Aku dulu juga begitu. Ada masa dimana aku malas sekali pergi sekolah. Entah, malas sekali rasanya. Mungkin karena nilai juga pas-pasan, sering dibully orang yang sama, atau memang karena malas saja.
Jadi begini, aku duduk di bangku pertama SD pada usia 6 tahun. Karena sakit, beberapa hari aku absen di kelas. Sampai seminggu, sebulan dan seterusnya meski aku sudah lama sembuh. Pagi itu, aku diberi tahu teman, jika namaku sudah dicoret dari absensi. Aku pun bilang, "Ya sudah coret saja."
Beruntungnya aku punya Ibu yang benar-benar pengertian, tidak mau memaksakan kehendak. Katanya dengan sabar, "Kalau memang belum mau sekolah lagi, ya sudah masuk tahun depan saja."
Anak kecil tidak butuh paksaan, tapi kasih sayang dan sentuhan pelan-pelan. Aku bersyukur mendapat itu dari Ibuku. Anak kecil juga tidak perlu dibentak dan dikatai kasar. Itu justeru makin membuatnya tidak memiliki siapapun untuk berteduh. Aku pun bersyukur, Ibu selalu memayungiku dengan perkataan baik.
Jangankan anak kecil. Hingga kini pun aku masih amat membenci perkataan-perkataan kasar dan hardikan.
Bukan perkara mudah untuk membiarkan anak memilih apa yang ia mau, yakni tidak bersekolah. Tapi Ibu melakukannya untukku. Ia rela. Ia tidak khawatir akan jadi apa aku nanti. _Que sera sera._ Ia dengan sabar mengikuti jalanku. Sesekali ia memintaku belajar sendiri. Aku akhirnya setiap hari belajar membaca dan menulis dari sebuah acara di kotak televisi.
Tahun berikutnya. Pagi. Dingin. Menusuk tulang. Aku dibangunkan Ibu untuk mandi. Kemudian Ibu memakaikanku seragam merah putih. Aku ingat sekali saat itu. Entah dari mana semangat tiba-tiba meluap-luap dalam diriku. Barangkali dari benih kesabaran yang selama ini Ibuku tabur.
Aku berangkat sekolah tanpa ada paksaan. Bahkan meski seseorang yang membully itu masih ada dan masih membullyku aku tidak peduli! Setiap malam aku belajar tanpa disuruh. Tidak merasa terbebani. Apalagi pelajaran membaca, menulis dan menggambar. Jika sudah sampai di pelajaran menghitung, secara alamiah aku akan mengerutkan kening.
Mengingat hampir semua saudaraku mendapat peringkat satu, Ibu tidak mempermasalahkan peringkatku yang bernominal belasan. Barangkali, kata Ibu, semua insan selalu dikaruniai dengan kelebihan dan kekurangan yang acap kali berbeda-beda. Ibu memang tidak pernah mengungkapkan itu padaku. Tapi aku memahaminya. Pun sebenarnya, apa tujuan kita untuk bersekolah? Untuk menghilangkan kebodohan? Untuk mengoleksi banyak tropi? Untuk meraih juara kelas? Untuk mendapat nilai-nilai bagus? Untuk menerima banyak pujian?
Aduhai, apalah arti tropi, juara dan pujian jika pada hakikatnya kebahagiaan tidak kita dapatkan dari situ. Melainkan kasih sayang Allah yang Dia titipkan pada ibu kita, ayah kita, nenek kita, saudara kita, keluarga kita, dsbgnya. Apalagi kalau kompilasi dari keduanya; kasih sayang dan prestasi. Prestasi dalam arti luas. WOW!
Lihatlah, Ilul (nama panggilan) telah beranjak dari tempat tidurnya. Akhirnya mau bersekolah setelah dibujuk pelan-pelan. Aku percaya, kejadian traumatis dan lain sebagainya itulah yang membuat Ia agak bebal jika diberitahu. Maka sebenarnya Ia hanya butuh kasih sayang, bukan hardikan atau cacian.
