(Day 7) Karma

Sekitar pukul 08:00 WIB hingga selesai, kami berpartisipasi dalam kegiatan kerja bhakti membersihkan lapangan voli milik PBV Krisna. Kemudian kami berbincang-bincang dengan tiga tokoh petani muda. Aku dan beberapa teman mengobrol santai dengan seorang sarjana lulusan Sastra Inggris yang kini mengelola petak-petak lahan dengan menanaminya cabai merah besar, cabai rawit, daun bawang, singkong dan sebagainya. Ini merupakan langkah yang amat berani dan patut diacungi dua jempol mengingat Langsar sangat kekurangan air. Juga langkahnya sebagai sarjana yang tidak gengsi untuk berkontribusi dalam dunia pertanian.

Telah banyak aku ketahui di luar sana petani yang sukses mengelola pertanian. Mereka kebanyakan tidak berbasic atau berasal dari program studi Agribisnis, Agroekoteknologi dan sebagainya. Beberapa pengakuan yang pernah aku ketahui adalah karena mereka ingin berkontribusi. Membangun negeri. Tak ayal, kegagalan demi kegagalan adalah hal biasa yang mereka hadapi. Kini mereka memiliki berhektar-hektar tambak, lahan pertanian, dan lain-lain. Semua karena perjuangan, keyakinan dan doa yang tidak pernah pupus.

Aku jadi bergidik sendiri memikirkan apa yang bisa aku lakukan setelah lulus menjadi sarjana nanti. Atau mungkin sebelum! Semakin aku bertanya apa saja pada beliau, aku malah semakin bergidik membayangkan kelak. Tapi tidak. Ku harap Allah akan senantiasa menuntun dan menumbuhkan rasa optimis, pantang menyerah, tekun, ulet dan semangat.
Seperti lulusan Sastra Inggris itu, beliau begitu ulet. Bersama teman-temannya ia menggarap lahan itu sendiri. Tuturnya, saat nanti memiliki banyak pekerja, ia tidak akan sampai dibodoh-bodohi.

Iya, impian beliau adalah memberdayakan masyarakat sekitar. Dengan adanya lahan pekerjaan baru, diharapkan pengangguran semakin berkurang. Beliau hanya ingin berbuat sesuatu untuk masyarakat sekitar. Oleh karenanya, tantangan akan kesulitan air berhasil diatasi dengan melakukan pengeboran. Awalnya mereka bimbang air tidak akan muncul karena berdasarkan pengalaman masyarakat yang telah mengebor dengan kedalaman tertentu tapi air tidak muncul-muncul. Sedang biaya telah banyak yang dikeluarkan.

Akhirnya, memberanikan diri pengeboran pun dilakukan. Dan syukur alhamdulillah kini mereka tidak kebingungan lagi untuk mengairi tanaman-tanaman itu.

---

Siang ini kaum adam mengunjungi tempat mebel untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan untuk membuat plang desa. Itu adalah salah satu proker utama kami. Selain itu mereka juga mencari barang-barang sisa mebel tidak terpakai yang nantinya bisa dibuat beragam prakarya.

---

Sore menjelang malam, kami bergegas ke masjid yang tak jauh dari posko. Seperti biasa, kami membimbing anak-anak kecil yang begitu menggemaskan untuk membaca al-Qur'an. Dan bagiku, ini adalah pengalaman yang menyenangkan. Mendamaikan. Tidak hanya karena membaca al-Qur'an. Tapi juga lebih karena anak-anak yang begitu hangat, riang dan ngalem. Mereka menghafal nama kami satu-satu. Kendati aku hanya hafal beberapa nama saja. Mereka juga begitu cerewet bercerita apa saja. Sampai-sampai aku bingung hendak berkomentar apa. Karena kadangkala aku yang cerewet ini bisa sangat pendiam. Ga percaya? Ya, sudah. Hehe.
Adapun bagian yang cukup menyebalkan adalah saat mereka mencubit kedua pipiku. Hmm, apa ini karma karena aku kerap mencubit pipi Nuh, ya?

Sumenep, 207

0 komentar