Ternyata Jambret Memang Betulan Ada, Hahaha
Sejak membaca novel Andrea Hirata, aku terbiasa meluapkan emosi dan apapun itu dengan menulisnya. Di samping agar kapasitas folder di pikiranku tidak terlalu penuh dan lebih lega, barangkali akan ada pesan baik yang bisa orang petik. Meski pada akhirnya hanya bercerita saja. Hehe.
_______
Hari Sabtu, aku biasanya libur mengajar, namun tidak untuk kemarin karena aku diminta untuk meng-handle kelas training. Tidak ada firasat apapun. Aku seperti biasa berangkat dengan hati yang lapang. Pekerjaan ini seperti bukan pekerjaan, karena aku, alhamdulilah, menyukai apa yang aku jalani ini: mengajar dan bahasa Inggris. Bahkan sepatu yang aku pakai sudah dicuci bersih. Itu artinya aku sangat niat mempersiapkan semuanya.
Pada saat kelas sedang break atau istirahat, seorang murid berinisial H menghampiri kami di kelas. Aku paham dia ingin praktik bahasa Inggris. Dan aku sangat senang menemui orang-orang, siapapun itu yang semangat ingin praktik. Sebab aku pun tengah belajar. Dia bukan peserta training, melainkan member kelas umum. Jadi hari ini kelasnya libur. Namun beberapa memang tetap stay di kursusan.
Sembari mengobrol, aku sesekali menulis kosa kata baru di papan, yang bisa muridku itu ingat kembali. Dalam obrolan, ia menceritakan pengalaman-pengalaman pahitnya beberapa waktu terakhir. Salah satunya, saat ia diuji dengan kehilangan dompet berisi uang jutaan, KTP dan "kartu-kartu" penting lainnya. Pada akhir cerita, aku benar-benar tidak tahu harus berkomentar apa, sebab memberi nasihat itu gampang, tapi bagaimana jadinya jika kita ada di posisi tersebut. Namun untuk menutup percakapan, aku harus memberi semacam last statement, hingga akhirnya muridku mengingatkan aku untuk sholat dhuhur. "I don't know what I have to say, tapi sungguh Allah nanti akan ganti dengan yang lebih banyak dan lebih baik, ya. Berkali lipat. Semoga segera berangkat dan berkerja juga ya." Kataku, kurang lebih, kala itu. Dia pun mengamini.
_______
Usai melanjutkan kelas training, sekitar pukul 15.15 WIB aku bergegas pulang. Lagi-lagi, tak ada tanda-tanda apapun. Atau mungkin aku saja yang kurang peka. Aku mengendarai motor sambil sayup-sayup melantunkan sholawat. Bukan karena alim, tapi lebih karena aku paham betul manfaatnya begitu dahsyat, untuk diriku sendiri bukan orang lain. Saat itu, di sekitar Tangkel, Burneh kondisi jalan ramai, aku mengendarai motor dengan pelan. Tak biasanya aku berkendara sepelan itu. Saking pelannya seperti saat menyetir kala hendak berhenti membeli sesuatu.
Tanpa babibu, dengan sholawat yang masih kulantukan. Aku bertanya dalam hati, "Tasku nyangkut kemana?" Betul, saat pertama kali ditarik, tas yang posisinya ada di depanku aku kira menyangkut ke sesuatu, tapi "Apa?!" pikirku. Sebab sungguh, meski aku tahu di dunia ini tak hanya ditempati orang yang baik, namun aku selalu percaya bahwa semua orang itu baik. Jarang sekali aku bertemu orang jahat. Itulah yang membuat aku mengira, orang jahat sudah punah. Belum lagi, aku dibesarkan untuk berusaha tidak punya pikiran buruk pada orang lain. Jadi aku tidak pernah mengira akan menjadi korban penjambretan. Bahkan, meski sudah banyak cerita dimana-mana, aku kadang tak percaya jika jambret itu memang betulan ada. Hahaha.
