Pelukan Ramadan
Momen Ramadan memang selalu luar biasa. Dari kecil, Ramadan senantiasa menjadi bulan yang paling dirindukan. Dikenal dengan bulan segudang keutamaan, tidak heran jika ada ungkapan bahwa rugilah orang yang tidak menjadi salah satu yang berlomba, meraih, atau paling tidak mendekatinya.
Pada akhirnya, memang semua terjadi atas kehendak-Nya. Paksaan diawal juga menjadi salah satu cara. Namun, bila kemaksiatan juga mengiringi. Maka beratnya langkah kaki yang tengah menuju pada kebaikan juga tidak bisa dipungkiri.
Itulah kenapa, bagiku, barangkali salah satu cara dahsyat untuk meraih keutamaan di dalamnya adalah terus bermuhasabah. Lagi dan lagi mengingatkan diri untuk menyucikan hati. Meski rasanya amat mustahil. Karena mungkin akan lebih mudah menyuburkan perilaku tak terpuji. Naudzubillah.
Walau begitu, sungguh, jujurlah, jangan mengelak, jika kemaksiatan-kemasiatan itu adalah gumpalan berat nan paling menyiksa. Perasaan bersalah pada orang lain karena menaruh su'udzan, misalnya. Beratnya rasa bersalah pada diri sendiri karena tak berusaha menata hati. Belum lagi, yang paling berat ialah perasaan bersalah dan malu pada Yang Telah Memberi Kehidupan dan Limpahan Rezeki.
Duhai, Ramadan. Jika diibaratkan 'sosok mulia' yang tiada hentinya menuntun pada kebaikan, maka pelukanmu tak hentinya kami tunggu-tunggu. Memeluk jiwa-jiwa yang renta di usia belia ini. Pada sepertiga malam. Pada lembaran ayat-ayat suci al-Qur'an. Pada balutan dzikir-dzikir panjang.
Eh, tunggu dulu. Tak hanya soal itu, dan jangan pura-pura lugu. Pelukan Ramadan juga sangat erat di tiap kita mencoba untuk tak menaruh kebencian pada orang-orang yang tidak sesuai ekspektasi, tak berburuk sangka, tak membicarakan kejelekan mereka sebab paham: bisa jadi kita lebih hina. Pelukan itu juga makin hangat seiring kian hangatnya sikap kita pada orang tua. Seiring usaha kita tak menyematkan iri-dengki pada siapa saja. Seiring uluran tangan kita untuk kaum duafa. Ah, berat bukan main sebab kita juga bisa memilih untuk melakukan kebalikannya.
Hingga kala Ramadan di tahun ini telah berpulang, barulah kita menyadari telah menjadi orang yang merugi karena tak mampu mengendalikan nafsu sendiri. Merugi karena terlalu berharap terhadap sikap dan perilaku orang lain daripada fokus memperbaiki diri. Merugi pada hal-hal yang hanya menguras energi, apalagi pahala. Benar-benar merugi.
Jangan bersedih, sebelum ia benar-benar pergi: kita selalu memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelukannya. Bagian yang tak kalah menggetarkan adalah saat memeluk. Sebab ia akan berulangkali berbisik: "Hati yang bersih adalah cahaya. Lupakan masa lalu dan fokuslah menjaga kebersihannya. Agar terang jalan-jalan yang kamu lalui. Memang tak gampang. Itulah kenapa penting banyak berdoa dengan jiwa yang lapang."
0 komentar