Saat menjejakkan kaki di tanah SDN Langsar 2 itu, hatiku memunculkan berbagai perasaan yang campur aduk. Entah itu nostalgia saat masih belajar di SD beberapa tahun silam. Atau karena banyaknya kenangan yang mengiris hari maupun mengesankan, menyenangkan. Belum lagi melihat wajah-wajah guru SD khas kebapakan ataupun keibuan. Keikhlasan yang terpancar lewat jari-jemari yang tak henti menggoreskan kapur di permukaan papan berwarna hitam pudar. Duh, disini masih menggunakan kapur? Apapun itu, mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang dengan rela membagi ilmunya. Mereka adalah asa. Oleh karenanya, menjadi seperti mereka bukanlah hal gampang dan patut diremehkan. Sebab mereka tidak hanya bertugas untuk mengajar, tapi juga mendidik.
Pandanganku juga menyapu para wajah siswa-siswa yang polos. Di sini adalah salah satu tempat yang menentukan karakter mereka, bobot mereka nantinya. Tempat dimana mereka harusnya tidak dibatasi untuk berkreasi. Karena mereka melakukan semuanya dengan keinginan dan kemampuan berbeda yang dimiliki setiap manusia. Bukan lantas diseragamkan. Inilah susah-susah gampangnya seni mendidik sebagai seorang guru. Apalagi, ini sekolah dasar, dan mereka adalah penerus bangsa.
---
Aku yang hari ini berkata, "Sudah ga pa-pa, Dek." pada seorang anak kelas 5 yang masih menulis terbata sedang temannya sudah selesai dari tadi. Seorang temannya merasa bosan menunggu, mereka harus membaca bersama. "Duh, ini nih lama banget, Mbak. Dia belum pandai menulis." "Loh, ga boleh bilang gitu. Suatu saat siapa tahu adik ini (aku menyebutkan nama) lebih handal dari kita semua. Kita tidak akan pernah tahu, bukan?" ucapku.
Begitulah, menjadi seorang guru bisa jadi perkara yang amat sulit atau bisa menjadi mudah. Guru perlu memahami karakter dari murid-muridnya. Guru perlu memahami bahwa setiap murid itu memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Guru perlu memahami jika setiap murid itu sama, sama-sama spesial. Guru perlu mengebelakangkan kepentingan dan egoisme pribadi. Guru itu amat luar biasa. Jika ia adalah sebenar-benarnya guru. Terlepas dari ungkapan "Tidak ada manusia yang sempurna".
---
Katanya, akan lebih baik jika potensi diri dikenali sejak dini. Lalu aku jadi teringat aku dulu. Aku tidak mengetahui apa bakatku. Kecenderungan menyukai pelajaran bahasa Indonesia, menggambar, dan bernyanyi belum mampu menyadarkan apa potensi dalam diri. Aku selalu saja berpikir aku tidak memiliki hal yang spesial. Hingga akhirnya saat kelas enam, seorang guru memberi semacam kuis menghafal dan menjawab vocabulary. Bagi yang bisa menjawab, mereka akan mendapatkan beragam hadiah berupa coklat, jelly dan mie instan. Haha. Serius.
Dan secara ajaib, aku mendapatkan ketiganya: coklat, jelly dan mie instan. Itu artinya aku menjawab beberapa kali. Tapi saat itu aku belum menyadari jika aku ternyata juga menyukai bahasa Inggris. Saat di SMP, aku relatif lebih sulit menghafal bahasa Arab ketimbang bahasa Inggris. Saat di MI, aku sampai harus 'kabur' jika diminta hafalan. Beruntunglah, sekali lagi secara ajaib, di MAN aku malah mudah (alhamdulillah) menghafal bahasa Arab.
Sebenarnya tidak ada yang terjadi secara ajaib. Allah telah menggariskan sebuah potensi dan bakat di setiap diri manusia. Hanya saja kadangkala potensi itu tidak digali dengan baik. Malah tertimbun pesimisme, rasa takut, dan lain-lain yang bisa jadi berasal dari lingkungan dalam artian luas.
Disitulah, guru begitu penting perannya. Sebagai pelita yang mampu memahami kegelapan yang ada di setiap kepala murid-muridnya. Entah itu kegelapan yang disebabkan oleh kebodohan, ketakutan, kebingungan dan lain sebagainya.
---
Omong-omong ditengah hiruk pikuk sifat materialisme, menjadi seorang guru sama sekali tidak linier dengan itu. Seorang guru dipenuhi oleh keikhlasan dalam hatinya. Mereka hanya ingin berjasa meski rupiah tak seberapa. Ah, bukankah mereka tidak akan pernah menyinggung perihal rupiah. Mereka hanya ingin berpayah-payah. Tapi kemana kemuliaan untuk mereka? Lantas seperti apa bentuknya? Apa hanya berupa lemabaran uang yang tiada habisnya?
---
Mereka, guru-guru tulus yang amat berjasa. Maka muliakanlah mereka.
Sumenep, 2017
0 komentar