Terima Kasih Banyak, Ibu

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Maka mungkin aku bisa berkata bahwa aku mendapat keberuntungan saat itu karena doaku dijawab. Doa bahwa aku ingin pekerjaan yang tidak terikat dan bisa leluasa melamar beasiswa. Meski awalnya aku ragu bisa berkontribusi dengan baik, namun pada akhirnya aku selalu bersyukur karena diajak bekerja dengan Ibu Teti Sugiarti.  Yang sebenarnya aku anggap sebagai belajar, bukan bekerja. Jadilah aku tidak pernah menganggap beliau sebagai seorang bos melahirkan selalu dan selalu sebagai guru.

Banyak orang yang bilang aku beruntung karena akan bekerja dengan orang yang baik dan ternyata memang benar. Kadang aku sampai tidak habis pikir kenapa ada orang sebaik beliau dan pernah berpikir apakah ada orang sebaik beliau lagi di luaran sana? Tentu ada. Tapi tidak terlalu banyak ditemukan. Atau pergaulanku saja yang pas-pasan. Hehe.

Sering aku ditanya. Bagaimana bisa diajak bekerja, maksudku belajar dengan beliau. Beberapa hanya penasaran, beberapa barangkali hanya heran. Sebab aku terbilang hanyalah mahasiswi kupu-kupu. Jadi tidak terlalu banyak dikenal oleh dosen, kecuali dosen wali dan pembimbing skripsiku sendiri. Namun sebelum belajar dengan Ibu, sebetulnya aku beberapa kali mempunyai momen yang berkesan dengan beliau.

Pertama, saya aku masih di semester muda, aku ingat betul, aku yang pemalu minta ampun, berusaha keras melatih diri untuk lebih berani speak up. Akhirnya aku kerap menargetkan untuk bisa bertanya, menjawab, atau apapun di setiap kelas. Minimal satu pertanyaan. Meski tak selalu berhasil, namun aku ingat dalam kelas Bu Teti, aku pernah maju ke depan dan memberikan pendapatku, aku lupa tentang apa. Yang jelas, aku ingat sekali saat itu aku mengenakan kerudung tosca, rok motif tosca, dan cardigan putih lengkap dengan keringat dan muka yang kucel sehabis berjalan kaki menuju kelas. Hihi. Aku juga sangat ingat saat Ibu mempersilahkan dan tersenyum dengan hangat mendapati jawabanku.

Momen kedua, saat biasanya aku (dan banyak mahasiswa lain) berjalan dari pertigaan kampus ke ruang kelas. Kala itu aku sudah telat beberapa menit. Dan lalu, tiba-tiba seseorang bermotor hijau berhenti tepat disampingku berjalan. Lalu beberapa detik kemudian menawarkan tumpangan hingga di depan gedung praktikum. Orang itu Bu Teti. Ternyata beliau sering melakukannya pada orang lain juga. Hehe.

Ketiga, saat beliau mungkin mendengar aku mengisi siaran radio prodi dengan segmen yang berbahasa inggris. Meski dengan skill kemampuan bahasa asing yang masih ala kadarnya. Beberapa hari kemudian, di kelas beliau, setelah mata kuliahnya berakhir, beliau menghampiriku. Beliau berkata, "Kamu punya kemampuan bahasa inggris yang bagus, ayo daftar mawapres." Lalu aku dengan penuh keraguan karena label "Si Kupu-Kupu" itu tidak pernah terbesit sedikitpun kemauan untuk mendaftar. Aku hanya tertegun, betapa beliau selalu ingin siapapun bertumbuh. Terlebih mahasiswa-mahasiswinya. Keberhasilan mereka adalah kebahagiaannya juga. Kesedihan mereka adalah derita beliau juga.
____________

Aku memang beruntung. Bagaimana tidak, beliau benar-benar mau membagi ruangan Wakil Dekan denganku. Tak hanya perihal ruangan, layaknya seorang chef, sebagai murid aku benar-benar dibawa ke dapur dan diberi tahu segala macam resep tanpa pernah satupun dirahasiakan oleh beliau. Memang, beliau sama sekali tidak pelit ilmu kepada siapapun. Hampir saban hari selalu ada cerita inspiratif yang beliau bagikan. Sering sampai berjam-jam beliau bercerita, namun tidak pernah membosankan karena selalu ada cerita baru, yang acapkali haru dan menggetarkan.

Beliau telah membuka cakrawala pandangku bahwa setiap apapun ilmu, selama di ridhoi Yang Maha Kuasa, pasti suatu saat akan ada gunanya. Tidak ada yang sia-sia untuk dipelajari. Maka dengan itu bersama beliau aku jadi lebih terbuka untuk belajar apapun. Secara tidak langsung beliau mengajarkan bahwa sejauh apapun jarak akan terasa 'dekat' bila ada niat dan tekad yang kuat. Dan semua hal akan terasa 'murah' saat berkenaan dengan investasi leher ke atas. Lalu semustahil-mustahilnya mimpi, akan terwujud bila didoakan, diusahakan, dan diridhoi oleh-Nya.

