Tentang Kekerasan Seksual
Aku bukan orang yang suka menyaksikan berita. Paling tidak, itu yang bisa aku simpulkan semakin ke sini. Itu salah satu yang membuat aku kurang update. Bagiku hidup sudah cukup rumit dan dengan menonton berita negatif rasanya akan semakin menambah penyakit. Sebab seringkali aku malah ikut pusing. Meskipun sebetulnya seringkali kita memang butuh perspektif baru, dari kebebobrokan manusia bumi sekalipun atau bahkan kejadian yang tengah happening, walau kadang beberapa tak menyajikan bingkai dan isi yang sesuai harapan.
Arrgh! Dalam minggu ini, seolah tak terhitung berapa kali aku, kita mendapati berita yang terkait dengan kekerasan seksual. Sedih! Miris! Hati berkali-kali ikut teriris! Padahal, memang dari kecil, kala mendengar kata 'pemerkosaan' saja rasanya diri ini sangat marah, bahkan saking jijiknya ingin muntah. Kalau bisa muntah di wajah pelaku. Maaf jika terlalu kasar. Siapa yang terima dan tidak mengecaman perbuatan semacam itu, kan? Jangankan kejadian fatal seperti itu. Kejadian yang dianggap remeh oleh beberapa orang saja bisa membuatku sangat muntab.
Ingat sekali waktu masih kecil aku seringkali menemani kakak perempuanku dan teman-temannya hadir dalam pengajian atau gambus yang memeriahkan sebuah pernikahan. Biasanya acara itu diadakan di malam hari. Lalu setahuku, seolah lumrah sepulang dari sana kita para perempuan akan dihadapkan oleh para lelaki sepantaran tak dikenal yang kemudian mengikuti dari belakang, seolah mengantar kita pulang, menggoda bahkan memaksa meminta nomor seluler. Aku ingat sekali waktu itu aku sok jadi jagoan melindungi kakak perempuanku untuk tidak didekati dan memperingatkan keras lelaki yang mengganggunya agar tidak berani macam-macam, akhirnya mereka pulang. Padahal aku masih SD, jika tidak salah. Itulah kenapa sejak kakak perempuanku di pesantren aku tidak lagi suka hadir di acara semacam itu.
Sama halnya saat aku tidak suka lagi menyaksikan berita. Karena seringkali beberapa media hanya mementingkan keuntungan komersil buka semata-mata untuk mengungkap kebenaran. Tidak heran jika sering kita temui berita kekerasan seksual dengan thumbnail dan judul berita yang sangat menyakitkan. Karena justru terbaca menyudutkan korban, mempersulit korban bahkan menganggap bahwa korban kekerasan seksual tidaklah berharga.
Maka jangan salah jika kemudian kita kerap mudah menyalahkan korban kekerasan seksual daripada ikut mendukung mereka memperoleh keadilan (baca: victim blaming). Media menjadi salah satu yang andil untuk itu. Seperti saat kita malah menyalahkan korban karena pakaian yang dikenakannya, menyalahkan perempuan yang bekerja hingga larut malam, pulang dini hari sebab mengerjakan tugas kampus dan lain sebagainya. Sebab bagiku bagaimanapun perempuan, selama masih dalam koridor yang normal, tidak ada satu manusia pun yang boleh berkata bahwa kekerasan seksual diperbolehkan.
Memakai pakaian yang sopan, tidak keluyuran di malam hari, tetap berada di rumah jika tidak ada keperluan mendesak memang menjadi salah satu langkah pencegahan. Namun perspektif berbeda orang lain dalam menentukan cara berpakaian bukan lantas menjadi alasan kita untuk mudah menghina orang lain, kan? Apalagi menjadikan itu senjata untuk memborbardir korban sekaligus secara tidak langsung membela pelaku. Belum lagi, data menunjukkan banyak kekerasan seksual terjadi di kediaman korban sendiri. Ya Tuhan!
Kedua, seringkali kekerasan seksual dianggap sesuatu yang lumrah, atau sering disebut rape culture, karena dinilai bahwa setiap manusia khususnya laki-laki memiliki hawa nafsu. Sehingga harusnya si perempuan yang pandai menjaga diri. Ujung-ujungnya korban yang selalu salah. Padahal kita semua tahu bahwa nafsu diciptakan untuk dikelola bukan dengan mudah dilampiaskan layaknya binatang. Dan alasan-alasan lain.
Hal lain yang membuat kekerasan seksual makin tersebar dan tumbuh subur adalah karena kita secara tidak sadar menormalisasi bibit-bibitnya. Ini karena kurangnya pemahaman. Iya, kekerasan seksual bukan hanya tentang pemerkosaan. Setidaknya ada lima belas perilaku kekerasan seksual, seperti pemerkosaan, intimidasi seksual termasuk ancaman atau percobaan perkosaan, pelecehan seksual, eksploitasi seksual, perdagangan perempuan, prostitusi paksa, perbudakan seksual, pemaksaan perkawinan, pemaksaan kehamilan, pemaksaan aborsi, pemaksaan kontrasepsi, penghukuman bernuansa seks, praktik tradisi bernuansa seks, dan kontrol seksual. Contoh yang sering kita anggap kecil adalah bersiul dengan maksud menggoda orang lain (baca: cat calling) termasuk ke dalam pelecehan seksual. Sebab pelecehan seksual bisa berupa verbal dan non verbal (fisik).
Berdasarkan data dari Komnas Perempuan juga (2020) pelaku sangat beragam, bisa orang tak dikenal, orang yang masih ada hubungan keluarga, majikan dan kasus terbanyak dan sangat meroket jauh sekali dibanding yang lainnya adalah pelaku yang berstatus sebagai pacar. Lagi dan lagi ini berdasarkan data, bukan lantas menjadi bahan (secara pribadi) untuk menyudutkan orang yang menghalalkan pacaran.
Faktor lain yang juga merupakan rahasia umum adalah hukum yang berlaku. Ah tak perlu diperjelas, rasanya yang satu ini sudah paling jelas. Aku hanya ingin bilang, bahwa kekerasaan seksual juga tidak mengenal latar belakang pendidikan, agama atau gender. Laki-laki juga bisa menjadi korbannya. Maka akhirnya tulisan ini sejatinya tidak untuk mendiskreditkan latar belakang, agama atau gender apapun. It's all about personalnya. Melainkan ini adalah bentuk ketidak-habis-pikiran dengan keadaan yang terjadi akhir akhir ini. Atau bahkan sejak dulu yang bahkan tak pernah diungkap sekaligus. Semoga kita semua Allah SWT lindungi. Dan mereka yang kejam dan tidak bermoral itu benar-benar diadili.
0 komentar