Aku sudah biasa diremehkan. Jadi aku paham bagaimana rasanya diremehkan. Itu yang membuat aku amat takut meremehkan orang lain. Sebab aku pernah merasakannya, diremehkan. Pun kalau aku tidak pernah diremehkan, bagiku perbuatan meremehkan orang lain adalah perbuatan yang tidak terpuji dan patut dijauhi.
Akan menjadi sangat lucu jika orang yang diremehkan justeru meremehkan orang lain. Padahal ia tahu bagaimana rasanya diremehkan. Hanya membuang waktu jika kita menghiraukan orang yang meremehkan. Lebih baik maju, bergerak, hidup bukan untuk membuat mereka terkesan dan agar kita tidak diremehkan. Tapi hidup untuk kebermanfaatan, bukan perihal remeh meremehkan.
Lagipula hakikatnya setiap orang memiliki kelebihan, bagaimana bisa kita meremehkan jika kenyataan dan janji Allah memanglah demikian?
Pun bagus jika kita diremehkan. Dengan begitu kita bisa melangkah, maju ke depan, tanpa ada yang menganggap bahwa kita adalah saingan. Kita bisa bebas berkarya dan melenggang.
Omong-omong tentang saingan, sebenarnya saingan terberat kita adalah diri kita sendiri. Berperang melawan diri sendiri. Diri kita adalah saingan kita. Kalau dalam berwirausaha, tidak ada yang namanya saingan. Yang ada hanyalah mitra. Kata Pak Novianto, mereka yang menganggap dirinya sedang bersaing dengan pengusaha lain hanyalah para kaum kapitalis. Sedang kita adalah mitra. Bekerja sama.
Jadi sungguh aneh tapi nyata jika ada seseorang yang pandai meremehkan orang lain hanya karena terlihat tidak memiliki kemampuan atau bahkan karena sebenarnya menganggap mereka adalah saingan. Sebab yang ada (sekali lagi) adalah bekerja sama untuk sama-sama menciptakan kebermanfaatan.
Aku pernah membaca quote yang mampu membuat ulu hatiku ngilu. "Orang yang bisa menghentikan mimpi kita adalah kita sendiri," kira-kira begitu bunyinya. Orang yang mampu membesarkan atau mengkerdilkan semangat dalam dirimu adalah dirimu sendiri. Sepersekian persen berasal dari luar. Bersyukurlah untuk itu.
0 komentar