Memilih Menjadi Guru
Saat masih kecil, cita-citaku banyak sekali. Semua yang umum disebut akan ku sebut, kecuali dokter, bidan dan perawat. Aku tidak berani, hehe. Juga guru. Memang, aku pernah bilang jika ingin menjadi guru bahasa Inggris. Tidak ingat kapan tepatnya aku mengungkapkannya. Apakah saat SD atau SMP, atau lebih tepatnya MTs. Yang jelas, aku tidak pernah sampai 50% menginginkannya. Sedang berbicara demikian mungkin hanya karena aku selalu ingin menjadi seperti kakakku, aku yang suka bahasa Inggris dan kakakku yang seorang guru bahasa Inggris. Iya, beliau selalu menjadi role model utama dalam hidupku, setelah Rasulullah tentunya.
Kenapa aku tidak pernah menyebut profesi guru menjadi cita-cita? Salah satu alasan utama yang masih sangat ku ingat adalah sudah menjadi rahasia umum bahwa penghasilan guru di Indonesia kecil. Hehe, banyak yang bilang, disini guru kurang "dihargai". Walau tak terjadi disemua daerah. Namun hal-hal semacam itu sudah menjadi buah bibir yang sayangnya masih melekat. Lalu aku ternyata dari kecil sudah realistis dengan hal itu. Alasan lain adalah, bagiku, sosok guru itu haruslah sosok yang luar biasa, bukan orang "sembarangan". Sebab ia tak hanya mengajar, namun mendidik, mengayomi, menuntun, menjadi teman dan seterusnya. Dan aku sepertinya tidak bisa.
Bagiku, guru haruslah pribadi yang super pintar, cerdas, berwawasan luas. Apalah aku yang hanya butiran debu. Sedangkan guru juga haruslah arif dan bijaksana, open minded, tidak mudah menghakimi, bisa melihat dari ragam sudut pandang, mampu menghubungkan sesuatu dengan banyak hal, ibadahnya harus top, dan lainnya. Namun dewasa ini ku pahami, ternyata menjadi guru tidak harus sesempurna itu. Maksudku, karakter-karakter itu memang sebuah keharusan, namun ada satu yang benar-benar perlu dimiliki seorang guru (setidaknya ini opiniku) yakni selalu mau belajar. Belajar hal baru. Belajar dari siapapun. Belajar dari apapun. Sebab menjadi guru bukan berarti selalu benar, selalu ingin terlihat benar, tak ingin dikoreksi, tak ingin salah dan terlihat salah.
Justru "salah" adalah pelajaran bahwa ia adalah manusia normal. Manusia yang selalu mau belajar. Manusia yang selalu mau mengoreksi dirinya. Manusia yang selalu mau memperbaiki kesalahannya. Manusia yang mau mendengar aspirasi dan masukan. Sebab guru bukan melulu tentang apa yang diajarkan, namun apa yang dicontohkan. Ia adalah tauladan. Aaaarrrgh, berat sekali bukan! Entah kenapa tugas guru menjadi sangat berat seperti itu. Pun tulisan ini juga terkesan berat dan begitu mencekik. Tulisan yang sejatinya ingin ku buat seminggu lalu, namun selalu ku tunda karena entah akan menjadi apa tulisan ini. Hehe. Setidaknya berat bagiku yang ingin menjadi guru ini. Benar sekali, di masa depan nanti aku ingin sekali (tetap) menjadi seorang guru.
____________
Boleh dibilang pengalaman pertamaku mengajar adalah saat masih berkuliah adalah mengajar anak-anak SD di kursusan gratis yang dibuat oleh kakakku. Awalnya aku mengajar dengan takut-takut, namun ku jalani saja sebab aku pun ingin belajar. Lalu saat berkuliah aku membantu mengajar dengan menjadi asisten praktikum. Lagi-lagi awalnya ku lakukan dengan takut-takut namun dengan keinginan besar untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Di Pare aku diberi kesempatan menjadi tutor dengan sistem yang bagiku sangat mengesankan. Tutor dan anggota (murid) benar-benar serupa berteman, memang ada plus minus, namun itu hanya salah satu contohnya. Sedang saat menjadi asisten dosen, aku seringkali di doakan menjadi dosen oleh beliau. Atau pada akhirnya sama saja: menjadi seorang guru.
Hingga aku kemudian selesai belajar (menjadi asisten dosen beliau selama dua tahun). Selama itu pula aku belum terketuk untuk menentukan ingin menjadi apa aku. Padahal beliau seringkali mendoakanku. Sangat sering. Bahkan selalu. Beliau selalu berpesan, bahwa passion itu bisa dibangun. Maksudnya, aku memang tidak pernah ingin 100% menjadi guru atau dosen, namun keinginan dan minat itu bisa dibangun. Sampai akhirnya aku lalu bergabung di tempat kursus. Inilah awal mula ku temukan puncak cahaya itu. Walau tak bisa ku bilang jalan hidup akan selalu mudah. Namun harus ku akui, bahwa dengan mengajar aku benar-benar menjadi lebih hidup. Aku seperti menemukan apa yang aku cari. Aku menemukan diriku. Aku menemukan impianku. Aku menemukan tujuanku. Aku ingin terus (belajar) menjadi guru. Aku suka (belajar) menjadi guru. Meski pada akhirnya, di kesibukan yang ku jalani sekarang, aku selalu bilang bahwa aku bukanlah seorang guru. Aku hanyalah teman "belajar" yang berkedok tutor.
Ada banyak hal yang membuatku kemudian memilih, memutuskan dan mendoakan diriku untuk tetap dan akan menjadi "guru" di masa depan (walau aku tidak bisa menyalahi takdir yang sudah digariskan Tuhan kelak. Siapa tahu aku akan menjadi guru sekaligus pengusaha, hehe). Betul, aku jadi belajar banyak hal. Tak hanya mereka, aku juga mendapatkan banyak ilmu baru. Dengan menjadi guru, aku tidak hanya meng-upgrade diri dari segi ilmu, namun juga bagaimana bersikap atau berperilaku: bagaimana menghargai orang lain, toleran terhadap perbedaan, tetap berpegang teguh pada prinsip yang diyakini, belajar memelihara open minded yang tepat dan lebih memiliki keterbukaan terhadap ilmu, yang pada pengaplikasiannya berubah begitu cepat. Aku tidak bilang jika hal-hal semacam itu tidak bisa didapatkan lewat profesi lainnya. Namun melalui profesi "guru" semuanya akan terasa begitu berbeda.
Dulu saat menjadi asisten dosen beliau, aku selalu bertanya dalam hati: kenapa beliau begitu peduli dengan mahasiswanya, seperti anak sendiri. Sampai-sampai tidak nyenyak tidur adalah hal kecil yang menjadi efeknya. Benar-benar mahasiswa menjadi prioritas utama. Meski sesekali mengerti, namun sebetulnya aku tidak pernah totally mengerti sebab aku tidak pernah di posisi beliau. Namun akhir-akhir ini aku jadi mengerti, meski tak sepenuhnya sama, aku juga merasakannya. Aku merasakan, bahwa mereka bukanlah hanya sekedar tanggung jawab, namun juga keluarga yang perlu didukung kesuksesannya.
Walau aku juga perlu belajar berdamai dan mengingat pesan alm. KH. Maimoen Zubair, dawuh beliau: "Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang, Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan pada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah." Pesan yang amat menggugah dan menggetarkan.
0 komentar