Ngga Perlu Sekolah Tinggi-tinggi

"Perempuan ngga perlu sekolah tinggi-tinggi, toh ujung-ujungnya....." kalimat serupa sepertinya sudah hatam di telinga kita, ya. Hampir semua orang pernah mendengar atau bahkan barangkali kitalah yang menjadi orang yang melontarkannya. Semoga saja tidak. Bagaimana jika laki-laki? Rasanya pendidikan lebih layak untuk mereka. Tentu bisa kita rasakan perbedaannya. Misal, kala perempuan yang bisa memasak dan mengurus rumah tangga dianggap biasa.

Sedang lelaki yang mau membantu masak dan sesekali mengurus rumah tangga dianggap luar biasa, bahkan aneh. Padahal sebenarnya tidak ada yang membantu dan dibantu, karena yang ada adalah bergerak bersama, kan. Namun kali ini aku tidak fokus untuk bercerita topik "kesetaraan" dan semacamnya dari segi itu. Karena jujur, aku pun belum mengerti. Aku hanya bercerita random saja perihal pendidikan. Bercerita tentang ingatan-ingatan.

Ya, aku ingat sekali, dulu saat aku masih MTs, aku tidak pernah berpikir untuk bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya karena aku tidak tahu dari mana biayanya. Alasan paling besar: Tidak ingin membebani orang tua. Aku pernah bercerita di catatan berjudul Putus Sekolah tentang ini. Tentang aku yang kemudian terinspirasi untuk melanjutkan pendidikan lagi karena kakakku. Betul, dia memiliki peran yang begitu besar untuk mendorong adik-adiknya mengenyam pendidikan. Bukan dari paksaan, melainkan memberi teladan.

Aku juga ingat, ingin sekali masuk salah satu SMA favorit di Bangkalan tapi karena nilainya tipis, akhirnya kakak mengantarku untuk mendaftar di MAN Bangkalan, hanya sampai gerbangnya saja. Yup, sekolah yang tak kalah jauh spesial, bagiku. Aku lalu diminta untuk mendaftar sendiri ke dalam dan aktif bertanya kepada siapapun di ruang pendaftaran. Ku dapati beberapa calon siswa mendaftar didampingi orang tuanya. Beberapa lagi sendiri. Namun mungkin hanya aku yang takutnya minta ampun, sampai berkeringat dingin segala. Bayangkan saja, aku ini dulu sangat pemalu bahkan untuk sekedar menyapa orang. Aku tidak suka basa-basi. Aku tidak suka berbicara jika tidak teramat penting. Aku tidak tahu bagaimana mengawali percakapan. Aku hanya bisa heboh dan konyol dalam circle yang membuatku nyaman saja. Namun karena waktu itu aku terdesak, aku mendobrak ketakukan yang bagi beberapa orang sangat remeh itu.

Nah, setelah aku mengisi formulir dan hampir selesai, seingatku barulah kakak kemudian menyusulku ke dalam. Ternyata pengalaman itu menjadi momen ketika gerbang untuk melawan rasa takut dan malu terbuka lebar. Setelahnya aku jadi sering melatih diri untuk bisa speak up, seperti bertanya di kelas, dll. Mungkin aku tidak berubah dengan cepat begitu saja. Tapi aku bisa bilang, karena bersekolah di MAN Bangkalan, banyak sekali hal positif yang aku dapatkan. Salah satunya mengubah sifat itu. Meski sampai sekarang pun aku masih sangat sangat sangat belajar.

Ingatan yang kembali menjadi bukti betapa kakak memiliki pengaruh yang besar adalah saat menentukan jurusan di MAN. Aku ingin sekali masuk Jurusan Bahasa, namun beliau memberiku dua pilihan: memilih Jurusan IPA atau Agama. Sebetulnya, aku suka Bahasa Inggris, itulah kenapa setelah banyak mendengar jika di Jurusan Ipa kita akan dibebani dengan menghafal ratusan vocab aku langsung tertarik untuk mendaftar, walau aku benci Aritmatika. Dan benar, lagi-lagi aku bersyukur masuk jurusan ini. Apapun itu, semuanya ternyata memang baik untukku.

Saat kuliah pun aku tidak pernah berpikir bisa kuliah, seperti yang pernah aku tulis di catatan berjudul Putus Sekolah itu. Aku pernah bercerita, barangkali usaha, doa dan motivasi dari guru-guru yang akhirnya membawaku lulus di salah satu universitas negeri di Madura. Saat hendak memilih jurusan aku bingung akan mengambil jurusan apa. Kakak memberi saran untuk mengambil jurusan Agribisnis. Padahal aku ingin sekali belajar di Prodi yang berbau Bahasa Inggris. Hehe, salah satu impian masa kecilku adalah menjadi guru bahasa Inggris. Mungkin karena terinspirasi oleh kakak.

