Gue, Mat dan Ndro

Tadi pagi keceplosan pas ngomong sama Ebok. Keliru pake kata 'Mat' gitu. Gini: "Berarti So itu cucu dari Mbah Sup, Mat." Tak pelak aku langsung mende-eh, kaget, keceplosan. Hehe, ini karena kebiasaan. Padahal seperti kata Gue dan Ndro, kata Mat juga termasuk kata yang dulu amat tidak aku sukai. Memang benar, jangan terlalu membenci sesuatu, nanti malah jadi biasa. Hingga akhirnya biasa menjadikan kata Gue, Ndro dan Mat sebagai kata ganti dan sapaan akrab.

Padahal awalnya gue, eh aku benci banget kalo denger temen yang biasanya ga pake Gue tapi pada beberapa kesempatan malah gitu. Ga suka aja, ga enak didenger. Sampai akhirnya, seperti yang pernah aku ceritakan di entri lain, bahwa aku ngefans sama Almarhum Ust. Jefri Al-Bukhory. Gimana beliau ngerangkul siapa aja kalo lagi berdakwah. Karena mengidolakan beliau akhirnya lambat laun aku jadi terprovokasi untuk menggunakan Gue---yang sebenernya hanyalah budaya.

Teman SMA-ku berasal dari Bekasi. Di sekolah dia tidak pernah menggunakan kata ganti Gue. Tapi waktu aku bermain ke rumahnya, aku terkejut menyaksikan dan mendengarku temanku itu tengah bercakap-cakap dengan sang Ibunda. Bahasa yang dipakai Loe-Gue gitu. Terdengar wedeeeeh awalnya. Tapi aku pikir lagi, ternyata emang budaya. Seperti halnya, hanya dengan seseorang memakai sarung, gamis, sorban, bukan berarti itu menandakan ia Islam. Barangkali celananya belum kering, ujar Cak Nun. Karena Islam pertama kali ada di Arab maka dalam al-Qur'an sunnah mengonsumsi tiga butir kurma saat berbuka puasa. Kalau misal awlanya ada di Bangkalan, maka mungkin bisa dipastikan akan sunnah berbuka dengan tiga buah Salak, jelas Pak Widodo. Tidak mesti penampilan luar menggambarkan isi hati seseorang. Begitu intinya.

Maka, sebelum memahami pengertian itu, karena aku sudah mengidolakan beliau, aku pun membuat status yang didalamnya ku selipakan sedikit pelajaran berisi pengalaman dengan menggunakan kata ganti Gue. Kebiasaan itu akhirnya makin menjadi biasa hingga sekarang.

----

Siapa yang tidak paham dengan sapaan akrab Kasino dan Dono untuk Indro dalam film fenomenal berjudul Warkop itu. Mereka bukan hanya sekadar sebagai teman yang tidak serumah. Lebih daripada itu mereka begitu akrab. Film fenomenal ini akhirnya mengantarkan sapaan akrab itu booming. Sebelum pada akhirnya film Warkop Reborn tayang, aku sudah lama menggunakan kata Ndro sebagai sapaan akrab pada saat tertentu.

Seperti halnya Ndro, kata ganti Mat juga mengindikasikan jika aku ingin, sedang, atau telah akrab dengan seseorang yang aku panggil Mat. Setahuku Mat itu panggilan untuk pria dan kependekan dari Muhammad. Awalnya aku benar-benar risih mendengar panggilan ini viral, jika tidak salah ingat kala SMA. Bagaimana tidak risih, jika yang menggunakan kata itu juga para perempuan. Padahal mungkin untuk perempuan harusnya disapa Siti.

Aku begitu terganggu dengan panggilan yabg satu itu. GJ banget pikirku. Hingga akhirnya secara tidak sengaja justru lihai memakai kata itu. Lama-kelamaan justru makin biasa, apalagi dengan orang yang sudah begiru akrab.

Jadi, jangan terlalu membeci sesuatu. Nanti sesuatu itu bisa menjadi bagian dari hidupmu. Lalu jangan melihat sesuatu hanya dari cover. Karena tidak selalu begitu. Juga jangan terlalu membenci seseorang, nanti jadi suka. Jangan melihat orang hanya dari kulit luarnya, nanti jadi menyesal.

0 komentar