Personal Branding Bagiku

Dulu aku selalu berpikir, bahwa sosial media adalah salah satu distraksi terbesar bagiku. Bagi orang yang masih amat sangat belajar untuk memanfaatkan waktu. Kalau kata orang jaman sekarang: produktif. Walau kadang kita juga harus mampu membedakan busy dan productive. Juga membedakan bermalas-malasan dan istirahat atau quality time bersama keluarga. Setelah mampu membedakan, bagian tersulit adalah pengaplikasiannya. Karena merupakan bentuk dari membangun habit

Apa jadinya kalau sudah kecanduan scrolling sosial media? Waktu akan cepat berlalu begitu saja. Lalu penyesalan memang selalu hadir di scene terakhir. Disusul ucapan Raditya Dika, yang menampar tiba-tiba: opportunity cost: 5 jam rebahan main hape = 5 jam belajar hal baru. Lalu jangan ditambahi: Lah, kan belajar hal baru bisa dari handphone? Maksud tersiratnya barangkali bukan begitu. Kata remaja jaman now: Ngga gitu konsepnya, Bambang 😅

Bukan hanya kalian, aku pun dulu sangat kecanduan sosial media. Sampai-sampai harus memaksa diri untuk off beberapa bulan, namun akhirnya kembali lagi. Tak hanya itu, aku juga mantan pecandu game saat SMP. Hehe. Pernah ku bercerita, jika dalam sehari aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain ragam game di komputer hasil keringat kakak-ku. Padahal, komputer itu sebetulnya menetap disitu agar adiknya bisa belajar desain, bahasa, dan hal lain yang lebih bermanfaat. Jadilah sampai sekarang aku belum bisa mengetik dengan teknik 10 jari. Hihi.

Kian kemari, aku tidak bilang jika game itu sama sekali tidak ada manfaatnya. Mungkin ini hanya perihal tujuannya. Kalau hanya untuk hiburan, baiknya tidak terlalu berlebihan, penting dibatasi. Jika tujuannya profesionalitas, berarti memang perlu banyak latihan, cakupannya lebih luas lagi. Sebab aku pun tak mau bohong jika game juga mampu mengasah otak yang tumpul. Pada porsi yang pas.

Sama halnya kian kemari, aku juga menyadari jika kita pun pada beberapa hal, bisa memanfaatkan media sosial. Tentu dengan batasan-batasannya juga. Salah satu pemanfaatannya adalah sebagai personal branding. Aku ingat sekali betapa cukup kagetnya saat bertemu dengan kakak kelas sekitar tiga tahun lalu. Dalam obrolan beliau bertanya padaku: Lutfiyah masih aktif nulis, ya? Akupun hanya bisa menjawab ala kadarnya sembari berpikir: ternyata barangkali ini yang dimaksud personal branding. Apa deskripsi diri kita bagi orang lain yang dibentuk dari apa yang kita lakukan (dalam hal ini media sosial).

Memang, salah satu pengertian personal branding adalah bagaimana kita memperkenalkan diri di hadapan publik, intinya kita ingin dikenal sebagai apa. Nah, ini berarti ranahnya bisa masuk ke pencitraan dan sesuatu yang fake, dong? Sabar, tunggu dulu. Personal branding ini, sependek pemahamanku begitu luas ranahnya. Yang paling sering dibahas adalah keterkaitannya dengan bisnis, pemasaran, self development dan lain sebagainya. Namun barangkali yang ingin ku bahas kali ini adalah yang lebih personal, self development atau pengembangan diri.

Untuk itulah, dalam hal personal diri ternyata personal branding tidak = promosi, tidak = pamer, dan tidak = pencitraan. Personal tidak = kontroversi. Personal branding = menghasilkan karya. Personal branding = prestasi. Personal branding = melakukan atas dasar kemampuan dan atau proses mengasah kemampuan tersebut. Itulah kenapa Pandji Pragiwaksono bilang, "Lakukanlah personal branding melalui karya." Sebab bagi Dewa Eka Prayoga, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun personal branding kita. Dan hanya butuh waktu sepersekian detik untuk menjatuhkannnya. Salah satunya, karena ketidak-konsistenan, dan tidak menjadi diri sendiri.

Lantas, lebih spesifik lagi, bagaimana harusnya kita sebagai seorang muslimah membranding personal kita? Setidaknya ada tiga poin penting dari podcast Farah Qoonita: a. Moral/Akhlak: menjadi sosok yang penyayang dan ramah, manajemen waktu dan hidup, mempunyai rasa malu dan menjaga kehormatan. b. Skill/Kemampuan: ilmu pengetahuan dengan al-Qur'an sebagai teknologi tertinggi. Dan yang terakhir: c. Value/Nilai: mempunyai landasan dan alasan yang jelas dan tepat (untuk Allah): kenapa harus memiliki skill ini dan itu. Nah, kata Sherly Annavita, paling tidak ada dua hal dari pentingnya personal branding: a. membangun trust yang terkait dengan konsistensi, dan kedua: b. membuka pintu-pintu kesempatan.

Inilah yang akhirnya membawaku untuk memanfaatkan sosial media (salah satunya) dengan baik. Meski sangat kusadari masih terdapat banyak kekurangan. Walau sesederhana melatih public speaking, menulis juga barangkali berbisnis. Meski, lagi dan lagi, pada akhirnya jangan lupa pada personal branding di dunia nyata juga, bukan hanya di dunia maya. Harusnya, apa-apa yang dibagikan di dunia maya---yang tidak mencerminkan diri kita 100%---itu bisa menjadi refleksi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin. Lalu, jangan sombong, semua itu, termasuk potensi hanyalah titipan belaka.

0 komentar