Hingga kemudian aku mengulik lebih dalam tentang jurusan Agribisnis dan ternyata aku malah tertarik dan memilih prodi tersebut. Alasannya, mungkin akan aku ceritakan di catatan yang berbeda judul nanti. Dan sungguh aku sama sekali tidak menyesal dengan keputusan itu. Banyak sekali hal yang sulit aku ungkapkan yang ku dapat di sana. Meski at the end of the day aku sangat salut dan kagum ketika banyak sekali anak muda yang sudah mampu menentukan pilihannya sendiri. Sudah pandai mengeksplor, mengukur, minat, bakat, kemampuan diri sejak dini, dan sebagainya.

_________

Kita pasti tahu bahwa definisi impian dan pencapaian dari setiap orang itu berbeda-beda, tidak bisa kita seragamkan. Ada yang bahagia bisa membangunkan rumah yang nyaman dan layak bagi orang tuanya. Ada yang bahagia bisa memberikan kendaraan super mewah bagi pasangannya. Ada yang bahagia bisa memberangkatkan haji dan umroh keluarganya. Ada yang bahagia bisa berprestasi di kelas. Ada yang bahagia bisa berprestasi dalam lingkup sosial. Ada yang bahagia bisa menyantuni beribu anak yatim. Ada yang bahagia bisa dapat menimba ilmu terus dan lain-lain. Bagiku, hal semacam itu sah-sah saja. Sebab bagaimana orang melihat, berada dan bersikap di sebuah sudut tidaklah sama. Yang menjadi aneh adalah ketika kita mulai saling menjelekkan satu sama lain.

Jujur, setelah lulus dari kampus mungkin hampir semua orang mengalami masa krisis, anak muda sering menyebutnya quarter life crisis. Ada banyak sekali pertanyaan yang menuntut untuk dijawab. Ada juga yang kemudian membawa kita kepada pikiran-pikiran yang kurang baik seperti: "Untuk apa aku sekolah tinggi-tinggi, jika ujung-ujungnya aku sama sekali tidak berarti?" Mungkin salah satu yang menjadi penyebab hal ini adalah kurangnya persiapan yang matang ketika dulu. Personally, misalnya aku yang dulu hanya berpikir untuk bisa menimba ilmu, tanpa pernah berpikir kuliah untuk mendapat pekerjaan. Memang tak sepenuhnya salah, namun visioner untuk kontribusi kita di masa depan ternyata memang sangat penting.

Pada masa QLC itu pikiranku jadi melayang ke mana-mana. Ingatan bahwa ternyata semakin kita berilmu dan memiliki gelar, maka beban yang kita pikul akan semakin berat. Bahkan tidak jarang dunia makin terlihat begitu runyam dan menyeramkan. Dunia yang harusnya menjadi tempat untuk mengukir karya dengan lapang malah menjadi sesuatu yang banyak menuntut kita untuk menghasil banyak buah dari rentetan ekspektasi. Karena itu aku sempat berpikir untuk mengubur impianku "sekolah" lagi. Sebab toh menjadi bermanfaat tidak perlu menempuh pendidikan formal dan mempunyai gelar, bukan?

Namun hari demi hari membuat aku semakin yakin bahwa berkah pendidikan tidaklah sesempit itu. Aku ingat betapa salah satu faktor besar yang membuat aku semakin percaya diri adalah bisa mengenyam pendidikan di MAN Bangkalan dan bertemu dengan teman-teman yang punya semangat tinggi. Saat kuliah juga demikian, sejatinya ilmu yang ku dapat bukan hanya berasal dari tugas dan materi di ruang kelas saja. Akan tetapi bagaimana kita bertutur, kita menghargai orang lain, kita berusaha memiliki sifat rendah hati dan lain sebagainya juga secara tidak langsung aku pelajari dari pipa bernama pendidikan. Dari kesempatan baik bertemu dengan ragam orang. Dari kesempatan baik dihadapkan dengan ragam lingkungan.

Aku sebetulnya tidak ingin menggeneralisir, karena ada juga segelintir orang yang berpendidikan namun memiliki karakter (maaf) seperti hewan. Rakus dan tak memiliki moral, sama sekali tak layak jadi teladan. Sedangkan banyak juga yang tak mengenyam pendidikan secara formal tapi memiliki jiwa dan nilai yang tinggi. Berwawasan luas karena tak mau berhenti belajar. Membaca buku adalah cemilan sehari-hari. Baik buku dalam artian sebenarnya, maupun buku dalam arti yang luas.

Mungkin kita juga sudah paham betul kalimat dari Bung Hatta ini: "Siapa yang mendidik satu laki-laki berarti telah mendidik satu manusia. Sedangkan siapa yang mendidik satu perempuan, berarti telah mendidik satu generasi." Agaknya kalimat ini sudah sangat menjelaskan pernyataan pertama bahwa perempuan jika bisa, jika mau, jika boleh, dan jika perlu sangat dianjurkan untuk sekolah tinggi-tinggi karena kalimat ujung-ujungnya tidak sama sekali diperlukan. Sebab tidak ada yang sia-sia dan ujung dari belajar. Belajar adalah seumur hidup. Dan memang tidak selalu secara formal. Namun sering yang dibutuhkan adalah lingkungan yang mendukung, sinergitas dan lainnya. Sering ku lihat dengan mata kepalaku sendiri, beberapa orang menggunakan ilmu dan gelarnya untuk membantu banyak orang dalam kebaikan.

