Selamanya Hari Ibu
Tentu semua setuju bahwa setiap hari adalah Hari Ibu. Selamanya adalah Hari Ibu. Namun mungkin peringatan Hari Ibu ini menjadi salah satu momen untuk mengingat kembali setiap kesalahan yang pernah kita lakukan kepada ibu kita. Untuk kemudian mulai mencari cara bagaimana memperbaikinya, bagaimana mengantinya dengan ragam kebaikan. Apapun itu, aku yakin akan selalu ada cara.
Well, tiap kita punya definisi Ibu masing-masing. Ada yang menjadikan ayah sebagai Ibu, nenek sebagai ibu, bibi sebagai ibu dan seterusnya. Meski sejatinya, saat seorang ibu sudah tak membersamai, mereka tak pernah terganti. Betul, yang ada dalam benakku juga demikian. Ibuku, bagiku tak akan pernah bisa digantikan. Bahkan jika aku dilahirkan kembali dan ditanya, aku tetap ingin lahir dari ibuku, terlepas dari kekurangan yang dimilikinya. Sebab beliau punya kelebihan tak terhingga, dan kekurangannya hanyalah seperciknya saja.
Aku mungkin salah satu yang beruntung, memiliki ibu seperti beliau. Aku tidak bercerita ini untuk membanding-bandingkan. Karena aku yakin, setiap ibu spesial. Sedang ibuku spesial karena dari kecil selalu mengutamakan anak-anaknya. Dalam banyak hal. Aku ingat sekali saat aku duduk di bangku pertama sekolah dasar kemudian sakit cacar berbulan-bulan, di-bully beberapa teman dan 'ditodong' untuk berhenti sekolah saja---Ibu nampak tidak ambil pusing dengan keputusanku untuk berhenti sekolah. Dia tidak mengutamakan ego dan gengsinya. Dengan santai, beliau bilang aku bisa sekolah lagi tahun depan. Saat itu aku berusia enam tahun. Seolah mengambil gap year, aku lalu kembali bersekolah di tahun berikutnya, di usia ketujuh.
Pagi itu begitu dingin. Ibu membangunkanku untuk mandi dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Di hari pertama itu, ibu memandikan, menyiapkan perlengkapan, memakaikan baju dan menyiapkan sarapan. Tak akan pernah aku lupa saat Ibu memakaikanku kaos dalam saat gigiku masih bergemeletak kedinginan. Hebatnya, Ibu tak memaksaku sama sekali. Saat itu murni keinginanku sendiri untuk sekolah lagi. Tentu dengan dukungan beliau juga.
Ada banyak sekali momen yang begitu berkesan dan tidak bisa ku lupa. Namun momen lain yang mungkin akan aku sebut juga adalah saat hari libur sekolah aku diminta ibu untuk menjaga adikku karena beliau membantu bapak di sawah. Aku ingat sekali, waktu itu adikku menangis kencang dan tidak mau berhenti meski telah berusaha ku tenangkan. Saat ku gendong ternyata tangisnya malah semakin keras. Sampai aku rasanya putus asa dan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Di rumah hanya tinggal kami berdua, aku dan adikku, Matus. Jika asumsinya aku berusia 8 tahun, maka adikku 4 tahun. Lalu tiba-tiba ibu datang, meski masih kelelahan ibu langsung menggendong adikku. Dia akhirnya senyap. Benar-benar seperti malaikat penolong yang tiba-tiba datang di detik keputusasaan. Dan benar, dalam kehidupan sebenarnya beliau memang selalu menjadi malaikatku.
Dari kisah itu, aku jadi teringat: ibu katanya memang hanya seorang ibu rumah tangga namun beliau sangat luar biasa karena hampir mampu mengerjakan semua hal. Seperti bekerja di sawah, mengambil pakan ternak, mencari kayu bakar, menjual ternak dan beberapa hasil kebun di pasar dan lain sebagainya. Bahkan aku ingat sekali kalau ibu sudah bekerja di sawah, beliau akan sedikit sekali istirahat dan banyak bekerja. Ya, beliau adalah sosok pekerja keras.
Hal lain yang membuat aku sangat bersyukur adalah saat ibu tidak pernah mempermasalahkan nilaiku di kelas dan hingga aku dewasapun tidak pernah menuntutku untuk menjadi ini dan itu, begini dan begitu. Aku tidak bilang bahwa seorang ibu yang mengarahkan anaknya adalah ibu yang buruk, atau penuntut. Karena sejatinya tiap ibu memiliki cara yang berbeda untuk mendidik anak-anak mereka. Kita tidak bisa menghakimi satu sama lain. Kelebihan ibu yang satu ini juga kerap kali membuat aku dan ibu berbeda pendapat tentang konsep untuk bermimpi besar. Jika aku ingin sekali bermimpi besar maka ibu bilang, jangan terlalu bermimpi besar. Namun pada akhirnya, kita seringkali sefrekuensi.
Selain perbedaan prestasiku di kelas yang begitu signifikan dengan saudaraku yang lain, aku barangkali juga memiliki karakter yang juga berbeda. Aku bahkan kerap dilabeli anak yang cengeng. Karena kerap menangis saat dibawa kemana-mana. Terutama saat naik kendaraan umum. Tapi ibu hampir selalu membawaku bepergian, dia tidak pernah menghakimi aku yang acapkali berbeda dari anak-anaknya yang lain.
Berbicara tentang karakter, saat kuliah aku pernah bercerita tentang beberapa orang yang kerap mem-body shaming dan lain-lain. Namun selalu, dari kecil ibu selalu bilang untuk tidak diambil hati. Tidak usah dibalas. Tidak usah dihiraukan. Jangan berhenti untuk belajar menjadi orang baik hanya karena perlakuan orang lain.
Hmm, aku menulis ini untuk ibuku tapi beliau tidak bisa membaca. Tapi aku percaya beliau bisa merasakannya. Semoga hari ibu kali ini menjadi perenungan yang begitu dalam untuk kita semua. Bahwa kesempatan untuk mendapati kedua orang tua yang utuh hingga kini adalah kebahagiaan yang tidak boleh terlewatkan. Maka yang boleh diberikan pada mereka hanyalah melulu tentang kebahagiaan. Aamiin.
0 komentar