Si jambret menarik tasku dua kali. Ditarikan kedua itulah aku akhirnya sadar bahwa aku sedang dihadapkan dengan orang jahat. Aku benar-benar membeku seperti es batu. Gagap seketika. Seolah terhipnotis. Aku tak memiliki gerak refleks memegang tasku saat tarikan pertama bahkan kedua, karena pikiranku benar-benar tidak mampu mencapai itu. Yang ku sadari saat itu adalah, tasku ternyata betul-betul ditarik, diambil dan orang itu ngebut. Sedetik aku melihat tasku seolah melayang di depan mataku. Benar-benar lucu. Slow motion effect seperti di film-film. Kurang aj*r memang!
Sedetik itu pula yang aku pikirkan hanya satu: ngebut mengejar si jambret. Maka betul, itu yang aku lakukan kemudian. Padahal Gusti, kondisi jalan amat sangat ramai. Si jambret saja sampai kelihatan bingung menemukan celah untuk menambah kecepatannya, untuk lebih ngebut lagi. Entah seperti apa diriku kala itu, klakson ku sudah pasti berbunyi bising sekali. Aku tidak membenarkan perilaku ngebut di jalanan, sebab selain membahayakan nyawa kita, itu juga akan mempertaruhkan nyawa orang lain. Namun entah apa yang aku pikirkan kala itu. Aku seolah memiliki nyawa cadangan, tak mau kalah ngebut, mengejar si jambret sial*n itu.
Sampai akhirnya di pertigaan Nyiorondung, si tengik itu (hehehe) buru-buru belok kanan. Usai berhasil menyebrang, aku sempat meminta bantuan pada dua lelaki yang berusia sekitar 35 tahun. Tampilan beliau-beliau bersih dan terlihat terpelajar. Mereka sedang menggenggam handphone-nya masing-masing. Saat itu, aku benar-benar seperti tidak bisa berbahasa Madura, semua dialog dalam cerita ini berbahasa Indonesia. Karena memang itu kenyataanya. Aku lupa berbahasa Madura seketika. "Pak, tas saya dijambret tadi. Jambretnya kabur ke sana". Sambil menunjuk ke jalan yang melewati Ponpes Nurul Amanah itu. Berharap mereka akan membantu. Namun ternyata mereka tidak antuasias sama sekali. Dan aku tidak mau menyalahkan, mungkin sedang sibuk dan menunggu seseorang. Sedetik kemudian aku berpikir dan mengambil keputusan: "Aku tidak mau berharap pada manusia. Aku tidak mau mengandalkan orang lain. Aku akan mengejar jambretnya sendiri. Aku hanya bergantung pada Allah. Satu-satunya dalam hidup yang bisa aku harapkan. Tempat aku bersandar!"
Tanpa berpikir panjang aku tancap gas, meng-klaksoni setiap kendaraan yang menghalangi jalanku. Haduh! Aku tidak paham berapa kecepatan ku kala itu. Yang jelas cepat sekali. Padahal jalan di situ jelek bukan bualan. Lagi-lagi, nyawaku seolah dalam sebuah game. Masih ada cadangan yang tersisa jika aku kehilangan satu. Seolah juga aku memiliki skill bela diri saja untuk rencana B nantinya. Yang jelas sembari tancap gas lagi, aku tidak punya rencana apapun, pikirku hanya begini sambil bersholawat dan membaca bismillahilladzi Laa yadhurru ma'asmihi syai'un fil ardhi wa laa fissama' wahuawas sami'ul alim dengan mantap di dalam hati: "Demi Allah, aku yakin aku akan mendapatkan jambretnya. Ada Allah, ada Allah, ada Allah. Allah bersamaku. Aku akan temukan jambretnya. Titik."
Saat mengebut, ada seorang laki-laki yang barangkali masi berusia 18 tahun menyalip dan bertanya karena mungkin melihat aku yang ngebut, "Kenapa, Mbak? " Katanya. "Tas saya dijambret, Mas. Jambretnya ke sana, pakai baju biru (Sial*n, ngomong levis aja susah banget). Dia pun melesat jauh lebih cepat dariku, motor N-Max yang dikendarainya mungkin berpengaruh juga pada kecepatan. Saking ngebutnya, sampai si jambret terlewati. Tapi bukan salahnya, aku yang tidak memberikan info dengan detil, bagaimana sempat! Aku saja berkendara sambil gemetar saking kaget dan marahnya, bukan karena takut.
