Pagi itu, seperti biasa Irvi yang memegang kendali motor, nyetir. Kalau aku yang membawa, maka aku yang menyetir. Maka hari ini Irvi yang membawa motor, jadi dia yang menyetir. Ku percayakan padanya, seperti iya yang percaya padaku, meski cara menyetirku masih sembrono, asal-asalan atau bahkan ngebut.
---
Motor melaju melewati jalan beraspal dengan hiruk pikuk kendaraan lain, juga hamparan sawah nan hijau di sisi kanan dan kiri jalan. Hmm, ku pejamkan mataku sejenak. Indah nian menikmati udara segar dengan percuma, kemudian setelah ku buka mata, kudapati hamparan hijau mencuci mata, mendamaikan pikiran, menyentuh perasaan.
Ternyata, baru kali ini aku benar-benar mencoba untuk menikmati perjalanan sembari merenung. Biasanya aku hanya boncengan biasa, fokus ke depan, mengawasi jika ada apa-apa. Tapi saat ini berbeda, ku nikmati alurnya, ku sapu seluruh pandangan yang tertangkap mata. Para pedagang kaki lima mulai menata barang dagangannya, kios-kios mulai terbuka, petani berjalan di pematang sawah hendak ke tujuan, hilir mudik manusia segala rupa berkendara dengan tujuan dan kesibukan masing-masing.
Betapa bersyukur diri ini dengan nikmat yang kian hari kian sulit untuk dihitung. Anugerah kesehatan tak ternilai meski silih berganti melakukan kesalahan. Permohonan ampun yang kerap lupa terlantun, namun dibalas dengan kita yang senantiasa dituntun. Keluh kesah yang hanya dicurahkan pada-Nya membuat Ia dengan mudah menghadirkan masa depan cerah.
---
Seperti halnya hidup. Yang merupakan sebuah perjalanan. Maka, nikmatilah hidupmu. Nikmati jalannya. Nikmati rintangannya. Nikmati alurnya. Jangan terlalu fokus ke tujuan, hingga lupa samping kiri dan kanan, lingkungan sekitar. Nikmati setiap kepahitan yang yang dihadapi. Sebab itulah yang mampu membuatmu dapat menikmati manis hasilnya kelak, lantas berbagi. Nikmatilah, jika bukan sekarang kapan lagi berpayah-payah? Karena yang saat ini kita tangisi, kelak akan membuat kita senyum-senyum sendiri. Bertanya dalam hati, mengapa dulu bisa sesedih itu?
Begitulah, dari tempat duduk boncengan motor yang dikendalikan Irvi aku jadi belajar untuk lebih menikmati hidup. Meski jujur, aku lebih takut jika dibonceng daripada membonceng atau menyetir sendiri. Ketakutan itu yang sebelumnya membuat aku hanya fokus ke depan, mengawasi. Padahal telah ku sampaikan jika aku telah percaya pada Irvi.
Berbeda saat menyetir sendiri, aku atau mungkin setiap orang akan merasa lebih berani. Berani melaju. Berani melewati rintangnya sendiri. Berani menatap risiko (sendiri) di masa depan. Berani ngebut. Dan keberanian lain yang acap kali tidak timbul saat kita hanya menjadi seseorang yang dibonceng.
Dari situlah aku belajar, jika maju sendiri terkadang membuat kita lebih berani dan percaya diri. Menjadi orang yang mandiri. Maka benar, jika membuka lapangan pekerjaan lebih indah dari pada menjadi pekerja. Karena kita yang akan memegang kendali, menyalurkan kreativitas tanpa batas. Kitalah yang menentukan, akan maju untuk hal yang demikian atau cukup diam dalam lamunan. Yang pasti, jika belum, nikmatilah hidupmu mulai hari ini. Jangan terus kau tangisi, agar tetesan airnya tidak menenggelamkan keindahan alur dan nikmat yang tak terukur. Enjoy your life ~
0 komentar