Bagiku, pada banyak momen, dunia itu seringkali unik atau bahkan membingungkan. Ada banyak hal yang membuatku bingung dan bertanya-tanya. Salah satunya seperti sekarang ini. Kala aku tengah menikmati kepingan dari bagian pernik kecil dunia bernama Media Sosial. Disitu ada beberapa lapisan tujuan yang membuat adanya beragam 'makanan' yang bisa ditelan penggunanya, seperti ilmu, karya-karya mulai dari yang asal hingga yang paling niat nan bermutu, teman, dagangan atau sekedar bahan hiburan bahkan propaganda yang sengaja diselubungkan agar mudah merajelela.
Pertanyaanku satu, jika kemudian terlalu banyak hal yang tidak termasuk dalam prioritas tetapi mampu memenuhi sebagian besar dari isi kepala maka: apa pentingnya? Iya, terlalu banyak informasi agaknya menjadi salah satu bentuk berlebih-lebihan atau mungkin bisa sarat akan kesia-sian yang seiring berjalannya masa tidak menyehatkan jiwa dan pikiran. Hal-hal itu kadang-kadang bukan menjadi jalan untuk menghapus beban, melainkan hanya semu. Justeru semakin memberatkan saat kian diulang-ulang.
Inilah yang mendorongku untuk off line untuk beberapa waktu pada beberapa kesempatan yang aku punya. Itu bukan berarti aku tidak ingin terus relevan dengan zaman. Hanya saja, ingin mendapati suasana hati yang lebih tentram dan nyaman. Apalagi tanpa harus dipublikasikan. Memang, semua bisa menjadi pelajaran, apalagi perihal kebaikan. Barangkali bisa menjadi bahan untuk terus saling mengingatkan. Namun kadang, perasaan takut koyaknya iman dan taqwa yang dirasa begitu tipis dengan beragam penyakit hati di era kekinian juga acapkali membuat langkah tertahan dan kalbu meringis.
Sampai harus seperti itukah? Padahal, kan, tidak semua orang mengikuti banyak sosok-sosok populer dalam media sosialnya, apalagi jika mereka adalah role model penggugah semangat dan inspiratif. Juga, tidak semua orang juga tidak memiliki visi yang jelas untuk itu. Ada banyak pihak yang kemudian telah merancang matang-matang agar banyak umpan yang bisa tertarik dan masuk dalam 'kandang'. Sehingga, bagi orang kebanyakan, muskil untuk terlalu banyak terpapar ilusi lalu lupa untuk bergerak memperkaya kapasitas diri, bukan hanya sibuk dengan hidup 'sosok' lain. Sedang bentuk visi terancang tetap tidak lepas dari target pasar dalam memasarkan produk-produknya. Tidak, tidak, masih banyak yang menyodorkan kebaikan. Lagipula, bukankah semua tergantung pada sang empu diri apakah mau menyerap lebih mendalam banyak pelajaran agar lebih memaknai kehidupan?
Sungguh. Bukan begitu maksudku. Hanya saja, penting untuk berbicara dengan diri sendiri agar kian memahami kebutuhan diri. Jangan sampai media sosial membuat jati diri yang sudah dan sedang terbentuk dari kecil, kepalang terkikis karena telalu menyibukkan hidup dengan hidup dan pencapaian orang lain. Melupakan kenyataan bahwa tiap manusia memiliki hidup dan kesempatan yang sama untuk lebih memaknai hidupnya. Karena meski banyak yang bisa diambil, aku dan media sosial adalah dua hal yang berbeda. Aku perlu lebih mengerti diriku ketimbang lebih memahami seluk beluk yang tersebar di media sosial, yang kadang kala tidak membuat pribadiku menjadi lebih baik lagi.
0 komentar