Batas Desa Pamorah dari arah utara ku lewati. Si tengik berhenti di jalan dengan (sepertinya) sungai kecil karena banyak timbunan sampah. Keadaan jalan benar-benar sepi. Hanya ada aku dan si jambret. Tapi aku senang bukan kepalang bisa menemukannya. Sebab awalnya, motornya yang melesat tidak dapat ku jangkau lari kemana. Dia terlihat panik dan buru-buru memasukkan tasku kedalam jok motornya, tepat saat dia berhasil menutup jok motor, muka hitam (bukan rasis, tapi memang hitam karena terlihat tidak pernah mandi, hahaha. Asli, seperti orang gila yang ditemui di jalan, kemudian dimandikan, dll kan nantinya berubah jadi bersih. Nah ini persis. Jadi warna kulit asli si pelaku ya sawo matang, bukan hitam. Amboi, bagaimana pula kita berharap ada jambret yang mukanya bersinar sebab sholat malam? Wkwkwk, tapai ongghu malah menganalisis muka si tengik. Maksudku, bukan karena aku marah lantas mengatai fisik, namun hanya mencoba mengingat ciri-cirinya. Baiklah lupakan. Hehe). Saat itu aku berhenti tepat di sampingnya, sungguh bod*h sekali aku. Aku betul-betul bingung harus berbuat apa, aku hanya berteriak, "HEYYY, TAS SAYAAAA!" sambil tangan kananku memegang bagian pegangan di belakang motor. Berharap dengan tangan gemetar dan tenaga yang tersisa tak seberapa itu bisa menahan tenaga kuda modern yang bisa melesat begitu saja. Aduh, orang bod*h macam apa itu!
Sementara itu, tangan kiriku masih memegang motorku sendiri. Benar saja, aku terpelanting, jatuh dengan motorku karena si tengik melesat tanpa aba-aba, tanpa ummi-ummi. Hihi, *jokes bapak-bapak. Dan dari utara, jarak sekitar lima meter akhirnya ada seorang bapak-bapak berusia 40 tahunan membonceng istrinya. Aku langsung, "Pak, tas saya dijambret, itu jambretnya!" Bapak itu langsung meminta istrinya untuk turun sebentar, kemudian beliau membantuku mengejar si jambret. Sementara itu aku sibuk mencoba menegakkan motorku yang jatuh tadi. Entah kenapa motor itu jadi terasa berat sekali. Aku jadi seperti orang yang lemas sekali, susah betul menegakkannya lagi. Belum lagi, di detik-detik genting itu aku disibukkan dengan rentetan pertanyaan si ibu-ibu, istri si bapak. Aku tidak menyalahkan, karena itu artinya beliau peduli. Namun yang tak kalah membuatku sibuk adalah saat terpelanting, sepatuku copot satu. Dan susah menggunakannya kembali jika hanya menggunakan satu tangan, entah kenapa susah sekali rasanya mengambil sepatu itu dan meletakkannya di jok depan. Aku hanya ingin menghemat waktu. Aku sudah kalah banyak dari si jambret. Waktuku sudah banyak tersita, meski agaknya tak sampai semenit, namun sungguh itu banyak sekali. Maka akhirnya, lagi-lagi aku sampai lupa berbahasa Madura, sambil setengah berteriak agar terdengar aku berkata pada si ibu-ibu, "Bu, saya nitip sepatu ya! " Dan wuuuuusssh, aku tancap gas lagi. Cadangan nyawa masih banyak? Bukan, bukan itu yang aku pikirkan. Memang harta, dokumen, KTP dll juga penting, namun yang utama pikirku kala itu adalah, "Pokoknya aku harus mendapatkan jambretnya. Titik. Harus diadili, supaya tak ada korban lagi."
