Penghambat Kemajuan

Pernahkah kalian merasa kecewa karena ekspektasi yang mungkin perlu terlalu tinggi. Terlalu naif menganggap bahwa semua orang itu bersih. Maksudku, semua orang yang terlihat baik di luar akan selalu baik kepada kita di belakang.

Namun ternyata memang tak selalu benar.
Tidak selamanya orang yang terlihat baik sekali di depan, tidak pernah mengecewakan saat di balik layar.

Ini yang seringkali membuat kita sakit sendiri. Membayangkan betapa tega orang-orang semacam itu. Atau kenapa bisa ada orang-orang seperti itu.

Kita tidak sedang bilang bahwa kita adalah manusia paling suci di dunia. Tapi bukankah menjadi seorang yang berbeda di depan dan belakang harusnya adalah beban yang begitu berat?

Lalu sebenarnya kita perlu menarik benang merah. Daripada terus menyuburkan rasa sakit, jauh lebih baik jika apa-apa yang kita alami adalah sumber pembelajaran hidup paling dahsyat. Sebuah pelajaran untuk bersikap lebih hati-hati kepada setiap orang. Hati-hati pada siapa kita berbagi kisah.

Apalagi, barangkali sengaja atau tidak kita juga seringkali melakukan hal yang sama. Sehingga kita pun perlu hati-hati atas itu. Dengan begitu kita akan kembali tersadar bahwa pada pribadi tiap-tiap manusia terselip banyak warna.

Jangan kaget dan jangan putarkan mata lalu langsung membenci seseorang yang berbuat tidak sesuai dengan harapan kita. Justru ini adalah ajang peringatan untuk tidak terlalu bergantung kepada manusia.

Menjadi baik adalah bukan karena seseorang telah berbuat baik kepada kita. Juga bukan karena kita harus berbaik dan membalas kebaikannya. Karena yang terpenting adalah selalu berusaha mengutamakan-Nya sebagai alasan.

Selain itu, lihat dan ingat kembali kebaikan-kebaikannya. Selalu ada sisi untuk membuat keadaan menjadi lebih baik lagi. Jangan merusak susu sebelanga karena nilai setitik. Hingga berhari-hari lumayan cukup menguras banyak energi untuk memikirkan pertanyaan yang tak beranjak, di situ-situ saja.
Ingat, tak ada jaminan bahwa kita sosok yang tidak lebih hina darinya. Berdamailah dengan itu.

Mulailah memaafkan diri atas setiap kesalahan yang mungkin sama. Atas hari-hari yang terlewati dengan terlampau memikirkan bagaimana sikap orang lain. Bukan malah merenungi untuk kian memperbaiki diri dan menata hati. Jika sudah begitu, racun semacam ini hanyalah penghambat kita untuk maju.

0 komentar