Selamat Bertunangan
Kala itu aku cukup kaget mendengar adikku akan segera dikhitbah. Kemudian hari ini bertunangan. Sebenarnya aku tidak terlalu kaget karena melihat circle-nya saat ini, yang notabene didominasi oleh orang-orang yang ingin segera menggenapkan agama mereka. Which is good. Sementara bagaimana dengan circle-ku? Aku tidak punya circle. Hehe bercanda. Eh, lalu aku tidak bermaksud mendiskreditkan apapun circle-nya, ya.
Aku, waktu itu, juga cukup khawatir bahkan takut. Aku takut dia hanya ikut-ikutan (maaf) beberapa trend kekinian karena dia relatif lebih muda dibandingkan beberapa teman sebayanya. Saat lulus kuliah usianya baru sembilan belas tahun. Dan kita tahu, hari ini banyak sekali konten mengenai nikah muda, meskipun tidak sepenuhnya salah. Walau kalau diingat lagi, pernikahan dini (di desa) adalah sesuatu yang sangat lumrah. Meski tak sepenuhnya benar, inilah tradisi yang memang sudah begitu mengakar.
Sebetulnya, aku tidak meremekan adikku itu. Karena meski dia selalu ingin terlihat receh, pemikirannya sebenarnya dewasa. Namun aku hanya khawatir, bahwa terkadang ia terlalu baik, susah membedakan orang yang fake, modus dan beragam tabiat buruk lainnya. Meski kita juga bukan manusia paling mulia. Atau aku saja yang terlalu mudah bersu'udzon. Itulah kenapa aku sempat sedikit "mengintrogasi" apa yang membuat ia mantap dengan menjajaki langkah ini. Setelah mendengar banyak cerita ternyata memang dia lebih urgent. Apalagi insya Allah semoga ini adalah calon yang tepat. Pun sebaliknya.
Aku dulu pernah bilang pada adikku dan keponakanku yang seumuran dengannya, "Jangan sampai mereka berdua mendahuluiku", meskipun sebenarnya aku hanya bercanda, namun beberapa persen dari komposisi candaan itu adalah serius. Hehe. Aku juga tidak mengerti mengapa aku berkata demikian. Mungkin aku juga terpengaruh dengan standar yang dibikin oleh masyarakat: saat saudara yang lebih muda lebih dulu menikah, maka itu adalah sesuatu yang abnormal. Padahal sama sekali tidak demikian, jika mereka ingat lalu mengimani bahwa jodoh, maut, rezeki dan lain-lain sudah dicatatkan tanggalnya dan tidak mesti berurutan.
Kala itu, mereka pun mengiyakan karena saat itu tidak terbesit untuk "menikah muda" versi kita di benak mereka. Sedang di desa, menikah pada usia 20-an sudah terbilang seperti nenek-nenek, mungkin ya. Hehe. Jadi teringat tulisan yang berseliweran di medsos. "Jika manusia (khususnya perempuan) belum menikah di usia 20-an ke atas, maka disebut "sudah tua, tapi kok belum juga menikah. Sedangkan saat dihadapkan dengan orang yang meninggal pada usia 30-an ke atas, mereka akan berceloteh, "Kasian, ya. Mati muda!".
_______
Menikah seringkali identik dengan "usiamu sudah cukup, kamu sudah tua, sudah saatnya, dan lain-lain". Seolah pernikahan adalah sebuah perlombaan. Siapa yang paling cepat dialah yang menang. Aku tidak sepenuhnya menyalahkan standar tersebut. Tapi kalau dipikir-pikir memang menikah bukan perihal usia, namun murni tentang kesiapan dan garis dari Tuhan. Kesiapan di sini bukan kesiapan yang kita sendiri mengukurnya, melainkan Allah SWT. Allah lebih tahu hamba mana yang siap dan hamba mana yang harus mengerjakan prioritas lain terlebih dahulu. Lalu ini sejalan dengan takdir yang sudah digariskan-Nya. Bukankah berulang kali sudah kita ketahui bahwa Allah Maha Mengetahui yang Terbaik. Lalu jodoh, keturunan, maut dan lain sebagainya memang benar-benar hanyalah kehendak-Nya. Maka untuk apa orang selalu bertanya seolah-olah kita ini yang paling berkehendak atas hidup kita?
