Sampai Kapan Futur Terus

"Mau sampai kapan futur terus?" itu yang diungkapkan oleh lubuk hatinya yang terdalam. Memang normal sebagai manusia, semangat kita dalam beribadah (dan lain-lain) ada di atas dan kadang di bawah. Namun jika justru berlarut-larut dan tidak mau keluar dari perangkap itu, sampai kapanpun kita tidak akan bisa keluar dengan sendirinya. Maka selain berdamai dengan keadaan itu barangkali kita juga perlu berusaha untuk menyibak tabir yang tipis namun dampak yang dibuatnya bisa begitu fatal itu.

Kenapa ku bilang tabir yang tipis? Karena bagiku, sejatinya yang memisahkan antara ruangan semangat dan malas hanyalah sebuah tabir yang tipis. Tipis namun fatal ketika kita sejatinya bisa menyibak takbir itu bahkan merobeknya, kemudian lari ke bagian 'ruangan semangat' namun malah terpaku. Pasti kita pun akan terheran saat kita dimampukan untuk bergerak, kenapa tidak dari dulu saja, ucap kita. Padahal memang seringkali semua ini hanya soal waktu dan keinginanmu. Sedang waktu seringkali tidak mau menunggu maka tidak perlu juga untuk menunggunya, kan.

Itulah kenapa ketika situasi dan kondisi sangat mendukung untuk ber malas-malasan ada momentum tentang nurani yang kembali mengingatkan bahwa kamu hanya perlu bangun sekarang juga dan melakukan hal yang lebih bermanfaat. Bukankah kamu ingat bahwa mimpi besar itu tidak diwujudkan dalam waktu yang kilat? Juga tidak melulu dibuat dengan sesuatu yang besar. Sebab ia dimulai dari hal-hal yang kecil. Iya, yang kamu anggap sepele seperti membersihkan rumah, membantu orang tuamu dan membaca beberapa halaman buku setiap hari itu.

Namun kala futur menghampiri melakukan hal yang sepele kerap jatuh menjadi sebuah kemustahilan. Apalagi impian besar yang rasanya jauh dari hadapanmu. Ia sudah tidak seperti di film layar lebar lagi, yang berada lima senti meter di depan wajahmu. Berlembar-lembar halaman al-qur'an yang awalnya ringan dibaca kini menjadi sangat berat. Belum lagi amalan sunnah yang lain. Rasanya seperti  berton-ton beban menindih tubuhmu seketika. Ceramah dan nasehat yang biasanya mudah kau cerna dan membuatmu seolah sefrekuensi dengan sang pembicara malah makin membuatmu kalut dan menggila. Alih-alih menjadi sumber penyemangat, mereka malah melengos begitu saja, keluar tanpa merasa berdosa dari daun telinga.

Sungguh, kamu tak sendiri. Manusia hanyalah manusia. Tapi kamu juga bisa bertindak dan melakukan sesuatu pada takbir pemisah itu. Apalagi kini kau diberikan keberuntungan yang begitu dahsyat, Nak. Kau dipertemukan dengan bulan yang begitu keramat. Jangankan beri'tikaf di masjid berjam-jam lamanya, membantu ibumu memasak saja balasan hitungannya tak pernah bisa diperkirakan. Maka sungguh, tak ada lagi waktu untuk futur dan menyia-nyiakan.

Memang berdamai dan menerima diri sebagai manusia, lalu menerima tingkatan semangat yang tengah di bawah sebagai sebuah kenormalan juga tidak salah. Yang menjadi salah barangkali adalah kalau kita berlarut-larut di dalamnya. Maka mungkin akan lebih baik jika kita mengingatkan diri kita sendiri. Bahwa, tidak ada waktu untuk terus bergerumul dengan futur dalam waktu yang begitu lama. Semangat untuk kita! Siapapun dan bagaimanapun kita saat ini sungguh Allah SWT selalu membimbing dan membersamai. Tinggal kita saja yang perlu mendengarkan nurani lebih dalam lagi.

0 komentar