(Day 20) Naik kapal

Menurut beberapa sumber, Nyadhâr adalah tradisi masyarakat petani garam desa pinggir papas. Nyadhâr dilakukan di kompleks makam leluhur yang biasa disebut Asta dan Bhûjuk Ghûbâng. Tradisi yang dilakukan tiap tahun ini  berlokasi di Dusun Kolla, Desa Kebundadap Barat, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep.  Semua warga akan sibuk memasak dalam jumlah besar dan nantinya akan dijadikan sebagai sesajen dalam perhelatan Nyadhâr. Perhelatan ini puncaknya pada siang hingga sore hari. Sedangkan malamnya, masih tetap ramai dengan berupa orang berjualan jajanan dan beranekaragam kebutuhan ataupun pernak pernik kehidupan.

Begitu sih sekelumit informasi yang aku dapatkan dari beberapa orang kala itu. Belakangan ku cari di beberapa sumber di internet yang menceritakan tradisi ini lebih detil lagi. Ternyata memang menarik sekali. Kalian bisa mencarinya sendiri. Hihihi.

Aku hanya ingin bercerita perihal aku yang pada mulanya kebingungan dengan tujuan anak-anak malam ini. Saat aku bertanya, mereka menjawab seolah sekenanya; "Mau naik kapal". Dan aku tidak serta merta percaya. Masak iya malam-malam seperti ini? Akhirnya aku terus saja mendesak bertanya, satu persatu pada mereka. Jawaban yang kudapatkan adalah sama. Kami bersepuluh berangkat dengan aku yang masih kebingungan akan tempat yang hendak dituju. Padahal hukum Islam mengatakan, seorang muslim wajib menolak jika diajak ke suatu tempat yang belum jelas dimana, mengapa dan untuk apa. Tapi lihatlah, aku malah menurut saja, ikut bersama mereka.

Akhirnya kita tiba di sebuah desa. Usai memarkirkan kendaraan kita berjalan  menuju keramaian. Belum mencapai lokasi, tapi memang sudah begitu ramai. Di jalan-jalan sempit, di rumah-rumah, semua disesaki berupa-rupa manusia. Di pinggiran gang sempit, banyak sekali orang berjualan jajanan khas setempat. Iya, desa ini lebih mirip perumahan daripada pedesaan karena rumah-rumah yang terlihat berdempetan.

Mataku makin terkesiap dan sedikit makin bingung melihat orang yang semakin banyak. Aku terus berjalan mengikuti teman yang berada di paling depan. Sesekali melihat kanan-kiri. Ku dapati di beberapa rumah, ibu-ibu tengah memasak besar di halaman mereka. Tungku api terlihat begitu merah menyala. Sedang aku terus berjalan, masih kebingungan.

Dan, kita tiba di antara banyaknya orang yang berjualan beraneka ragam barang. Hmm, tempat ini lebih persis pasar malam. Benar-benar ramai. Aduh, mereka harusnya tahu, aku sering kali tidak suka keramaian seperti ini.

Kita tak berhenti disitu. Kita terus berjalan. Lalu melewati bangunan tua, katanya itulah pemakaman leluhur yang dijadikan lokasi untuk Nyadhâr. Benar, terlihat tempat-tempat sesajen masih banyak tersisa disana. Oh, ini rupanya. Lantas mana kapalnya, tanyaku dalam kalbu.

---

Langkah kita terhenti. Antrian. Wow. Kapal! Ternyata benar, kita akan naik kapal. Hehe, dasar dodol! Terus saja sebut getek itu kapal. Eh, entah apa namanya. Aku lebih suka menyebutnya kapal. Bentuknya seperti di film-film barat tentang hiu dan buaya. Jika tidak salah judulnya Shark Night 3D. Belum lagi air sungai yang berwarna coklat, menambah kemiripan dengan latar yang dalam film. Sedikit menyeramkan untuk orang awam.

Beberapa dari kami ketakutan. Aku juga demikian. Karena tak ada penerangan di sungai selain sebuah lampu yang ada di dalam kapal, eh getek. Tapi aku benar-benar penasaran. Setelah membujuk beberapa orang yang enggan, akhirnya kami semua ikut menaikinya.

Senangnya! Ini seperti mimpi masa kecilku. Saat ingin menjadi reporter seperti dalam acara Jejak Petualang di Trans 7 dan acara sejenis lainnya. Kemudian sesekali terpejam. Menikmati angin yang menghebus pelan. Menepuk-nepuk kulit wajahku dengan lembut. Wuth.. Wuth..

Ramainya suara mesin kapal tidak mengurungkan yang lain untuk sibuk berselfie. Meski kapal seperti akan oleng ke kanan atau ke kiri. Juga tidak mengurungkanku yang dari tadi cerewet sekali bertanya pada Bapak paruh baya yang mengemudikan kapal. Untunglah, beliau begitu ramah dan menjawab dengan sabar.

Di sela-sela pertanyaan, aku isi dengan memandang sungai yang temaram. Di pinggiran sungai terlihat pohon yang berjejer rapat, seolah begitu dekat. Ku lihat air sungai coklat, terkena lampu kapal, jadi begitu terlihat. Aku bergidik membayangkan sewaktu-waktu atas kuasaNya kapal ini terbalik. Lantas aku mulai berimajinasi perihal sungai yang pastinya memiliki beragam isi. Namun ingatan seram mengenai film Shark Night 3D tidak mampu mengalahkan senangnya reporter Jejak Petualang KW. Sungguh, aku teramat senang!

Lalu aku mulai berpikir tentang para pelaut yang dulu menentukan arah dengan membaca bintang gemintang. Mereka amat tangguh menyusuri lautan. Menghabiskan hari-hari di lautan yang bisa amat ganas. Melewati segala bala rintangan di laut lepas. Sungguh mengagumkan. Membayangkan mereka hidup dalam ketangguhan.

---

Tak terasa waktu kami telah usai. Sebelumnya kami telah mengumpulkan nominal uang sebagai tarif wisata singkat ini. Aku memekikkan kata terima kasih pada nahkoda dengan riang. Beliau juga membalas dengan rona demikian.

Ah, kesempatan ini benar-benar tidak akan ku lupakan. Pengalaman yang mampu dijadikan bahan perenungan. Tentang dunia yang amat luas untuk dijelajah, tentang kita yang bukan apa-apa dan bisa terhempas kapan saja, tentang alam menakjubkan yang di anugerahkan Tuhan, dan tentang lain-lain.

Kata Ibnu Batutah: travelling, it leaves you speechless then turns you into a storytellers.

0 komentar