Yang ku sesali, kenapa aku sangat bodoh. Kenapa aku tidak ku tabrakkan saja motorku ke motor si jambret, supaya kita sama-sama terjatuh sembari menunggu bapak yang membawa istrinya itu mendekat, lalu banyak orang menolong. Kenapa hanya ku pegang motornya seolah aku ini Hercules yang bisa menahan kuatnya tenaga kuda. Bodoh sekali. Sungguh, aku tidak bisa berpikir jernih. Aku juga tidak pernah mendapatkan pelajaran "Trial Hal-hal Penting yang Harus Dilakukan saat Menghadapi Jambret" saat di sekolah. Hehe. Aku bahkan tidak sempat melihat plat nomornya, meski itu juga bisa saja palsu. Aku juga bahkan tak bisa berteriak, "TOLONG, TOLONG, TOLONG!" layaknya acara di televisi dan dunia nyata yang lumrah dilakukan orang kebanyakan saat menghadapi musibah. Aku benar-benar gagap. Aku bukan wanita cerdas dengan refleks yang cerdas. Aku sungguh bingung harus berbuat apa. Aku terbiasa dilingkupi dengan orang-orang baik. Jadi tak pernah terpikirkan langkah apa yang harus aku lakukan jika mengahadapi situasi seperti ini. Namun hal-hal yang ku sesali dan pengandaian-pengandaian itu dilarang dalam agama, maka aku pun harus ber-ishtigfar atasnya.
_______
Si bapak-bapak mengejar jambret dengan kecepatan yang relatif tidak cepat. Aku tidak menyayangkan itu. Sebab aku akan lebih bersalah lagi jika nyawa orang harus melayang karena membantuku. Aku bahkan tak sempat berterima kasih karena harus buru-buru mendahuluinya mengejar kembali si tengik. Aku kehilangan jejak. Aku lalu bertanya pada pengendara lain, menyebutkan ciri-ciri yang tak banyak. Katanya si tengik belok kiri. "Aduh, pasti mau lari ke Surabaya dan melewati jembatan Shirathal Mustaqim, eh, Suramadu maksudnya," pikirku. Tapi aku tak mau menyerah dan masih melanjutkan pengejaran. Aku tidak peduli jika ibu-ibu tadi pulang terlebih dahulu dan tidak menjaga sepatuku. Aku masih punya sepatu yang lain.
Kondisi jalan saat itu ramai sekali. Karena kehilangan jejak, aku sempat berusaha menyebrang dan berhenti di stand usaha milik kakak-ku dan meminta tolong staff-nya untuk menghubungi kakak, barangkali sedang ada di rumah dan membantuku melakukan pengejaran. Namun jawabannya, "Bapak sedang belanja, Mbak." "Oh, gitu. Ya sudah, ngga papa, makasih ya, Dek." Aku lalu melanjutkan perburuan hingga jalan menuju jembatan Suramadu, sebelumnya di setiap warung, aku dengan polosnya mengecek satu-satu setiap orang yang mengendarai motor Vario Hitam. Menanyai satu-satu tukang parkir di jalanan. Bahkan remaja-remaja yang berusaha menyetop truk-truk besar masih sempat aku tanyai, ternyata mereka mau ikut habsyian, aku kira anak jalanan, anak-anak yang selalu ingin aku wawancarai. Ku tebak mereka semua masih SMP, dan mendapati mereka menyetop kendaraan dengan cara yang "barbar" seperti itu aku masih sempat berkata, "Hati-hati, Dek nyetop-nya. Makasih, ya, saya lanjut dulu" "Iya, Mbak. Iya, sama-sama."