Lalu kalau menikah memang hanya tentang giliran, usia, trend dan hawa nafsu maka percayalah, sejatinya menikah tidak serendah itu. Sebab pernikahan amatlah mulia. Jadi alasan dan tujuannya pun sungguh terjaga. Bukan untuk perkara-perkara yang murahan apalagi hanya sebatas mainan. Betul, jika penilaian pada pernikahan sebetulnya tidak pada hal-hal dangkal. Melainkan, sebuah jalan untuk menuju visi besar dan memerlukan kedalaman dan penyamaan pemahaman. Ah, entah apa yang aku tulis ini. Hihi.
Kadang aku berpikir dan bertanya kenapa aku bisa dibilang berbeda dari beberapa orang kebanyakan? Yang jelas aku bukan satu-satunya orang yang begini. Yang cukup untuk tidak pacaran saat bersekolah, atau tidak pernah mau mulai memikirkan pernikahan di saat yang lain sudah mempersiapkan atau bahkan merangkai keluarganya masing-masing. Barangkali, selain karena kesibukan, bagiku, salah satu hal yang besar dan sangat berpengaruh adalah aku yang merasa cukup. Merasa cukup dengan cinta yang aku dapat dari orang tua dan keluarga. Tapi, aku tidak bilang mereka yang menikah dini dan sebagainya artinya berasal dari keluarga broken home. Bahkan beberapa ku temukan, (selain karena takdir-Nya) mereka yang memilih menikah muda karena memang sudah matang, dewasa, dan siap secara batin dan finansial karena telah ditempa sejak belia. Meski tentu tingkatannya barangkali tidak bisa disamakan dengan kisah sahabat nabi di jaman dulu.
Namun inilah yang aku rasakan, meski tidak bisa disimpulkan juga bahwa aku memiliki keluarga yang extremely happy dan sebuah role model of happy family juga, namun faktor ini yang benar-benar relevan dengan apa yang aku alami. Maka benar, manusia menentukan bahagianya sendiri, jangan mencoba mengintervensi. Belum lagi, jika diri ini ditanya, rasanya masih jauh sekali kata siap. I'm totally not ready for that. Kemudian memang, dari beberapa yang aku ketahui, mereka sebetulnya tidak pernah 100% siap. Nah, berangkali memang "siapapun" sejatinya tidak akan pernah "siap". Namun ketika sudah Allah SWT pertemukan orang dan saat yang tepat, seketika barangkali setiap orang akan begitu yakin. Begitulah, itu hanya opini pribadiku saja, bahwa it's all about Allah's will. Allah yang menggerakkan segalanya. Termasuk mengubah dan menetapkan hati pada setiap manusia. Maka, baiknya fokus berharap pada Allah saja. Fokus juga pada ibadah dan impian yang masih jauh dari target. Semoga dalam perjalanannya, Allah hadiahkan yang terbaik. Ya, semoga selalu dalam bimbingan-Nya, ya.
Ingat sekali, dulu sering sekali menjadi tempat curhat teman-teman (lebih dari lima orang jika tidak salah, hehe). Mereka mengaku "didahului" oleh adiknya. Beberapa mengungkapkan tidak tahan dengan "omongan" orang yang bertubi-tubi. Saat itu aku tidak mampu mengatakan sabar karena aku belum pernah di posisi mereka. Aku juga tidak ingin memberi nasihat saat nyatanya beberapa pribadi hanya butuh ceritanya didengar. Seingatku, ketika itu aku hanya mampu bilang, "setelah ini kamu akan segera mendapatkan yang terbaik, kok. Tenang saja. Dan mungkin untuk saat ini inilah nasehat yang bisa aku sampaikan pada diriku sendiri. Hehe.
0 komentar