________

Selama bekerja aku benar-benar merasa belajar bukan bekerja. Itulah kenapa saat mendapati hasil pekerjaanku yang kurang pas, alih-alih marah beliau malah bilang, "Tidak pa-pa, justru dengan ini kamu bisa belajar, kan." Tidak hanya itu saat menghadapi situasi pelik, beliau menghandle-nya dengan bijak, tidak hanya melihat dari satu sudut pandang saja.

Kala menyelesaikan beberapa tugas, hingga kini aku seringkali berpikir bahwa aku tidak maksimal sehingga pernah beberapa kali ingin sudahan saja. Namun beliau selalu menguatkan sehari setelahnya. Memberikan arahan yang sesuai dengan kondisi hatiku saat itu juga. Bak orang yang dianugerahi memiliki kemampuan telepati. 

Kisah 'belajar' itu bermula usai menjadi research assistant Ibu Ratna, dosen waliku yang juga sangat inspiratif dan berperan banyak dalam hidupku. Aku kemudian diminta beliau untuk sesekali ke kampus saat waktu senggang. Namun  tanggal 13 Januari 2020, aku diberitahu Bu Nurul untuk menemui Bu Teti. Ternyata beliau ingin aku menjadi asistennya. Tanggal 14 Januari 2020 seharusnya bisa menjadi hari pertama aku bekerja (baca: belajar), namun karena tanggal merah, akhirnya aku memulai pada 15 Januari 2020. Dan kini, qadarullah "mengakhirinya" pada 14 Januari 2022 juga. Masya Allah, tidak ada yang kebetulan. Jujur, selama di Ibu banyak pola pikir yang berubah dariku, seperti implementasi dari "Uang bukan segalanya", kemudian "Ilmu bisa diperoleh dari mana-mana" kata Ibu dan lain - lain.

Aku juga bersyukur karena bisa mengenal putri beliau yang juga begitu menyenangkan dan santuy. Padahal usia kami terpaut jauh. Namun bagiku beliau terasa seperti teman dekat, karena sekalinya mengobrol, selalu 'nyambung'. Sedang Ibu selalu menganggapku sebagai keluarga dan kakak dari putrinya. Pemikirannya masya Allah mature di seusianya. Saat pernah bertemu, ayahku bilang, "Sopan sekali anaknya, mau tutup pintu saja masih pamit, dan seterusnya." Tak heran, karena Ibu Teti dan Bapak Bayu juga pribadi ya begitu humble. Aku dua kali mengikuti kuliah tamu yang pembicaranya adalah Bapak Bayu. Satu pesan yang selalu aku ingat, "Dimanapun kaki melangkah, dimanapun kita berkarir dan seterusnya, akhlak selalu jadi nomer satu, jadilah orang yang jujur, kamu akan diterima dimana pun." Hmm, begitulah, selain inspiratif, keluarga beliau adalah keluarga yang seolah tidak ada capeknya untuk bisa bermanfaat. 

Banyak sekali hal yang ingin aku sampaikan tentang beliau hanya sedikit yang bisa aku tuliskan disini. Lebih banyak kebaikan yang akan aku simpan sendiri saja. Lalu jika ditanya tentang kekurangan manusia, tentu akan ada walau sedikit. Karena kita hanyalah manusia. Yang mustahil bisa sempurna.

Ibu, meskipun sebenarnya tidak benar-benar berakhir dan berpisah, saya hanya sangat ingin menyampaikan terima kasih lewat tulisan ini. Jadi tulisan ini bukan untuk menegasikan kebaikan dan jasa-jasa guru-guru saya sejak mengaji, madrasah, SD hingga sekarang. Hanya saja, saya bukan orang yang vocal, jadilah saya ingin sekali menulis ini, insya Allah tanpa ada niat buruk apapun. Tanpa ada unsur membandingkan dan lain sebagainya. Seperti tulisan saya yang lain, saya suka kembali membacanya kelak, saat saya membutuhkan semangat dan inspirasi lagi.

Saya bukan orang yang vokal, namun saya akan selalu mengingat kebaikan dan pesan-pesan Ibu. Saya ingin berterima kasih banyak, karena di saat saya sudah tidak menginginkan untuk mengejar impian saya, Ibu hadir untuk menyemangati selalu. Bahkan pernah Ibu mengizinkan saya untuk fokus belajar mempersiapkan tes beasiswa selama kurang lebih sepuluh hari. Padahal saat itu FP sedang genting-gentingnya membutuhkan sedikit bantuan tenaga. Saya juga berterima kasih karena dikenalkan dengan staff FP yang juga luar biasa humble dan baik sekali pada saya. Dan masih banyak sekali, yang tidak bisa saya sampaikan satu-satu.

Satu doa utama saya untuk Ibu dan keluarga. Semoga sehat-sehat selalu, diberkahkan dan dipanjangnya usianya. Mohon maaf, saya masih banyak sekali kekurangan dan kekhilafan. Semoga Allah ganjar dengan Ibu dan keluarga besar yang selalu dilimpahi kebahagiaan dan senantiasa dikelilingi oleh orang-orang baik. Aamiin-aamiin yaa Rabbal 'alamin.

0 komentar