Jangan Sampai Lupa Jati Diri


Dulu kita adalah pribadi yang peduli. Sekarang kenapa begini?

Dulu kita adalah pribadi yang amat tangguh. Sekarang kenapa begini?

Dulu kita adalah pribadi yang penuh semangat. Sekarang kenapa begini?

Dulu kita adalah pribadi yang terus berpikir positif. Sekarang kenapa begini?

Dan seterusnya.

Mungkin pertanyaan demikian pernah hinggap di dalam pikiran hampir semua dari kita. Saat kemudian karakter-karakter baik dalam diri seringkali terasa kian surut. Seolah kita kian jauh dari nilai-nilai kebaikan. Yang dulunya kita adalah orang yang begitu rajin. Sekarang terasa sekali jika kita pemalas dan lebih sering bermalas-malasan. Kenapa bisa begitu?

Sejatinya dalam hati manusia sudah tertanam sifat baik sejak ia diciptakan. Sehingga kebaikan-kebaikan yang tercermin dari karakter mereka adalah fitrah. Itu sudah pemberian dari Yang Maha Kuasa dan tidak bisa diingkari. Dalam banyak kesempatan kita sering mendengar istilah nurani. Kita pada hakikatnya tidak akan pernah bisa membohongi hati nurani kita. Kecuali jika kita selalu berusaha mengabaikannya, hingga akhirnya kita terbiasa untuk tidak mendengarkannya barang sedetikpun.

Sama halnya dengan karakter baik yang sebenarnya sudah menjadi jati diri setiap manusia. Oleh karenanya, jangan sampai melupakan jati diri. Bukankah pasang surut itu benar adanya. Hanya saja selalu ingatkan diri, bahwa menjadi pribadi yang baik dengan kapasitas dan kualitas yang diperhitungkan adalah hak setiap orang. Jemput lagi, kejar lagi jika memang jati diri itu mulai menjauh. Karena kita hanya tinggal mendekat dan meminta pada Yang Maha Memiliki segala.

Sekalipun dulu kita belum sempat menjalankan karakter baik itu di masa lalu, tetaplah meminta agar mudah mengaplikasikannya di masa sekarang dan masa yang akan datang. Tidak ada yang mustahil jika Tuhan berkehendak. Karena selama napas masih berhembus, sebagai manusia kita semua memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi lebih baik, lagi dan lagi.

0 komentar