Jeratan Si Durjana

Seingatku sudah cukup lama tak merasa jengkel dan marah di level yang lumayan seperti ini. Alih-alih nonjok-nonjok tembok layaknya tontonan di televisi, aku hanya mampu berderai air mata saking kesalnya. Lalu ujung-ujungnya, seperti biasa, buruknya: menyalahkan diri sendiri karena tak mampu bersabar.

Hmm, kita memang manusia biasa, yang selain diberi kesabaran, juga diamanahi amarah. Namun di momen itu, dari rasa yang tengah membara kala itu, aku jadi belajar lagi betapa beratnya menahan amarah. Tak berlebihan sabda Rasul, bahwa orang kuat dan tangguh bukanlah mereka yang handal berkelahi. Melainkan yang pandai mengelola amarahnya.

Betul. Aku yang seharusnya berwudhu, berdoa atau paling tidak duduk dulu, malah memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Hingga beberapa menit berlalu akupun berpikir lagi: kalau terjadi kecelakaan, sungguh, aku tidak hanya akan menyusahkan banyak orang. Karena saat ada orang yang meregang nyawa sebab ketidaksabaranku mengatur emosi, pastilah aku hidup dengan rasa bersalah yang bertambah-tambah sebab kebodohan sendiri.

Lalu kalau aku yang harus mati, bukankah sama saja dengan bunuh diri? Haduh, membayangkannya saja sudah begitu ngeri.

Sejam kemudian, masih tak ada yang bisa menjadi tempat pelampiasan. Dan memang harusnya begitu. Untuk apa melampiaskan kemarahan pada orang yang tidak tahu menahu? Alih-alih menyelesaikan masalah, malah membuat pikiran kian runyam.

Namun alhamdulillah, guyuran rasa yang menyebalkan itu akhirnya reda juga. Sesal datang berduyun-duyun melingkupi diri setelahnya. Katanya: Kenapa harus marah? Kamu mau berusaha menjadi hamba yang baik, kan? Meski normal, bukankah kamu juga bisa mengontrolnya?

Walau belum merutuki siapa-siapa (kecuali diri sendiri dan itu juga tak baik), ternyata menyesal juga karena seolah gagal menjadi pribadi yang tak gampang tersulut amarahnya. Apalagi, saat dengan itu, kita mungkin akan dengan mudah menyakiti perasaan orang lain, terlebih orang-orang terdekat kita. Padahal, merekalah sosok yang akan selalu menerima bagaimanapun kebobrokan yang masih lekat dengan kita.

Jadi, barangkali itulah kenapa sesal selalu datang di episode terakhir. Agar kita tahu, betapa besar balasan bagi orang yang mengendalikan diri atas bara yang dilemparlan setan. Duh, semoga dan semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita dari jeratan iblis yang durjana.

0 komentar