cara-Nya sendiri. cara – cara yang tak pernah kita ketahui yang kemudian membuat rasa cinta tumbuh dalam hati manusia.

         Lalu harus bagaimanakah seorang hamba yang baik membawa cintanya? Mungkin bila ia sudah siap dalam segala sisi, si pria akan mengkhitbah dan mereka akan segera menikah, membangun mahligai rumah tangga sesuai syariat-Nya. Namun bagaimana jika terjadi pada anak remaja yang belum siap dalam segala sisi untuk ber-ta’aruf apalagi menikah. Bagaimana mereka meluapkan rasa cinta masing – masing? Apa dengan berpacaran yang memang sudah lumrah terjadi!!! Toh, pacaran ada juga yang membolehkan bila dengan cara yang islami. Islami seperti apa yang anda maksud? Jika jelas – jelas termaktud dalam kitabNya bahwa memandang saja tak boleh. Apalagi berdua – duaan dan bersentuhan. Naudzubillahi min dzalik…

         Baik, jika kita berpacaran islami dengan cara tidak pernah memandang, berdua – duaan, apalagi bersentuhan. Kita hanya berkomunikasi lewat handphone untuk saling memberitahukan kabar atau saling menceritakan kerinduan. Lalu bagaimana dengan apa yang dimaksud dengan zina hati? Kebetulan aku pernah membaca sedikit tentang hal itu baru – baru ini. Ah, rupanya aku benar – benar penasaran dengan konsep cinta hingga terlampau sejauh ini. Hehe..

         Merealisasikan cinta dengan berpacaran agaknya memang bukan jalan yang benar shobat. Shobat bisa membacanya di Al-Qur’an tentang larangan mendekati zina. Zina sangat menyeramkan hingga mendekati saja tak boleh. Berpacaran adalah salah satu jalan untuk mendekati zina. Itu menurut sedikit pemahamanku. Namun jika shobat ingin berpacaran secara islami, dapat mengatasi meski sekedar zina hati, dengan cara yang sedikitpun tak menentang ajaran illahi. Monggo… aku tidak mempunyai wewenang untuk melarang. Bahkan aku akan bertanya bagaimana caranya. Maklum, pengetahuan agamaku masih begitu dangkal.

         Merealisasikan cinta dengan berpacaran. Pacaran yang lazimnya kita ketahui saat ini. Saling bertemu, berpegangan, dan lain sebagainya jelas – jelas sudah dilarang. Mereka bilang itulah cara mereka mengungkapkan rasa cinta yang tulus dari hati. Suci dan murni. Allah melarangnya, dan Allah mengetahui apa yang terbaik untuk hamba – hamba-Nya. Ada rangkaian kalimat dalam salah satu novel karya Taufiqqurrahman al azizy yang agaknya berhubungan dengan anggapan bahwa dengan berpegangan, dan sebagainya mereka telah meluapkan cinta suci mereka. Dalam novel ini di jelaskan bahwasannya cinta yang suci adalah cinta yang tidak merusak kesucian dari cinta itu sendiri dengan melakukan hal – hal yang dilarang-Nya. Mereka yang mencintai dengan tulus dan sejati justru akan menjaga kesucian cinta mereka. Mereka yang yang mencintai dengan tulus dan sejati tidak akan mengajak yang di cinta melakukan kemaksiatan.

         Kembali ke pertanyaan awal. Bagaimana kita sebagai remaja harus membawa cinta yang sudah terlanjur tumbuh, yang menurut kita merupakan cinta yang tulus dari hati. Saya dipaksa membaca beberapa oretan untuk menjawab hal itu. Ada satu jawaban yang kembali membuant saya merenung. Yakni ‘’cinta dalam diam’’. Ya, saat kita mencintai hendaknya kita mencintainya dalam diam. Kita hanya mengutarakannya pada cinta sejati kita, Allah swt. Karena sekali lagi, Allah mengetahui apa yang terbaik untuk hamba – hamba-Nya. Aku jadi teringat kembali kalimat dalam novel karya Taufiqqurrahman al azizy “Diam adalah bahasa cinta yang paling dalam, paling halus, dan paling lembut’’.

         Jadi, dapat kita pahami sebagai remaja bahwasannya kita dapat membawa cinta yang sudah kita yakini tulus dan sejati adanya---karena Allah---dengan dua pilihan. Pertama, anda membuat komitmen (pacaran) dan doi dengan tidak menyalahi sedikitpun aturan Allah hingga membangun rumah tangga. Meski menurutku itu sangatlah tidak mudah. Sampai saat ini aku belum tahu pasangan yang bisa seperti itu. Yang aku tahu adalah tak ada pacaran dalam islam alias dilarang keras lantaran disebut sebagai gerbang menuju kemaksiatan. Wallahu a’lam. Manusia tempatnya khilaf dan dosa. Semoga Allah swt selalu menunjukkan jalan yang benar bagi kita semua, Aamiin~


         Kedua, mencinta dalam diam hingga Allah mempertemukan kalian dalam keadaan yang terbaik dimata kalian dan Allah. Jika memang cinta dalam diam kita tidak menjadi jodoh kita, berarti Allah akan memberikan jodoh yang lebih baik untuk kita. Insyaallah, orang baik akan mendapatkan jodoh yang baik pula. Mencintainya dalam diam karna Allah. Karena kita sama – sama mencintai Allah, cinta sejati kita, cinta yang paling suci, cinta diatas segalanya.


         Pasti ulasan di atas masih belum bisa menjawab pertanyaan shobat sekaligus yang juga merupakan pertanyaanku ya. Mohon maklum, itulah pemahamanku yang masih begitu sedikit. Kalau boleh jujur, kebingungan akan konsep cinta seorang manusia kepada manusia lain (lawan jenis) masih ada dalam pikiranku. Menandakan bahwa aku masih harus membaca banyak literatur yang akurat. Walaupun rasa malas seringkali kumat!


’’If you ask me about love, and what I know about it my answer would be. It’s everything about Allah. The pure love to our souls. The creator of you and me…’’

~ Maher Zain-Always be there ~
Made on 25th of April 2015






0 komentar