Kejutan Ulang Tahun
Di keluarga, kami tidak terbiasa merayakan ulang tahun dengan segala pernak-pernik yang biasa kita lihat, atau bahkan sampai mengadakan sebuah pesta. Paling mentok kita hanya mengucapkan selamat dan melantunkan doa-doa terbaik. Begitu saja sudah sangat membahagiakan.
Sedang menurutku, sebenarnya yang paling perlu diapresiasi adalah ibu yang telah melahirkan dan seringkali disusahkan oleh kita sebagai anaknya. Meski beliau tidak merasa dibuat susah. Apalagi tepat di hari lahir kita, beliau tengah bertaruh nyawa.
_______
Dulu saat masih kecil, aku, kakak perempuan dan adikku terbiasa saling membuatkan 'pesta' yang begitu sederhana saat tiba hari ulang tahun kita masing-masing. Kita akan riweuh menghias dinding, membuat kue ultah dari roti-roti kecil, menyiapkan penutup mata sebagai cara untuk memberikan kejutan, yang padahal sudah diketahui sebelumnya. Tak lupa kado-kado mungil yang terbungkus rapi berisi chiki-chiki berharga ratusan perak saja.
Adalah Mbak Aisyah, kakak perempuanku yang saat itu masih SD, mungkin kelas 2 atau 3, aku lupa tepatnya. Yang ku ingat, ia memang selalu punya cara-cara unik bahkan nyeleneh untuk bermain bersama adik-adiknya. Dia mampu membuat permainan yang seru walau hanya bermain di rumah. Permainan yang paling kusuka adalah "Tresure Hunt" yang entah ditirunya darimana. Ia mulai membuat peta dengan selembar kertas dan sebuah pena. Lalu kami begitu antusias mencari harta karun dan menyusuri tiap sudut rumah dengan interuksi dari peta itu.
Bahkan aku ingat, kami pernah begitu senang membuat dan menghias 'pohon natal'. Aku dan Mbak memotong sendiri bagian ranting tanaman di halaman rumah, yang memang kerucut bentuknya. Lalu kita mulai menghias dengan tali-tali ber-glitter sisa hajatan saat kakak pertamaku menikah. Sambil menghias, kita menyanyikan lagu jingle bells bersama-sama. Ampun, deh! Ada apa sih dengan anak-anak ini? 😆
________
Minggu lalu, aku bersyukur sekali menyaksikan adikku, Matus dan keponakanku, Muna mencuci piring dan masak-masak bersama. "Ciee, alhamdulillah, anak kembar kompak," kataku mengomentari mereka yang sibuk membuat kue. Awalnya ku pikir karena ada Rohman dan Anam. Ternyata tiba-tiba saat kita berkumpul di Mushola, lampu dimatikan dan mereka menyanyikan lagu ulang tahun. Ibu spontan nyeletuk, "Kok malah nyanyi, bukan sholawat". Haha.
Mereka kemudian menyodorkan kue brownis buatan sendiri lengkap dengan tiga buah lilin berjejer rapi. Seketika aku terharu, dan ingin menangis. Namun urung karena direkam, suasana malah jadi mencekam. Hehe *canda. Diminta untuk meniup lilin, akhirnya ku tiup begitu saja---lucunya---tanpa berdoa karena aku bingung. Hehe. Kejutan tambah meriah diiringi teriakan merdu oleh keponakanku, Nuh dan tingkah gemas Daud.
Aku pikir hal-hal seperti ini tidak penting (maksudku hal-hal untuk saling memberikan sedikit perhatian, yang bentuknya tidak mesti berupa sepotong kue). Namun ternyata memang membikin haru. Aku sangat mengapresiasi niat baik mereka, waktu luang yang sudah dihabiskan untuk mempersiapkan, dan doa-doa yang dengan tulus dipanjatkan.
Namun hakikatnya, bagaimana pun cara kita memperingati hari kelahiran, semoga tidak lupa merenungi usia yang kian berkurang. Juga mulai melihat kembali, bahwa ada banyak hal yang perlu satu-satu kita syukuri. Termasuk saat Allah SWT anugerahkan adik-adik dan keponaankan yang baik dan tidak neko-neko, insya Allah.
_________
Setelah terharu, doa-doa dilantunkan, aamiin-aamiin diucapkan. Kita mengobrol ceplas-ceplos:
"Eh, iya. Ultahku kan besok," kataku bingung.
"Kan pake kalender Hijriyah," kata Matus menjelaskan.
"Hahaha, bagooos!!! Tradisi yang ngga islami, bisa ditutupi dengan ini, ya." Kami pun tertawa.
Di nyaris paling akhir obrolan, Matus tiba-tiba nyeletuk: "Jadi udah umur berapa, nih?"
"Kurang ajaaar!," ku jawab sambil melemparinya sebuah bantal.
_________
Anyway, perayaan tidak selalu berarti buruk. Sebab bisa saja menjadi sebuah jalan untuk bersedekah. Hanya saja, semoga kita tidak menjadi hamba-hamba yang melampaui batas dan masih berada pada jalur-jalur yang tepat. Aamiin. "Teruslah belajar, Nak."
0 komentar