Memulai Lagi dari Nol

Kini, saat mulai menulis sebuah catatan, aku kerap mengingatkan diriku terlebih dulu untuk tidak membawa egoku dalam tulisan itu. Dan aku berusaha. Aku berusaha untuk menulis catatan yang kemudian ditujukan untuk umum dan diriku sendiri, bukan untuk menunjuk pribadi tertentu. Sebab bagiku, terkadang, tidak suka kepada orang lain itu wajar karena kita cuma manusia. Namun ketika ranahnya sudah membenci, maka itu hanya kerap merugikan diri dan menyakiti hati sendiri. Yup! It's just gonna waste our time for doing such a that kind of thing.

Kembali ke catatan...

Beberapa bulan lalu aku dihadapkan dengan banyak sekali titik-titik pertanyaan. Banyak sekali yang belum terjawab, banyak juga yang sudah terjawab, namun tidak sedikit pula yang bahkan ku coba uraikan sendiri. Titik itu membawaku pada beberapa kesimpulan. Salah satu yang sangat aku ingat adalah kita memang boleh berharap kepada Allah SWT bahkan memang justru itu yang betul, tidak boleh berharap selain kepada-Nya. Namun yang ku maksud adalah keinginan untuk melakukan banyak kebaikan tanpa embel-embel apapun seperti sholat sunnah, mengaji, bersedekah, membaca sholawat, membantu tetangga, dan lain-lain bukan karena ingin balasan langsung berupa materi, misalnya.

Memang, Allah SWT menyukai hamba yang rajin meminta. Makin banyak permintaan yang dialamatkan pada-Nya, Allah SWT justru kian senang. Namun salah satu yang aku simpulkan dari perjalanan hidup yang sebenarnya masih seperempat abad ini membuat aku ingin kembali kenal dengan apa-apa yang coba aku lakukan. Ingin sekali rasanya melakukan apa-apa hanya karena ingin dekat kepada Sang Pencipta. Hanya itu. Tak ada yang lain. 

Aku tahu, untuk orang yang, katakanlah, belum punya dan bahkan menghasilkan apa-apa di dunia ini mungkin statement itu akan terdengar bak omong kosong melompong di siang bolong dengan gigi ompong dan muka yang gosong memang, ya. Hehehe. Kecuali jika yang berbicara adalah orang yang memang sudah punya segalanya. Tentu, segalanya dalam versi manusia. Sebab menjadi manusia membuat kita kerap dihadapkan pada realitas yang sering membikin geleng-geleng kepala. Apalagi alasan untuk hanya ingin dibalas "dekat dengan Allah SWT" itu seolah terdengar ahli ibadah sekali, bukan. Padahal masih teramat jauuuuuuuuh.

Bukan. Bukan untuk membatasi orang untuk meminta, untuk berdoa. Ini hanya sedikit opini personal saja. Yang ingin mengubah beberapa haluan sebagai nahkoda. Bahkan bisa jadi memulai dari nol kembali. Beberapa yang lain kemudian mengingatkanku tentang pelajaran saat MA dulu. Bahwa Riya' itu bukan melulu perkara tentang melakukan sesuatu bukan karena Allah SWT, namun juga tentang meninggalkan sesuatu bukan karena Allah SWT pun juga termasuk di dalamnya. Sholat karena ingin dipuji manusia. Tidak sholat karena takut disangka ingin dipuji manusia. Arrrghhh! Hehehe.

Lalu pemahaman itu membawaku ke pintu selanjutnya. Ada dua pintu berhadapan. Satu pintu berisi orang yang kerap merasa taat kepada Allah, melakukan ragam amalan dengan kerajinan tak terperi, namun anehnya dengan mudah menyakiti hati orang lain. Tak mengenal toleransi sama sekali. Yang ku maksud adalah toleransi yang dibenarkan. Amboi, lagakku sudah seperti orang yang tahu segalanya, ya. Segala batasannnya. Sedang di pintu selanjutnya, aku melihat orang yang tidak berusaha ta'at kepada Allah SWT, lalu dengan bangga memamerkan 'kemaksiatannya' dengan dalih "open minded" yang keliru. Lalu mudah meremehkan orang 
yang benar-benar berusaha taat.

Hmm, aku pernah di posisi dua orang itu. Atau aku saja yang terlalu percaya diri. Barangkali aku masih berusaha keluar dari dua pintu itu? Allah... betul, ingat sekali dulu pernah menjadi sosok yang barangkali begitu menyebalkan, setidaknya itu seingatku. Meskipun belum ada yang berani terus terang hingga kini, hehe. Maksudku, dengan begitu bukan berarti menuntut orang untuk berhenti berdakwah. Memang apa hakku? Apalagi jika memang sudah "ahli"nya. Sama sekali bukan itu yang aku maksud. Namun bagiku pribadi, ternyata yang paling butuh didakwahi pertama, kedua dan ketiga kali olehku adalah diriku sendiri. Keempatnya? Entahlah. Ini satu pertanyaan yang ku bilang di awal tadi, belum menemui jawaban.
_______

Bangga dengan ketaatan, bagiku tak benar. Maksudku, kalau bersyukur mungkin masih relevan. Namun bangga? Untuk apa? Bukan kita yang membolak-balikkan hati manusia, kan? Pun bukan kita juga yang memberi daya atas setiap semangat ketaatan yang kita lakukan. Juga, untuk apa bangga dengan keburukan yang kita lakukan? Supaya dianggap teman? Sefrekuensi? Hmm, agaknya Allah SWT sudah dengan baik menutup aib kita rapat-rapat, jadi tidak perlu susah-susah mengumbar hanya untuk mendapatkan atensi atau bahkan lucunya, apresiasi. Paling tidak ini yang acap kali "disemprotkan" nuraniku kepadaku.

Jadi, ternyata, kadang diam memang emas. Diam disertai doa. Berdoa dalam lirih ketika memang kita ingin menghendaki kebaikan untuk orang lain. Hehe, barangkali ini jalan "paling lemah" yang ku pilih. Walau efek doa amatlah dahsyat. Dan... banyak berdoa saat kita masih dalam kubangan keburukan, kemalasan dan segala tetek bengeknya, semoga segera Allah gugah hati dan kesadaran kita. Perbanyak diam, dan tak perlu menyorot keburukan kita, apalagi sampai mempublikasi. Bukan diam di tempat, namun diam tak "bersuara". Sebab aku sangat yakin, sejelek-jeleknya orang, pasti ada keinginan untuk berubah menjadi lebih baik di lubuk hatinya. Insya Allah. Dan sebaik-baiknya orang, tidak akan pernah sesempurna itu. Ah, tentu.

0 komentar