"Sudahlah, gausah dipikirkan. Masak kita terus yang ngambilin. Mereka tinggal makan."
---
Berbuat baiklah setinggi gunung Himalaya. Jika tidak dilakukan dengan ikhlas dan masih menggerutu, maka tiadalah berguna.
Memasak setiap hari, membersihkan posko dan lain sebagainya jika tidak disertai keikhlasan maka hanya akan menjadi amalan yang sia-sia. Lebih baik diam dan tak usah mengerjakan macam macam.
Kata Buya Hamka, kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau hidup sekadar untuk makan, mereka juga demikian!
Kalimat diatas sungguh membuat hatiku teriris meski aku tidak dimaksud dalam bagian kata "mereka". Aku hanya berpikir, mereka kan juga tidak pernah meminta untuk diambilkan. Kenapa jadi kita yang bersitegang. Perihal apapun itu, sungguh sudah ada yang Maha Mengatur.
Aku juga heran kenapa mereka sampai hati berbicara di belakang, lantas tersenyum manis di depan. Tidak hanya mereka, tapi siapapun itu. Aku mungkin juga pernah begitu. Aduhai, tidakkah jadi beban? Beban, karena hidup tidak dijalani dengan ketulusan.
Huh! Kalau sudah begini, ingin rasanya segera pulang. Bertemu kembali dengan orang-orang yang sejalan. Tapi artinya aku kalah sebelum berperang. Untuk itulah aku berusaha bertahan.
Ingat, untuk apa senantiasa mengawinkan alis. Dalam hidup, kebajikanlah yang perlu dilukis.
0 komentar