Sekarang makin kesini aku kian sadar bahwa pendidikan itu sangat penting. Betul, pendidikan tidak otomatis membuatmu kaya secara materi. Namun barangkali pendidikan bisa membuat cara berpikir, bersikap dan mengelola hatimu lebih kaya. Bahkan kian dekat dengan Sang Pencipta. Karena harusnya semakin berpendidikan kita makin merenungi betapa kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan Sang Pencipta. Kita makin menyadari betapa besar Sang Pencipta dari ilmu yang kita pelajari. Bahwa ilmu yang ada di bumi saja begitu luas, apalagi yang tidak terjangkau oleh kita. Jadi untuk apa menyombongkan diri?

Maka apapun definisi impian menurut kita, teruslah bergerak. Jangan berhenti! Sebab gagal itu datang bukan karena kita tidak memperoleh apa yang kita kehendaki. Namun gagal adalah saat kita berhenti mengusahakan dan menyebutnya dalam untaian doa. Pada akhirnya memang bukan kita yang menentukan hasil, jadi tidak perlu mempermasalahkan hasil, yang terpenting prosesnya. Apalagi, saat ingin menyerah, sering aku diingatkan kembali oleh sahabatku bahwa menimba ilmu itu adalah sebuah kewajiban. Maka sering-seringlah menengok kembali ingatan yang membuatmu bersemangat lagi, ya.

Tanpa bermaksud menjelekkan agama apapun aku jadi kian yakin bahwa orang Islam itu memang harus kaya dan pintar. Mungkin salah satu cara untuk menjadi "pintar" adalah melalui pendidikan. Baik secara formal maupun informal. Aku tidak menulis ini adalah satu-satunya cara. Hanya salah satu. Aku jadi ingat kalimat yang disampaikan Gita Wirjawan di salah satu podcast beliau, katanya: "Kalau saya lihat, dalam konteks pemenang nobel pada 630-an dalam bidang Sains. 60% dimenangkan oleh Nasrani atau Kristen, 23%- 24% dimenangkan oleh Yahudi, dan 0,5% oleh Islam. Ini bukan pernyataan spiritual atau religi. Tapi ini sebagai impetus untuk kita bisa menunjukkan keterbukaan terhadap ilmu." Meskipun menurut analisis cetek-ku adalah kalau kita ingat sejarah Islam banyak sekali justru orang muslim yang "pintar-pintar". Jadi tentu mungkin banyak faktor yang akhirnya membuat data itu menjadi seperti itu, ya.

Ingatan-ingatan itulah yang akhirnya membuat keinginanku untuk bisa sekolah lagi hidup kembali. Bahwa ini bukan perkara mengejar gelar tertentu. Bukan perkara mengejar jabatan tertentu. Tapi lebih kepada keinginan untuk terus belajar, salah satunya lewat lembaga formal. Terlebih makin kesini makin sadar, bahwa untuk menjadi manusia yang bermanfaat paling tidak kita harus kaya dan berilmu, sedang beradab adalah harga mati. Dengan menjadi kaya barangkali kita bisa menjadi orang yang dermawan, Aamiin. Kemudian dengan berilmu kita bisa membagikannya kepada siapa saja yang membutuhkan. Dengan lingkungan dan orang-orang yang mendukung kita merealisasikan ide-ide besar yang sering dianggap omong kosong. Again, I didn't say kita hanya mampu mendapat dukungan semacam ini di dunia pendidikan.

Walau sebetulnya aku tidak ingin menuntut siapapun, atau bahkan spesifiknya menuntut untuk memiliki pasangan hidup yang mempunyai rentetan gelar tertentu. Karena aku juga bukan orang yang suka dipaksa. Jadi selama orang tersebut baik, klick, rendah hati dan rajin gosok gigi kurasa tidak ada masalah. Yang menjadi masalah kalau ternyata sudah beristri (hehe, jangan tersinggung ini hanya bercanda, loh ya. Eh, tapi serius juga sih 😂. Lah kok jadi kemana-mana pembahasannya ini). Maksudku, yang menjadi masalah penting adalah ketika kita berhenti belajar menjadi manusia. Juga kalimat tentang, "Perempuan kalo terlalu pinter, nanti cowo-cowo pada minder" yang membuatku geleng-geleng kepala.

Poinnya adalah aku mendukung siapapun untuk mengenyam pendidikan, tanpa menunjuk gender tertentu saja. Walaupun mayoritas barangkali belum bisa mengakses hal tersebut, karena sudah menjadi rahasia umum, pendidikan di negara ini menjadi salah satu hal yang mahal. Meski tidak bisa dipungkiri ada banyak beasiswa dari pemerintah saat ini. Pada akhirnya bagiku setiap orang memiliki hak yang sama untuk sukses. Lagi-lagi sukses menurut versi definisi mereka sendiri-sendiri. Setiap orang---baik itu yang berkesempatan mengenyam sekolah tinggi atau tidak----memiliki kesempatan yang sama untuk merangkai dan mewujudkan impian-impiannya.






0 komentar