Lanjut ke arah Suramadu, aku benar-benar kehilangan jejak. Seperti aku harus belajar menerima. Aku memutuskan untuk putar balik. Sembari masih melihat kanan-kiri semua pengendara. Ku duga mereka risih dan bertanya-tanya. Hasilnya nihil. Aku kembali ke lokasi setelah batas Desa Pamorah lagi, sambil sesekali berhenti menanyai siapa saja yang sedang nongkrong. Pada situasi sepeti itu, sifat pemaluku tiba-tiba serupa ditelan mentah-mentah oleh bumi. Benar-benar hilang, seperti tas itu. Aku juga kembali ke tempat aku menangkap basah si pelaku memasukkan tasku kedalam jok motornya. Nihil. Aku putar balik, sembari melihat jalanan, barangkali dompet berisi KTP, ATM, STNK dan kawan-kawannya di buang di sekitar sini. Tapi mana mungkin? Si tengik ku duga kuat lari ke arah Suramadu. Dan tasku didalam joknya, mana sempat dia buka saat itu juga. Mana sempat dia baca buku-buku catatan berisi Metode-metode Training yang belum sempat aku ketik ulang itu. Mana sempat dia mengambil pen lalu menulis agenda penjambretan selanjutnya. Mana sempat dia membuka dompetku, lalu melihat betapa banyaknya kartu-kartu penting yang ruwet sekali mengurusnya. Mana sempat dia menyemprot mukanya dengan hand sanitizer dan mengusapnya dengan tissue sebagai ganti tissue basah, supaya mukanya sedikit lebih glowing. Hehe, kalau yang ini memang rasis dan body shaming wkwkwk. *canda ✌
Aku lalu ke Tangkel, Burneh lagi, ke pos polisi, ingin bertanya pada Pak Polisi, baiknya apa yang harus aku lakukan. Pukul 16.54 WIB, pos polisi kosong melompong, namun banyak kendaraan di luar. Aku akhirnya menyerah dan pulang. Saat pulang, pikiranku kemana-mana. Ya, bagiku, aku selalu bisa memikirkan lima hal sekaligus dalam sekali waktu. Bahkan lebih. Jadi bisa dibayangkan bagaimana sesaknya pikiranku jika tidak menulis. Mungkin semua orang juga begitu. Sebab saat tas ku ditarik, dirampas, dijambak, dan melayang aku langsung membayangkan, "Allah, banyak sekali dosaku, sampai aku akhirnya diberi cobaan ini." Benar, cobaan sebagai peringatan. Sedangkan ujian sebagai jalan untuk naik tingkatan. Itu yang sedikit aku pahami, entah benar atau salah. Yang jelas aku sudah berpikir negatif duluan, bahwa ini adalah cobaan atas dosaku, bukan ujian. Allah.
Karena menyetir sambil banyak berpikir, aku tidak fokus. Sampai-sampai motorku selalu miring dan menepi ke kanan, akhirnya aku tidak bisa langsung masuk kembali ke jalan raya lagi dan melanjutkan perjalanan karena kondisi jalannya jauh lebih ramai lagi plus kendaraan-kendaraan berlalu dengan sangat cepat. Jadi aku akhirnya menepi dan menunggu sebentar, seperti saat hendak menyebrang. Aku lebih hati-hati kali ini, mungkin karena kesadaran ku sudah mulai terkumpul. Sadar bahwa hidupku bukan game dengan nyawa-nyawa cadangan.
Sepersekian detik kemudian, seorang adik laki-laki yang sempat kupanggil "Mas" dengan motor N-Max dan membantu pengejaranku itu ternyata dari tadi mungkin mencariku. Dia menyusulku dari belakang, dia mengembalikan sebelah sepatuku. Untung sudah dicuci ya! Hahaha. Aku yang sebetulnya tidak pernah mau merepotkan orang lain benar-benar takjub dan berkata, "Ya Allah, jadi dari tadi sampean nyari saya berarti, ya. Mau ngembaliin ini, " Kataku menahan tangis sambil mengambil sepatu putih itu. "Makasih, ya Dek". Ku panggil adik karena ternyata masih sangat muda. " Dijambret dimana tadi, Mbak? " "Sekitaran Tangkel, Dek." "Sudah biasa itu sepertinya, Mbak. Saya sudah dua kali mengejarnya. Waktu itu saya mengejarnya saat ada anak SMA yang tasnya juga dijambret. Waktu sedang mengantar adik saya ke pondok. Biasanya kalau nge-jambret sekitar jam setengah enam. Apa aja isinya, Mbak?" "Loh, berarti pean tau ya orangnya, Dek? Isinya semua, Dek." "Ngga tahu orangnya juga, cuman mungkin ini orang yang sama, Mbak. Ya sudah saya pamit dulu, Mbak." "Oh, iya, Dek. Makasih banyak, ya. Sampean dari mana dan siapa namanya? " "Saya S (Inisial) Mbak, dari..... (Menyebutkan satu daerah)." "Makasih, Dek S." Kataku setengah berteriak karena dia langsung berlalu. "Iya!" jawabnya dari kejauhan.
