Hari ini adalah hari kedua kami mengadakan lomba anak untuk memperingati HUT RI ke-72. Seru sekali. Kemarin lomba lari kelereng, lomba makan kerupuk dan lomba mencari koin dalam tepung. Kali ini lomba memasukkan benag ke dalam jarum, lomba joget balon, dan lomba memukul air dalam keadaan mata tertutup. Para anak-anak kecil Langsar begitu antusias mengikuti perlombaan.
Aku ikut membantu PJ lomba untuk menyiapkan keperluan dan melancarkan jalannya acara. Senang sekali bisa mengingatkan generasi muda akan hari kemerdekaan negaranya dengan beragam perlombaan yang dapat melatih keaktifan, percaya diri, fokus, sportif dan lain sebagainya.
Hari ini juga hari kedua puluh dua kuliah kerja nyata yang kami jalani di desa ini. Pun sekali lagi, hari kedua perlombaan anak berlangsung. Dari hari pertama dan kedua perlombaan, ada dua kejadian yang membuat aku berulangkali merenung.
Kejadian pertama saat lomba memakan kerupuk. Seorang anak perempuan berperawakan berisi begitu bersemangat mengikuti lomba ini, begitu pula yang lain. Pada detik-detik terakhir sekalipun ia tetap berusaha menghabiskan kerupuknya, meski setelah melirik cepat pesaingnya telah lebih sedikit kerupuknya. Tapi ia tidak mau berhenti disitu. Anak itu tetap berjuang hingga detik akhir, meski tetap tidak memenangkan lomba.
Pada kloter kedua lebih menarik lagi. Seorang anak kecil, laki-laki. Ia juga tidak kalah perjuangannya. Seperti seorang anak perempuan di kloter sebelumnya. Awalnya nampak bahwa ia akan dikalahkan oleh yang lain. Tapi ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kami perkirakan. Ia malah memenangkan kloter kedua ini.
Kedua anak tersebut mengajarkan padaku tentang betapa pentingnya sikap pantang menyerah. Kadangkala, kita sudah merasa lelah saat telah berjuang dan menurut kita sudah terlampau lama. Padahal, barangkali saat kita memutuskan untuk berhenti berjuang dan bermimpi ternyata kita sedikit lagi akan tiba di garis finish. Memang, hasilnya tidak akan selalu sesuai keinginan seperti kemenangan yang diraih anak kecil laki-laki itu. Tapi, tak ada yang percuma bagi kita yang mau berusaha. Anak kecil perempuan yang telah berjuang itu barang kali tidak pernah peduli dengan hasilnya. Bisa jadi ia hanya ingin berusaha sampai pada titik akhir. Agar tidak ada penyelesan yang membelenggu di kemudian waktu. Perihal hasil yang tidak sesuai keinginan, sebenarnya telah Tuhan siapkan dengan sesuatu yang lebih indah.
---
Kejadian kedua, ialah saat perlombaan memukul air dalam keadaan mata tertutup. Aku memperhatikan seorang anak kecil dari jarak beberapa meter sambil membantu mengikat bungkusan air untuk perlombaan. Ia tengah dibantu panitia lomba untuk menutup matanya dengan sebuah kerudung tipis yang kemudian dilipat-lipat. Ini adalah momen yang ia tunggu-tunggu, mengikuti lomba, setelah dari tadi menunggu namanya dipanggil. Lantas aku bertanya-tanya dari kejauhan saat setelah sepersekian detik panitia menutup mata anak itu, ia segera membuka penutup mata dengan paksa. Akhirnya dengan dibantu panitia lomba pula penutup itu terbuka. Matanya pun terbuka. Cairan bening menyeruak keluar.
Aku bertanya, apa yang membuatnya menangis. Kudapatkan jawaban, ternyata anak itu memang takut kegelapan, phobia. Duh, Gusti. Sungguh kejadian itu benar-benar membuatku merenung lama. Anak laki-laki itu paham betul dengan kelemahannya tapi ia tidak takut untuk mencoba. Bulu kudukku seolah berdiri kala bayangan kejadian itu lewat dalam benakku. Betapa ia telah mengajari kita, bahwa kelemahan lantas tidak menjadikan kita takut untuk mencoba. Wallahua'lam.
0 komentar