Terima kasih, Guru-guruku!
Bapak dan ibuku tidak bisa baca tulis latin (Tapi sampai tulisan ini di terbitkan, bapak sudah bisa sedikit membaca, belajar secara otodidak), jadi seingatku orang yang pertama kali mengajariku cara membaca dan menulis adalah guruku semasa SD. Aku sangat berterima kasih karena sampai pada hari ini aku bisa dan berusaha menggunakannya sebaik mungkin. Mereka adalah guru-guru SD terbaik sepanjang masa.
Pernah didelegasikan untuk mengikuti perlombaan pada tingkat sekolah dasar tapi mereka tak menghakimi saat tak membawa pulang piagam kejuaraan. Pernah merasa menjadi sangat berbeda dari murid lain, karena mudah menangis saat sering dibully, namun beliau menguatkan, menenangkan dengan sepenuh hati.
Di bangku MTs, kutemui guru-guru yang juga hebat. Dulu aku ingat sekali waktu guru pengajar mapel Bahasa Arab-ku susah payah mengantarkanku ikut lomba. Setelah menyaksikan peserta yang nampak keren-keren, aku menyangsikan diriku dengan performa yang seadanya. Sempat berpikir untuk tidak tampil dan ingin pulang saja. Namun tidak tega melihat beliau yang terus mendukung dan mengulum senyum. Akhirnya aku berjalan mantap menuju panggung. Langkah kakiku terasa begitu ringan. Mungkin karena terbantu ventilasi udara dari sepatu butut yang sudah bolong. Hehehe. Mengenang ini aku jadi tersenyum-senyum sendiri.
Namun ada satu cerita yang membuat aku bersalah hingga kini. Kala itu ada seorang guru, guru mata pelajaran Bahasa Inggris, yang kalau mengajar pasti selalu ditanggapi dengan malas-malasan oleh teman-teman atau mungkin kami. Sepertinya aku juga ikut berkontribusi dengan kejadian itu. Padahal itu adalah pelajaran favoritku. Tapi beliau selalu sabar dan tetap mengajar. Entah karena tidak paham apa yang diajarkan atau memang kami saja yang (pastinya!) kurang menghargai beliau mengingat pemandangan itu konon sudah biasa terjadi. Setidaknya itu yang aku tahu dari cerita-cerita kakak kelas, katanya malah sampai ada satu kelas yang dengan tega pernah mengusir beliau. Padahal siapa yang tahu betapa panjang perjuangan beliau hingga bisa menapaki ruang kelas. Duh, maafkan kami, Tuhan.
Guru-guru yang amat baik juga aku kenal kala menimba ilmu di MA. Mereka yang terbuka dengan pilihan murid-muridnya. Ada yang sudah seperti keluarga. Bahkan tak terbilang yang mampu mendobrak pemikiranku untuk memiliki sudut pandang yang jauh lebih luas dan bermimpi besar. Sungguh, aku sangat beruntung memiliki guru-guru seperti mereka.
Memasuki dunia perkuliahan aku dipenuhi syukur yang makin bertambah kian hari. Dari dulu aku memang selalu berdoa, semoga Allah SWT karuniai guru, teman dan lingkungan yang luar biasa. Itulah kenapa, tiap mengajar, aku selalu belajar bagaimana mereka berlaku. Alih-alih fokus memperhatikan "isi" perkuliahan yang disampaikan dosen, aku malah lebih sering menebak-nebak dan membayangkan seperti apa jalan hidup yang berhasil mereka lewati hingga sampai di tahap ini. Apa buku yang mereka baca, dan lain-lain.
Tempat les menjadi saksi bisu kudapati guru-guru yang tak kalah mengesankan. Salah satu yang membuatku sadar bahwa tiap manusia dianugerahi potensi adalah kalimat dari beliau yang mengomentari tulisan harianku sebagai tugas. "I like your writing (dengan emoticon senyum)," tulisnya. Aku sempat tidak percaya, atau mungkin beliau hanya ingin membesarkan hatiku. Namun, bagi seorang yang terbiasa tidak percaya diri sejak kecil, insecure atau apalah penamaannya, kalimat itu sungguh menyadarkanku untuk berterima kasih pada Sang Pencipta. Kalimat yang empowering.
Dari sekian banyak cerita, lebih banyak yang belum aku sampaikan, namun satu yang menjadi, katakanlah, sesuatu yang mengakar pada diri. Ialah selama menjadi pelajar/mahasiswa, aku tidak mau terlalu dekat dengan sosok seorang guru. Selain aku (pada banyak momen) tidak bisa banyak berbicara melainkan lebih menyukai untuk diam, bagiku mereka terlalu mulia dan hanya cukup mengagumi dari jauh saja. Bahkan aku sering menyamai mereka dengan seorang Kiai yang bagiku perlu disegani.
Berjalan didepan mereka haruslah dengan gesture tubuh yang agak merunduk. Berbicara dengan mereka haruslah dengan pemilihan kata-kata yang tepat (Ah, mungkin juga ini yang menjadi salah satu alasannya. Karena aku merasa tak cukup pandai menjaga sikap). Apalagi aku tidak ingin, selama menjadi pelajar, prestasi yang aku dapatkan adalah karena kedekatan dengan mereka. Padahal itu hanya paradigma saja yang kadang menjelma tuduhan tak berdasar bahwa mereka tak objektif dalam menilai (Halah, lagian PeDe betul. Padahal prestasi cenderung masih nihil. Hehe).
Intinya semoga kita selalu berusaha untuk tidak lupa mengirimkan doa bagi mereka. Guru sedari kecil hingga saat ini. Guru madrasah, guru mengaji, guru sewaktu PKL dan sebagainya. Mereka benar-benar pahlawan tanpa pamrih. Serupa orang tua sendiri, mereka akan tersenyum bangga di detik-detik kita 'berhasil'. Mereka 'menangis' kala kita dirundung nestapa.
Mereka adalah salah satu alasan terbesar kenapa kita tak mau berhenti mengejar mimpi. Karena bagiku, bila melihat orang tua yang sudah bersyukur anaknya bisa baca-tulis (Eh, atau aku saja yang tak paham maknanya secara luas, ya), mungkin aku sudah sangat merasa lebih dari cukup untuk mengamalkan itu semua. Maksudku, untuk mulai mendisiplinkan diri----sebab mungkin aku bahkan pernah memulai namun sering terhenti. Akan tetapi, setelah melihat bagaimana tulusnya para pahlawan tanpa tanda jasa itu membagi ilmu, juga doa-doa yang tidak pernah absen mengalun, aku jadi berpikir lagi, selain ilmu-ilmu yang kelak harus dipertanggung-jawabkan, ada mereka yang harus kita banggakan.
Meskipun pada akhirnya barangkali impian mereka begitu sederhana. Sesederhana kita menjadi manusia yang baik dan mampu menebar kebaikan. Tertulis begitu sederhana, sedang implementasinya dipenuhi rentetan perjuangan. Ah, sudah dulu ceritanya. Mengenang jasa mereka, rasanya tak berlebihan jika air mata bergulir tiba-tiba. Kalau ditanya perihal kenangan buruk bersama guru, rasanya Alhamdulillah tidak ada atau bahkan lupa. *Ah, sudahi dulu peres-nya, hade. (Hatiku kecilku mengejek).
~
Terima kasih, guru-guruku. Semoga kebahagiaan dan kesehatan senantiasa menyertai kalian. Maafkan kami. Maafkan saya belum berkesempatan membanggakan. Doakan kami. Doakan saya. Selamat hari guru, Pak, Bu.
0 komentar