Aku melanjutkan perjalanan dan berhenti di stand usaha kakak, aku bilang pada staff-nya padahal sebelumnya aku belum pernah mengenalnya, hanya tahu nama, "Dek, sudah hilang tasnya." Dan singkat cerita aku bercerita jika tadi aku dibantu S anak daerah T. Ternyata dia teman staff itu. Aku meminta, jika boleh kontaknya dikirim ke kakakku, nanti akan aku minta juga. Sebab aku masih ingin menggali informasi dan melacak pelaku. Lagi-lagi karena tidak ingin ini terjadi pada orang lain. Ingin pelaku diadili. Jika barang-barangku bisa kembali? Itu hanya bonus. Sebab sejak aku memutuskan untuk putar balik, aku benar-benar mantap mengatakan dalam hati: "SUNGGUH, ALLAH AKAN GANTI DENGAN YANG LEBIH BANYAK DAN LEBIH BERKAH. AKU AKAN JADI ORANG YANG "KAYA" SETELAH INI." Beberapa potongan kalimatnya persis seperti yang aku sampaikan ke muridku saat sharing di hari yang sama, saat praktik bahasa Inggris denganku di waktu breaktime itu. Seminggu yang lalu, teman lamaku yang sudah 6 tahunan tak bertemu berbagi kisah hidupnya yang ternyata banyak diuji, aku kemudian berkata dalam hati: " Ya Allah, dalam kurun waktu itu kamu loh belum pernah diuji, tapi sudah banyak mengeluh." Dan benar saja. Aku kini sedang diuji atau dicoba dengan kalimat-kalimat yang aku lontarkan sendiri. Akankah aku sesabar muridku itu. Akankah aku sesabar temanku itu. Begitulah kira-kira.
Aku bercerita pada staff kakak sambil tiba-tiba menangis. Tangis yang sejak tadi aku tahan. Padahal dia sambil melayani tiga orang pelanggan. Entah kenapa dari dulu aku tidak pernah malu menangis di depan banyak orang. Aneh memang. Namun aku sadar diri, dia sedang bekerja. Aku tak boleh berlama-lama. Maksudku bercerita adalah, selain agar lebih lega juga lebih karena supaya dia menyampaikannya pada kakak, bahwa aku tidak apa-apa. Meski HP-ku sudah ikut hilang. HP terbagus selama hidupku, setidaknya itu bagiku. Wkwkwk. HP yang kalau mau screenshot aja ribet amat, menggunakan usapan telapak tangan. HP yang meski berbagai aplikasi aku download tidak pernah rewel dan lemot. HP tempatku berkarya ala kadarnya. HP yang terbilang masih baru. HP pemberian kakakku. Sebetulnya, aku paling tidak suka diberi, sekalipun dari kakak kandung. Namun kakak memang terlalu baik dan ternyata memang HP itu sangat menunjang proses pembelajaran, dll. Maka aku berdoa, semoga kakakku juga mendapatkan aliran pahalanya. Kini HP dengan segudang file itu sudah sirna. Dan sebagian besar file belum aku back-up. Benar, semua memang HANYA TITIPAN. Tapi pada staff kakak, aku tidak bercerita perihal HP. Aku hanya bercerita kemungkinan pelaku orang terdekat dan sering nongkrong di daerah sini. Lalu aku pamit dan berterima kasih padanya. Wajah staff itu mencerminkan aura kebaikan dan pribadi yang baik. Wajahnya terlihat lelah bekerja dan aku tiba-tiba sangat bersyukur, hidupku Allah mudahkan sejak dulu hingga tak harus bekerja di usia muda sepertinya. Meski jujur, aku sangat salut dengan anak-anak muda seperti itu.
