Memilah Sampah, Berbuah Berkah

Waktu masih kecil aku ingat sekali sering bermain apa saja dengan teman-teman. Zaman memang cepat sekali beralih. Saat itu kami belum mengenal gadget. Aku dan teman-teman menggadrungi ragam bentuk permainan sepulang sekolah atau madrasah. Seperti anak lain, kami bermain petak umpet, gobak sodor, lompat tali, benteng-bentengan, masak-masakan, atau bahkan "permainan" mencari rongsokan dan saling berlomba untuk menjadi anak yang mengumpulkan paling banyak diantara yang lain.

Biasanya kami akan membuat grup-grup yang terdiri dari dua sampai tiga orang. Selain karena bisa mendapat uang jajan tambahan, bagi kami yang paling menyenangkan adalah karena mampu berkelana kemana-mana. Sebab aku dan teman-teman akan menyusuri rumah demi rumah warga yang dikelilingi sampah-sampah.

Sampah-sampah yang berserakan itu sebelumnya sempat terbawa air hujan yang meluap beberapa hari sebelum. Bahkan kami juga mengecek selokan di sepanjang jalan. Selokan yang tidak berbau karena hanya dilewati air hujan dan akan kering saat tak turun hujan.

Aku dan teman-teman dulu hanya menganggap itu sebatas permainan yang asyik karena tidak ada yang menyuruh kami, apalagi memaksa. Kami beruntung, orang tua masih dimampukan untuk memberi akses pendidikan dasar dan uang saku yang cukup.

Lalu kemana kami menjual hasilnya? Waktu itu banyak sekali orang-orang yang berprofesi mengumpulkan sampah-sampah atau biasa disebut pengepul datang ke setiap rumah di desaku. Pengepul itu nantinya akan memasok sampah terpilah ke pedagang/pengepul besar barang rongsokan.

Sampai akhirnya kebiasaan itu makin kesini kian hilang. Selain pengepul yang sering pulang dengan tangan kosong, kini sampah di selokan dan tempat-tempat lain semakin mudah dijumpai. Dulu, tiap ibu-ibu desa menjadi salah satu pemasok terbesar mereka, hasil dari memilah sampah domestik.

Nah, akhir-akhir ini setelah menyapu, aku juga kerap berpikir, sayang jika sampah yang sebenarnya masih bisa didaur ulang malah dibuang begitu saja. Bahkan seringkali dibakar. Maka aku mencoba mengumpulkan sedikit demi sedikit sampah domestik dari konsumsi sehari-hari di rumah kami. Ada gelas plastik juga, bekas minuman kalau sedang ada tamu. Aku kemudian menyiapkan tempat sampah yang terpisah untuk sampah organik dan anorganik.

Ya, sedikit-sedikit lama-lama benar-benar jadi banyak. Aku berhasil mendapati tiga kotak kayu bekas sayur (seperti di foto) itu hampir penuh. Dua kotak sold out dan sisa satu kotak (slide kedua) jenis sampah botol yang ternyata belum dibutuhkan pasar untuk saat ini. Harga yang dipatok pun berubah-ubah. Dari hasil penjualan, aku mendapatkan Rp.7000,-. Wow! Ini bukan perkara berapa rupiah yang bisa didapat. Tapi ternyata semenyenangkan itu memilah sampah yang tadinya dibuang begitu saja, malah bisa menghasilkan dan bermanfaat.

Sebenarnya awalnya aku berpikir (bukan merasa menjadi sangat kaya raya sampai-sampai tak butuh uang) untuk menghibahkan saja sampah-sampah itu pada pengepul. Ini opsi yang juga bisa kamu pilih untuk memberikan sampah hasil pilahan ke pemulung cuma-cuma. Namun aku berpikir lagi. Takut justru itu yang mungkin akan melukai hati beliau karena tidak menghargai profesi mulianya sebagai pengepul. Jadi lebih baik aku ambil saja uangnya (Hehe, ini ngeles ngga, sih).

Barangkali itulah kenapa ada seorang doktor yang meski telah menapaki tanah Eropa untuk menimba ilmu tetap tidak sungkan untuk memulung. Beliau menjalaninya dengan penuh suka cita. Namun jangan salah paham, beliau sudah memiliki 20 lebih karya berbentuk buku. Bahkan salah satunya ditulis di penjara menggunakan kertas bekas bungkus obat nyamuk sebagai medianya. Beliau menyiratkan pesan bahwa ikut andil untuk menyelamatkan lingkungan bukan merupakan aktivitas rendahan, tapi justru sangat mulia. Betulkah kita sebagai manusia hanya mampu menempati bumi tanpa pernah merawat malah kian merusak? Baginya, itu yang membuat ia semakin memiliki nilai dalam berkehidupan.

Di lain kesempatan, lihatlah. Orang-orang justru berlomba-lomba dalam keburukan. Dengan gampangnya membuang sampah ke sungai hingga bertumpuk-tumpuk. Padahal seingatku, saat masih SD, tak separah ini. Sekarang? Tanpa merasa bersalah, beragam sampah dilayangkan ke kali begitu saja. Popok-popok bayi, aneka sampah plastik dan masih banyak lagi dengan sekejap menggangu sapuan mata, memenuhi tempat yang harusnya terisi air irigasi saja.

Tidak ada lahan khusus TPS (tempat penampungan sementara) dan tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah menjadi salah satu yang membuat mereka dengan mudah melakukan pembuangan sampah ke sungai. Kalau dulu (sampai saat ini pun masih) masyarakat desa (termasuk aku. Hiks) terbiasa membakar sampah, dewasa ini mereka seolah tidak mau ambil pusing dengan membuangnya ke sungai. Walau aku tidak bilang jika membakar adalah cara yang dibenarkan.

Memang, kebiasaan buruk ini tidak mudah dihilangkan begitu saja. Tidak hanya dengan melakukan sosialisasi tentang pengelolaan sampah yang baik dan benar, jadwal rutin gotong royong bersih desa dan menyediakan anggaran khusus untuk pembebasan lahan yang nantinya digunakan sebagai TPS. Tapi rasanya usaha-usaha itu perlu dilakukan, dicoba. Lebih jauh lagi jika desa bisa mempunyai bank sampah sendiri. Masyarakat akan lebih sadar betapa sampah juga bisa bernilai dan secara bersamaan meningkatkan nilai mereka sebagai manusia, seperti prinsip yang dianut sang doktor.

Kita bisa memberi sedikit perubahan, paling tidak dari hal yang paling kecil, dimulai dari lingkungan kita sendiri. Dengan belajar memilah sampah, kita akan memetik berkah. Berkah itu bisa berupa nilai ekonomi pada sampah dan kontribusi kita untuk menyelamatkan lingkungan. Lalu kita lagi-lagi dibikin menelan ludah dengan konsep reuse, reduce dan recycle yang penerapannya tidak mudah. Eh, afirmasi positif: kalau ada kemauan, karena Allah, apapun itu akan mudah.

0 komentar