Menjadikan Hati Halus, Lembut dan Peka

Jangan heran kalo kadang kita nemuin orang yang ngerasa kena banget sama kalimat atau bacaan yang menurut beberapa orang biasa aja karena uda biasa ditemuin. Di bungkus kacang, di poster, di beranda IG, dll.

Ingat, bukan seberapa sering seseorang mendapat pelajaran, namun seberapa sering seseorang mengamalkan apa yang ia ketahui meski hanya seayat. Apalagi itu bisa jadi mereka lebih mudah tersentuh hatinya ketimbang kita. Halus. Lembut. Peka.

Perasaan seperti itu konon cuma bisa dirasain oleh orang-orang yang sering nginget Tuhannya dengan cara berdzikir, membaca al-Qur'an dan sholat. Selain itu mereka juga sering ngeliat ke bawah. Melihat orang-orang kurang beruntung. Orang yang mengemis di jalan, orang yang kelaparan, orang yang bekerja keras tapi hasil pas-pasan, dan lain sebagainya.

Hati mereka yang awalnya kasar akan beruabah perlahan menjadi kian lembut, halus dan peka. Lembut dan halus karena sering menghabiskan waktu untuk mengingat Sang Kholik. Karena hanya dengan mengingat-Nya-lah hati akan menjadi tenang. Kemudian menjadi orang yang peka terhadap lingkungan sekitar dan orang yang membutuhkan uluran tangan, karena kerapkali menghujani jiwa dengan bersyukur saat melihat mereka yang secara tidak langsung mengingatkan bahwa kita jauh lebih beruntung. Sehingga kita akan senantiasa diberi panggilan untuk membantu.

Jadi, pastikan bukan cuma orang-orang itu yang bisa ngerasain nikmatnya memiliki perasaan itu, kita juga kudu usaha untuk ngeraih posisi itu, punya hati yang halus, lembut dan peka. Awalnya memanglah tidak gampang, karena biasanya kita hanya berdzikir dengan lisan, tanpa mengikutsertakan hati. Namun bismillah, percayalah, Allah yang akan menuntun kita pada akhirnya. Agar kita mampu istiqomah berdzikir pada-Nya tidak hanya dengan lisan, tapi juga hati dan perbuatan. Aamiin.

0 komentar