Aku kembali melanjutkan perjalanan pulang. Lagi-lagi sambil melamun. Itulah kenapa, lagi dan lagi motorku menepi tanpa sadar. Aku akhirnya berhenti sejenak dan menangis sejadi-jadinya. Yang paling membuatku menangis adalah karena teringat dosa. Saat itu seolah ditampakkan semua dosa dan aib-aibku. Aku tak mampu mengelak dan hanya bisa menangis tersedu-sedu. Aku berhenti menangis, melanjutkan perjalanan. Namun sebelum itu aku bertemu dengan bapak-bapak yang sudah sangat sepuh, berjualan es degan. Wajahnya adem dan terlihat baik. Dia melihatku. Dia mengira aku juga ingin menyebrang. Saat dia berhasil menyebrang, dan sampai di tengah jalan raya dia berkata dan tersenyum padaku, "Ayo, Mbak kalau mau nyebrang." Aku menjawab dan tersenyum dalam tangis, "Iya, Pak." Lagi-lagi aku bersyukur, hidupku jauh lebih baik dari bapak sepuh itu. Aku kembali menangis memikirkan nya. Meski siapa yang tahu justeru bapak sepuh itu yang lebih bahagia dengan sholat malamnya, dengan dzikirnya, dengan anak-anak sholehnya.
Setelah itu, akhirnya aku benar-benar pulang ke rumah. Sesampainya di jalan rumah aku berpikir akan melacak lokasi HP-ku melalui Gmail. Aku pun menambah kecepatan. Namun di rumah hanya ada Ibu dan Bapak. Aku memutuskan untuk tidak bercerita agar mereka tidak khawatir. Namun akhirnya aku bercerita juga. Kata Ibu, "Kamu akhir-akhir ini sering pulang telat, makanya aku ngga kepikiran pas kamu ngga nyampe-nyampe rumah" Sedang kata Bapak, "Kamu biasanya pas kerja di Telang aku pikirin tiap hari, karena jauh. Nah karena sekarang kerjanya cuma di Bangkalan, deket ngga sebanyak dulu khawatirnya, eh malah kena musibah. Ngga papa yang penting kamu-nya selamat. Cuma kepikiran kok bisa-bisanya masih kamu kejar. Kalau bawa senjata gimana. Bersyukur banget kamu selamat." Tangisku makin pecah saat adik dan suaminya datang. Wkwkwk, sumpah kalau yang ini malu banget menangis di depan adik ipar ku yang baik hati dan tidak sombong, juga rajin gosok gigi dan menabung. Aduh, Lut, itu lawakan lawas, hehe.
Aku kemudian melacak HP-ku dengan Gmail, dan baru ku ingat Gmail-ku menggunakan verifikasi dua langkah dengan kode yang muncul dan terhubung dengan nomor telepon. Kalaupun bisa login, kondisi data HP meninggoy😅. Itulah kebiasaan burukku (mungkin ya): Jika HP tidak digunakan, atau tidak ada kepentingan, data internet akan ku matikan, sebab bagiku itu adalah distraksi terbesar dalam hidup. Meskipun aku sadar masih banyak akan kekurangan. O ya, adik iparku mempunyai kenalan orang yang dianugerahi indra keenam (mungkin bisa dibilang seperti itu). Katanya, si jambret langsung pulang ke Surabaya. Tapi dia berasal dari Tragah pelosok, namun tidak bisa dikatakan jelasnya, posisinya dimana. Sebab benar-benar tidak menggunakan ilmu hitam untuk menerawang. Hanya berdasarkan anugerah spesial dari Allah itu. Si jambret sepertinya berkomplot, uang yang didapat untuk membeli obat-obatan terlarang. But wallahua'lam. Semoga aku selalu ingat, bahwa dunia itu memang tempatnya ujian. Ya, begitu katanya. Alhamdulillah 'ala kulli hal.
Baiklah, itu saja dulu sedikit cerita lucu hari ini. Semoga ada pesan yang bisa dipetik, dikupas, dicuci, dirujak, digigit, dikunyah, ditelan, dicerna, hehe. Baaai ~
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
0 komentar