Pengalaman Mengenai Sexual Harassment

Aku dikejutkan dengan pesan adikku yang ingin pindah kost karena tidak tahan dengan kelakuan pemilik kostan yang teramat genit. Ada saja yang dilakukan lelaki yang juga berstatus sebagai dosen itu. Ada saja kata-kata sampah yang diucapkan. Tanpa permisi, ia tidak sungkan memasuki kawasan kost wanita kemudian basa basi. Kalimat yang sepertinya sudah dia anggap mujarab selalu ia keluarkan pada siapapun, apalagi penghuni kost baru. Dan adikku adalah satu-satunya anak baru yang akhirnya menjadi sasaran untuk menjadi tong sampah bagi ucapannya, seperti, "Kamu ngga usah bayar kost ya, tapi syaratnya jadi selingkuhanku," katanya tanpa mimik berdosa.

Awalnya adikku mengira itu hanyalan bualan dan candaan murahan, tapi ternyata kelakuannya tambah keterlaluan. Masuk kamar tanpa permisi dengan dalih menagih bayaran kost. Pret. Apakah ia tidak tahu apa itu privasi? Saat itu meski juga ada senior yang seorang perempuan, adikku tetap dan malah makin merasa takut apalagi ditambah dengan omongan lelaki yang katanya berilmu itu, yakni, "Duh, kamu gemesin deh. Sini-sini. Pengen nyubit."

Walaupun adikku tidak menghiraukan, ia merasa amat geram. Sudah sering perkataan tidak pantas itu dilontarkan. Bahkan ia menangis tersedu-sedu meski tidak diapa-apakan. Akhirnya, senior yang sekamar dengan adikku menenangkannya. Mengatakan bahwa semua juga pernah mengalami hal yang sama. Meski sudah tahu kalau mereka telah bertunangan atau bahkan mengaku telah bersuami. Mereka tidak menghiraukan, hingga akhirnya ocehan itu menghilang juga, kata para senior itu. Tapi adikku benar-benar adakalanya, sepertiku, menjadi amat perasa. Ia pun melontarkan kekesalannya di grup keluarga. Akhirnya kami kaget dan membalas dengan chatan panjang yang intinya menyuruh ia untuk pindah kost. Apalagi aku. Aku teramat geram! Tak bisa dibiarkan!

----

Bukan tanpa alasan. Pengalaman bertahun-tahun naik angkot dengan karakter penumpang yang berbeda-beda semoga membuat aku makin belajar. Karena aku percaya apa yang diungkapkan dalam kitab Mukasyafatul Qulub bahwa wanita yang keluar rumah akan dihiasi oleh syaitan hingga terlihat menarik. Oleh karenanya, meski tidak secantik dan seelok Claudia Shyntia Bella, aku mengerti jika kalimat itu ada benarnya.

Kembali ke angkot yang silih berganti aku tumpangi.

Saat itu aku dan teman MA hendak pulang. Kami naik angkot. Di depan tempat duduk kami persis duduk seorang lelaki berusia tiga puluhan. Lebih tepatnya, persis di tempat dudukku. Gerak geriknya sedari tadi mencurigakan. Sepertinya temanku tidak merasakannya. Hingga tiba-tiba lelaki itu dengan kurang ajar memegang kakiku, kaos kaki, seolah merogoh. Reflek aku berteriak, meneriaki lelaki itu. Aku akan mafhum jika ini dilakukan guru BP MTs saat memeriksa apakah kita menyembunyikan handphone di dalam sepatu karena saat itu dilarang membawa handphone. Tapi guru BP itu pun seorang wanita. Maka lelaki itu kaget, tidak menyangka aku berani melawan. Sekilas wajahnya ketakutan, karena di belakangku terdapat kursi yang dipenuhi lelaki lain---beretika---yang kapan saja bisa mengeroyokinya. Tapi aku sudah shock. Aku jijik. Aku ingin berhenti. Pindah angkot. Aku tidak peduli jika harus membayar ongkos lagi. Yang jelas aku harus pergi. Menghilangkan trauma. Ingin sekali menonjok mukanya. Tapi aku memutuskan untuk pergi saja! Jangan sampai kejadian seperti ini menimpa keluarga dan orang lain, pikirku. Aku menyetop angkot baru bersama temanku yang masih kaget denganku---yang katanya bisa seberani itu. Tapi aku hanya diam. Perasaan jijik dan bergidik mengingat saat menyaksikan berita-berita di TV perihal pelecehan membuat pitamku makin naik.

Kejadian serupa beberapa bulan selanjutnya terjadi lagi. Dalam mini bus. Untungnya tidak sampai menyentuh kaki, tangan atau apapun. Jangan sampai! Karena kala itu aku telah mengeluarkan kamus besar dan tebal sebagai senjata jika ada apa-apa. Kebetulan saat itu aku hendak berangkat les. Jadi ada kamus.

Untuk itu teruslah waspada. Jangan takut, innallaha ma'ana. Bukankah kita ingin menjelajah dunia?

Mungkin bagi beberapa orang yang membaca cerita ini akan berkata: "Aduhai, sikapmu terlalu berlebihan!" Jika begitu kau harus mencobanya sendiri. Bagaimana rasanya ingin mencakar-cakar lelaki yang berakhlak tercela. Meski aku bahkan tidak memelihara kuku di jari jemariku. Hehe. Aku doakan semoga kau tidak pernah mengalaminya.

Ingat, seperti halnya membully, pelecehan seksual atau kejahatan seksual (sexual harassment) tidak hanya berbentuk tindakan tapi juga perkataan. Membully seseorang tidak selalu berarti mengeroyokinya dengan tangan. Namun, menyakiti hatinya dengan perkataan juga masuk pada kategori membully. Sama halnya dengan pelecehan. Aku sendiri seakan mau muntah kala mendengar: "Heh, kamu. Jangan gitu. Ntar gue cium nih, ya," yang merupakan salah satu bentuk pelecehan lewat perkataan, setelah melihat konteks pembicara dan lawan bicaranya.

Lalu di jaman yang kekinian ini aku melihat jika sexual harassment ternyata tidak hanya bisa dilakukan lelaki, tapi juga wanita. Salah satunya bisa kita lihat di dunia maya. Komentar menjijikkan di akun sosial media idola mereka. Terlepas itu fake account atau tidak, tetap saja semua akan dipertanggung jawabkam dan tidak bisa dibenarkan. Dan lagi, maya atau nyata, yang menulis juga sama-sama manusia. Tak akan bisa lari dari hisab kelak.

----

Adikku memutuskan untuk pindah kost di akhir bulan, di hari-hari terakhirnya itu ia terus waspada dan banyak berdoa. Bahkan jauh dari pemikiranku ia dengan berani membubuhkan kertas di pintu kamarnya dan ditulis besar besar: JANGAN LUPA KETUK PINTU DULU, DI SINI KAWASAN WANITA. TERUTAMA BUAT PAK KOST!

Aku tidak percaya sebelumnya jika adikku bisa seberani itu. Ia juga menceritakan saat akhirnya tulisan itu dibaca, dicabut paksa dari kediamannya, disobek, lantas di buang ke tempat sampah. Mendengar bagian itu, aku reflek merapalkan doa, semoga Allah melindungi adikku, Karena Dialah sebaik-baik pelindung.

0 komentar