Sudah sembilan hari menetap di desa ini. Rasanya makin mengenal orang-orang yang ada disini. Terlepas dari dinamika kelompok yang acapkali bermunculan, perhatianku tertuju pada Mak Titik dan keluarga. Dengan ketulusan mereka pada kami. Ketulusan yang bahkan kami rasakan sejak awal. Terlihat jelas mereka ingin melayani kami para tamu yang lebih dianggap sebagai keluarga dengan sepenuh hati.
Lihatlah, meski kami telah membawa bantal, mereka membawakan pada kami banyak bantal lengkap dengan guling. Akhirnya, ini benar-benar keberuntungan untukku yang lupa bawa bantal dan cukup sulit tidur tanpa guling.
Saat mandi, mereka mempersilahkan kami untuk mandi terlebih dahulu tanpa takut tidak kebagian air. Maklumlah, persediaan air di desa ini amat minim. Air yang dibeli ini hanya bisa diakses dua sampai tiga kali dalam sehari. Namun mereka tidak pernah khawatir kehabisan karena kami. Mereka dengan raut wajah tulus mempersilahkan kami untuk mandi berapa kali saja, asal air masih ada.
Hingga suatu hari, saat rapat evaluasi kami memutuskan untuk mandi satu kali dalam sehari. Terkecuali saat kegiatan begitu padat, kami boleh mandi lebih dari itu. Keputusan ini akhirnya disepakati oleh semua anggota dengan lapang dada. Selain kita belajar menghemat, kita juga belajar untuk lebih menghargai air meski mandi sekali bisa jadi tidak sehat.
---
Mak Itik dan keluarga juga kerap kali menyiapkan hidangan istimewa untuk kami. Misal opor ayam, nasi kuning, kolak, gettas dan lain-lain. Hampir setiap minggu ini dilakukan. Entah karena ada hajatan, selametan atau sekedar kerja bakti membersihkan balai. Walaupun kami tidak ikut andil dalam beberapa acara, Mak Itik dan keluarga tetap berbesar hati mengantarkan hidangan lezat itu ke posko. Kami akhirnya ikut membantu membawa makanan dengan perasaan sungkan saat diminta sebelumnya.
Saat ada keperluan, kami ke rumah Mak Itik untuk bertanya. Seperti saat butuh selang kamar mandi, ember untuk mencuci, alat pel dan lain-lain. Lalu Mak Titik seketika meminjamkannya pada kami.
Pernah sekali waktu aku meminta maaf padanya karena telah banyak merepotkannya. Beliau hanya berkata, jika kita adalah keluarga maka tak baik jika merasa direpotkan.
Hmm, dari Mak Titik dan keluarga aku belajar arti ketulusan. Arti kekeluargaan. Seperti tulusnya seorang Ibu pada anaknya. Seperti tulusnya Ayah pada putrinya. Seperti tulusnya guru pada muridnya. Seperti tulusnya hamba pada rajanya. Dll.
Apapun itu, semoga Allah membalas berkalilipat kebaikan Mak Titik yang telah mengajariku sifat tulus. Memberikan anugerah kesehatan dan dimudahkan segala urusan. Aamiin.
0 komentar