Ah, lagakku pagi ini sudah seperti Emak-emak kepagian.
Jadi begini, aku duduk di bangku pertama SD pada usia 6 tahun. Karena sakit, beberapa hari aku absen di kelas. Sampai seminggu, sebulan dan seterusnya meski aku sudah lama sembuh. Pagi itu, aku diberi tahu teman, jika namaku sudah dicoret dari absensi. Aku pun bilang, "Ya sudah coret saja."
Beruntungnya aku punya Ibu yang benar-benar pengertian, tidak mau memaksakan kehendak. Katanya dengan sabar, "Kalau memang belum mau sekolah lagi, ya sudah masuk tahun depan saja."
Anak kecil tidak butuh paksaan, tapi kasih sayang dan sentuhan pelan-pelan. Aku bersyukur mendapat itu dari Ibuku. Anak kecil juga tidak perlu dibentak dan dikatai kasar. Itu justeru makin membuatnya tidak memiliki siapapun untuk berteduh. Aku pun bersyukur, Ibu selalu memayungiku dengan perkataan baik.
Jangankan anak kecil. Hingga kini pun aku masih amat membenci perkataan-perkataan kasar dan hardikan.
Bukan perkara mudah untuk membiarkan anak memilih apa yang ia mau, yakni tidak bersekolah. Tapi Ibu melakukannya untukku. Ia rela. Ia tidak khawatir akan jadi apa aku nanti. _Que sera sera._ Ia dengan sabar mengikuti jalanku. Sesekali ia memintaku belajar sendiri. Aku akhirnya setiap hari belajar membaca dan menulis dari sebuah acara di kotak televisi.
Tahun berikutnya. Pagi. Dingin. Menusuk tulang. Aku dibangunkan Ibu untuk mandi. Kemudian Ibu memakaikanku seragam merah putih. Aku ingat sekali saat itu. Entah dari mana semangat tiba-tiba meluap-luap dalam diriku. Barangkali dari benih kesabaran yang selama ini Ibuku tabur.
Aku berangkat sekolah tanpa ada paksaan. Bahkan meski seseorang yang membully itu masih ada dan masih membullyku aku tidak peduli! Setiap malam aku belajar tanpa disuruh. Tidak merasa terbebani. Apalagi pelajaran membaca, menulis dan menggambar. Jika sudah sampai di pelajaran menghitung, secara alamiah aku akan mengerutkan kening.
Mengingat hampir semua saudaraku mendapat peringkat satu, Ibu tidak mempermasalahkan peringkatku yang bernominal belasan. Barangkali, kata Ibu, semua insan selalu dikaruniai dengan kelebihan dan kekurangan yang acap kali berbeda-beda. Ibu memang tidak pernah mengungkapkan itu padaku. Tapi aku memahaminya. Pun sebenarnya, apa tujuan kita untuk bersekolah? Untuk menghilangkan kebodohan? Untuk mengoleksi banyak tropi? Untuk meraih juara kelas? Untuk mendapat nilai-nilai bagus? Untuk menerima banyak pujian?
Aduhai, apalah arti tropi, juara dan pujian jika pada hakikatnya kebahagiaan tidak kita dapatkan dari situ. Melainkan kasih sayang Allah yang Dia titipkan pada ibu kita, ayah kita, nenek kita, saudara kita, keluarga kita, dsbgnya. Apalagi kalau kompilasi dari keduanya; kasih sayang dan prestasi. Prestasi dalam arti luas. WOW!
Lihatlah, Ilul (nama panggilan) telah beranjak dari tempat tidurnya. Akhirnya mau bersekolah setelah dibujuk pelan-pelan. Aku percaya, kejadian traumatis dan lain sebagainya itulah yang membuat Ia agak bebal jika diberitahu. Maka sebenarnya Ia hanya butuh kasih sayang, bukan hardikan atau cacian.
Ah, lagakku pagi ini sudah seperti Emak-emak kepagian.
0 komentar