Kalau masalah perihal rumah tangga---Siah. Iya, kan kita (KKN 17) ini berumah tangga selama 26 hari, kan---semacam sebelum-sebelumnya sungguh aku tidak pernah sekalipun memelihara sakit hati apalagi benci. Ini bukan hanya karena aku tidak ikut andil dalam permasalahan atau ingin bersikap netral, namun karena aku berpikir, bagaimana pun mereka adalah keluarga. Aku juga pernah membaca, jika orang yang bisa dikatakan memiliki kecerdasan emosional yang relatif tinggi adalah mereka yang lebih suka untuk menghindari masalah. Untuk itulah, orang-orang seperti ini biasanya acuh saat beberapa teman sedang menggunjingkan seseorang. Orang seperti ini juga tidak terlalu memperhatikan perilaku menyakitkan seseorang padanya karena lebih peduli dengan masa depan.
Bukan apa-apa, tapi memang apa-apa. Aku hanya ingin damai dengan menyemai senyum tulus. Ini jika perihal masalah rumah tangga. Beda lagi jika tentang program kerja yang ngadat dan menyusahkan negara. Anggap saja Desa Langsar adalah miniatur negara bagi kami dimana kami berkewajiban untuk berkontribusi. Jika perihal itu aku tidak akan netral, meski ujung-ujungnya aku hanya mampu mengingatkan sedikit saat rapat evaluasi, bukan sekelas pemberontak dan pendobrak yang berani. Inilah yang pada akhirnya hanya menjadikan pengingat itu angin yang begitu saja lewat. Tak apa, setidaknya aku telah berusaha mengingatkan mereka, terlebih lagi diriku pribadi.
Hanya sebatas mengeluarkan pendapat. Namun ampuh membuatku tidak sampai memelihara sakit hati, benci hingga timbul permusuhan. Kadang kala aku sedih sendiri melihat yang sana dan sini berseteru. Tapi aku mengerti, mereka sebenarnya lebih dari tahu. Hanya mereka terlalu keras kepala untuk menerima. Menerima perbedaan dengan lapang dada. Biarlah, suatu saat mereka juga akan mengerti. Bahwa hidup tak hanya sampai disini dan begini.
Mereka adalah keluargaku. Tak peduli isu perihal kubu-kubu. Aku akan tetap menyayangi mereka. Tak kubiarkan penyakit dalam hati tumbuh apalagi merajalela.
---
Tapi tidak sampai siang ini. Iya, siang ini. Saat aku bangun dari tidur siang. Sekitar satu jam lebih aku menghabiskan waktu untuk tidur siang. Dan ketika bangun, aku benar-benar sakit hati. Seperti ada yang menusuk dalam-dam ke sanubari. Aku sakit hati. Mengapa mereka tega sekali!
Sakit hati ini timbul saat mendengar pernyataan dari seorang teman. Teman KKN 17 juga pastinya. Ia orang yang begitu polos. Aku belajar untuk bersikap independen dan menolak membiacarakan orang lain di belakang juga darinya. Ia tidak pamrih. Karena ia membantu tanpa tebang pilih. Pun ia adalah seseoranh yang bekerja secara maksimal. Dan ia jujur. Lalu bagaimana aku tidak percaya atas apa yang dikatakannya. Memang, kita tidak lantas mudah percaya. Tapi kenyataan kali ini mengatakan demikian.
"Anak-anak pergi liburan," katanya polos. "Hah? Kamu tidak berbohong, kan?," tanyaku kaget. "Iya, aku juga tidak habis pikir," jawabnya. "Allah. Iya, sih tadi mereka berenam pamit pergi tapi pas ditanya mau kemana ga dijawab jelas." aku mengomentari. "Hmm, sudahlah. Mereka memang begitu. Aku tidak menyangka." "Aku juga," kataku dengan lesu. Hanya sebegitu percakapannya, tapi tiba-tiba saja hatiku seperti tertusuk entah oleh apa. Mengapa mereka begitu tega? Mereka sudah benar-benar kuanggap sebagai keluarga!
Beragam bayangan berputar-putar dalam benakku. Tentang komitmen dalam rapat evaluasi untuk menyelesaikan tugas terlebih dahulu. Tentang aku yang sebenarnya ingin melepas lelah bersama-sama. Usai berlelah-lelah bersama-sama pula. Tentang segalanya. Tentang segalanya.
Sakit hati yang akhirnya membawa aku ikut tega membiarkan beras masih ada di toko. Tidak dibeli lantas ditanak untuk mereka.
"Sudah, gausah masak. Mereka pasti udah seneng-seneng disana. Sudah makan juga di warung kaki lima." "Tapi, kasian.." aku berkilah. "Sudahlah.."
Akhirnya aku menurut saja. Perbuatan yang benar-benar pada akhirnya ku sesali hingga kini. Aku tidak sampai hati melihat mereka yang kelelahan saat sampai di posko dan ternyata belum makan. Lalu mereka menanak nasi sendiri setelah sebelumnya mendumal sebal. Sementara aku betul-betul merasa bersalah. Maafkan aku, ya.
---
Saat menyiapkan hidangan untuk malam perpisahan, beberapa orang enggan membantu. Dan aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Aku tidak mau membalas api dengan bara. Akhirnya, dengan beberap teman aku ikut membantu mereka selaku penanggung jawab hidangan. Memang amat melelahkan, karena kami memasak besar. Apalagi ancene loro ati (Sebenarnya sakit hati, Red). Tapi aku tidak ingin merasa bersalah lagi. Biarlah orang seperti apa kata Tere Liye, yang terpenting bukan kita.
Kala membantu itu sebetulnya masih ada secuil perasaan sakit hati usai berusaha ku hapus dari kemarin hari. Aku tidak percaya. Aku seperti sakitnya orang yang dikhianati. Entah seperti apa. Entah perasaan apa ini. Benarkah aku sampai sesakit hati itu? Entahlah. Yang jelas, berkatNya, kini sakit hati itu telah berhasil aku buang jauh-jauh. Karena aku selalu percaya, jika segalanya sudah ada yang Maha Mengatur. Allah saja Maha Pemaaf, bagaimana dengan hambanya. Lagipula, siapa yang menjamin kalau ternyata kita juga memiliki kesalahan yang dilakukan secara tidak sengaja. Wallahua'lam.
0 komentar