Belajar dari Depresi?

Mungkin aku adalah salah satu orang yang kalau ditanya "Apa titik terendahmu?" akan sangat bingung menjawabnya karena merasa, sorry to say, tidak pernah melalui titik terendah. Karena bagiku, ujian dan cobaan yang ada dalam hidupku selama ini masih bisa kulalui. Tentu atas kehendak-Nya juga. Tapi, yang ku maksud mereka semua bukanlah hal yang begitu berat dilalui. Sebab, personally hal yang berat dan membuat mungkin sebagian dari kita berada di titik terendah adalah saat kita kehilangan orang-orang yang kita cintai, seperti keluarga. Meskipun kematian adalah sebuah keniscayaan. Namun aku hanya manusia biasa, pasti akan berat untuk menghadapi itu semua. Tapi percayalah, Allah SWT selalu ada.

Betul, aku merasa benar-benar cukup dengan semuanya dalam hidupku. Aku merasa tidak pernah kekurangan meskipun katakanlah, aku belum bisa menjamah hal-hal mewah. Bagaimana tidak? Adakah yang kurang setelah kita dikaruniai iman, kemudahan untuk berusaha mencapai taqwa,tak ada masalah kesehatan, mempunyai makanan yang cukup dan dianugerahi keluarga yang harmonis? Apalagi seingatku, sebenarnya aku juga bukan orang yang memiliki banyak keinginan. Contoh kecil, kala itu aku cukup dengan HP butut ketika teman-temanku yang lain sudah menggunakan HP canggih. Aku tidak pernah benar-benar tergiur untuk kemudian mempunyai kekayaan yang orang lain miliki, dan apapun itu. Sekalipun dulu aku pernah di-bully karena fisik aku tidak merasa mendambakan atau bahkan iri melihat fisik yang sudah masuk dalam standarisasi kesempurnaan oleh masyarakat kita. Kecuali jika itu tentang ilmu dan pendidikan. Meski aku bukanlah siswa yang cemerlang. Mungkin karena aku pernah mengklaim bahwa aku sudah merasa cukup dan bahagia dengan mendapatkan akses pendidikan. Bahkan aku kerap berteori pada diriku, jika dengan pendidikan dan keluarga yang hangat aku sudah tidak memerlukan apa-apa lagi. Ilmu yang diperoleh dari baik itu pendidikan formal dan pendidikan yang berasal dari keluarga akan membuat kita kian dekat dengan sang pencipta. Juga menjadikan kita pribadi dengan pola pikir yang lebih baik dan karakter yang lebih apik. But, Wallahu a'lam.

Namun beberapa hari yang lalu aku melewati hari-hari yang cukup berat. Bahkan mungkin bisa diuraikan bahwa aku mengalami stres atau mungkin depresi. Meskipun bukan pada tingkatan yang tinggi. Karena dari beberapa bacaan, seseorang dinyatakan depresi jika sudah dua minggu merasa sedih, putus asa atau tidak berharga. Atau mungkin aku saja yang terlalu membesar-besarkan masalah atau terlalu sensitif pada saat itu. Tapi bagi orang yang masih amat belajar ini, beberapa orang memang setuju, jika masalah keluarga kerapkali menjadi sesuatu yang cukup berat dan pelik. Kala itu, dampaknya, aku merasa menjadi manusia yang paling tidak ada gunanya. Aku benar-benar merasa tidak berguna sama sekali. Aku merasa tidak bisa, belum pernah dan tidak akan melakukan apa-apa.

Aku yakin, hampir semua orang mengalami stres yang berujung depresi meskipun pada tingkat dan masalah yang berbeda-beda. Yang menjadi fokus ialah bagaimana feedback terhadap masalah yang sedang kita hadapi, yang juga kerapkali berbeda-beda. Pada saat itu aku merasa sangat rapuh, tak seperti biasanya, sampai-sampai jatuh sakit lahir dan batin selama tiga hari. Jadi sebetulnya belum ke taraf depresi. Namun tetap saja menguras energi. Kemudian berkat keinginan sendiri (mungkin) dan rahmat Allah SWT, akhirnya aku mampu melewati itu semua. Mungkin ini akan terbaca begitu mandramatisir. Tapi aku sangat sangat sangat bersyukur bisa melewati itu dan insya Allah bisa belajar dari itu semua. Kemudian kembali kepada pikiran-pikiran yang baik dan berhusnudzon kepada Allah dan semua orang yang terlibat.

Sebab bagiku yang paling berat dalam hidup adalah saat kita mudah sekali memelihara pikiran yang buruk kepada orang lain bahkan kepada diri kita sendiri. Sehingga nikmat dari Allah Ta'ala hari ini berupa pikiran yang lebih positif kepada diri sendiri dan orang lain adalah nikmat yang tidak terkira untukku, dan hal semacam itu tidak dapat dimanipulasi. Maka sejatinya ini yang ingin aku sampaikan kepada diriku dan (barangkali) pembaca. Seberapapun besarnya masalahmu, jangan lupakan Allah dan teruslah memohon ampunan serta kemudahan untuk melewati setiap ujian agar menjadi pribadi yang lebih matang. Mmm, aku ingat sekali, satu potongan tulisan dalam buku La Tahzan yang kira-kira begini: "Bahwa hidup bukan tentang menyesali hari kemarin yang telah terjadi atau mengkhawatirkan hari esok yang belum tentu terjadi. Ini adalah tentang hari ini. Tentang bagaimana kamu mengisi dengan hal-hal terbaik hari ini. Bukankah kamu tidak pernah tahu sampai kapan usiamu di bumi." Maka tidak perlu menunggu untuk mengubah pikiran baik. Itulah kenapa, aku ingin sekali mengisi kesempatan usia yang Allah beri dengan sebaik mungkin. Jika memungkinkan, kamu bisa memulainya hari ini juga, saat ini. Jika tidak, setidaknya mulai hari ini kamu sudah berpikir positif jika kamu akan menjadi pribadi yang berpikir posfitif. Hehe. Bukan, bukan untuk toxic positivity dan menolak emosi negatif. Itulah kenapa aku memberikan dua kemungkinan. Lalu Tuhan memiliki banyak sekali kemungkinan. Ya, at the end of the day, it's all about bersyukur. Lagi-lagi bukan untuk membandingkan poin syukur yang kita miliki dengan orang lain. Sebab tiap-tiap manusia mempunyai jalan dan proses yang tak selalu sama.

0 komentar