Dulu, aku ingin sekali menjadi pembawa acara baik itu formal maupun non formal. Keinginan yang sudah tumbuh sejak lama. Aku lupa kapan kata 'lama' itu bisa dikonversikan dalam bentuk kuantitatif. Yang jelas, waktu SMA keinginan itu masih ada. Hanya berupa keinginan, bukan tindakan yang mengantarku mengikuti eskul Pidato dan MC. Tapi keinginan kadang kala mampu menjadi doa karena terlantun pelan dalam kalbu manusia.
Mungkin itu yang mengantarkanku pada kesempatan pagi ini. Melunasi keinginan untuk menjadi MC. Atau mungkin belum lunas, karena ini baru awal dari sebuah keinginan. Buah dari keyakinan akan selalu datangnya sebuah kesempatan.
Diluar aku yang masih sangat belajar menjadi MC, aku di beberapa hari sebelumnya selalu kepikiran dengan acara ini, Jalan-jalan Sehat demi memeriahkan HUT RI ke-72. Selaku sie acara yang masih amat tertatih belajar, aku takut acaranya akan berantakan. Tapi syukurlah, semua pada akhirnya berjalan sebagaimana mestinya.
Ini karena aku dibantu oleh seorang teman yang tidak pelit berbagi ilmu. Meskipun sebelum hari H JJS (Jalan-jalan Sehat) dia sempat menyebalkan karena menolak ditunjuk sebagai MC non formal. Tapi setelah ku pikir, aku jadi paham, ia masih banyak pekerjaan.
Perkataan yang paling ku senangi darinya antara lain; kan belajar dulu, ga pa-pa, pasti bisa, aku bantu, dan lain-lain. Sebenarnya bukan hanya darinya. Aku mengenal beberapa orang dengan tipikal omongan seperti itu. Bagiku kalimat-kalimat itu amat menenangkan. Membuatku pada orang lain juga berperilaku demikian. Tapi bukan dia orang yang pertama kali mengajariku perilaku seperti itu. Melainkan Ibu.
---
Benar, dia begitu cekatan membantu. Sampai-sampai pada sebuah kejadian lucu. Saat aku salah membaca aba-aba darinya. Kala itu ku kira pita JJS telah dipotong dan saatnya menutup acara dengan doa keberangkatan. Ternyata aku salah, itu aba-aba untuk mempersilahkan pemotongan pita. Alhasil dia yang tadinya berada jauh di depan panggung, di gerbang dimana pita di pasang---kini ia secara ajaib telah menaiki panggung, berada di sampingku. Lalu ia mengambil alih microfon dan mulai berbicara. Para peserta JJS akhirnya berangkat melewati rute yang telah ditentukan. Hanya kita, beberapa panitia yang tinggal. Aku berulang kali merutuki diri yang ceroboh membaca aba-aba. Dia lalu berkata: "Ga pa-pa. Kan baru pertama kali." Aku tidak menggubris perkataannya, aku tetap saja merutuki diri. Lalu aku sempat sebal, dia tidak pernah bilang sebelumnya jika akan mengaba-aba. Hehehe.
Kini saatnya menjadi MC non formal. Dan kata patnerku hanya ada satu microfon. Aku bersorak riang: "Ya udah kamu aja ya, Cil." pada patner MC non formalku itu. "Beh, janganlah. Tetap kita berdua. Nanti mic gampang." Namun ternyata aku tidak juga dipanggil, biarlah patnerku itu yang berkreasi. Lebih-lebih aku bersyukur kala itu karena tidak paham MC non formal sama sekali. Hehehe. Meski sebenarnya siapa saja boleh belajar. Hanya saja menunggu waktu dan kesempatan tergelar.
Usai acara, ku tanyai teman panitia satu-satu. Ternyata tidak ada yang ngeh dengan kesalahanku. Tidak terlihat. Hahaha. Syukurlah.
---
Saat malam inagurasi lagi-lagi aku ditunjuk menjadi pembawa acara. Kali ini bersama Rima. Dia yang dulu membantu saat JJS, berjanji akan membantu pula kali ini. Aku kadang tersenyum sendiri seperti orang gila karena melihatnya serupa orang kebakaran jenggot, meski dia tidak memiliki jenggot. Lihatlah, ia pontang panting kesana kemari memastikan kami menghandel acara dengan benar. Aku benar-benar menahan tawa kala melihat ia tiba-tiba muncul hanya bagian kepala, tangannya menyibak tirai dari belakang panggung. Lantas berbicara cepat, aku hanya menggangguk menahan tawa, sesekali berkata iya.
Malam ini aku salah menyebut kata tiga dengan dua kala memanggil pemenang lomba agustusan anak. Jadi aku berkata begini: Juara pertama dimenangkan oleh ananda bla bla bla, juara kedua dimenangkan oleh ananda bla bla bla dan juara "kedua" diraih oleh bla bla bla. Hahaha, langsung saja aku ralat: "Maaf, maksud saya juara ketiga..dst.."
Huaaa, ternyata menjadi pembawa acara tidak semudah yang aku kira. Perlu banyak latihan dan juga pengalaman. Padahal selama ini aku hanya pandai mengomentari. Tanpa berkaca dulu pada diri sendiri.
Tapi sungguh, aku bersyukur karena Allah telah mengijinkan aku merasakan pengalaman ini. Pengalaman yang bisa menjadi guru terbaik. Aku juga berterima kasih pada dia yang telah menjadi guruku kala itu. Tiada merugi orang yang senantiasa berbaik hati membagi ilmu.
Orang-orang yang mampu menorehkan kejadian yang kapan saja akan ku rindu.
Terima kasih.
Note: Kek apa gitu ya, dia-dia tok. Oke, gue jelasin. Jadi di cerita ini ada empat orang. Gue, Cila patner MC non formal tapi gue gajadi ngeMC, Rima patner MC formal gue pas inagurasi dan Sipol yang ngajarin kita ngeMC. Oke, clear kan, ya? Hehehe.
0 komentar