Belajar dari KKN, kuliah, masyarakat, tugas-tugas survei, dan Ustazah keren yang ku ceritakan di entri sebelumnya, satu hal yang sebenarnya amat penting: "Belajar Islam dengan lebih sungguh-sungguh." Inilah yang akhirnya membuat aku memberanikan diri untuk belajar mengaji ke Ustazah yang biasa dipanggil Bunda itu. Bayangkan saja, mungkin sudah enam tahun aku tidak belajar mengaji pada seorang guru di dunia nyata. Semenjak lulus SMP alias MTs, aku hanya belajar membaca al-Qur'an secara otodidak dan belajar daru guru maya melalui mp3, ialah Syeikh Misyaari Rasyid, seorang ulama besar.
Aku telah mengajak beberapa teman, tapi mereka enggan. Katanya takut, karena beliau memang terlihat begitu galak pada murid-muridnya. Padahal aku tahu, hatinya begitu lembut. Teriakan dahsyatnya hanya untuk mendidik mereka. Aku sendiri adalah pribadi yang tidak suka disinggung apalagi dibentak, tapi dengn mendengarkan bacaan tajwid beliau beberapa hari yang lalu, membuat aku ingin berguru. Maka akhirnya usai kami membantu beliau mengajari adik-adik mengaji, aku mendekati beliau untuk belajar juga. Bim salabim, air muka beliau seketika berubah begitu manis, setelah berkenalan asal, aku mengungkapkan jika tajwidku payah, lalu beliau bilang itu tidak masalah. Akhirnya aku mulai belajar. Dan.. Alhamdulillah, banyak yang salah. Sekali lagi, bayangkan, sudah enam tahun aku tidak belajar mengaji pada seorang guru di dunia nyata. Lalu aku bertanya apa saja perihal tajwid pada beliau, seseorang yang begitu ramah. Tidak jauh dari kami, seorang wanita cantik sepantar denganku tersenyum. Ia adalah putri Ustazah itu. Hmm, dalam hati aku bergumam, aku telah lama mendambakan seorang guru seperti beliau.
Aku sebenarnya tidak kaget jika bacaanku banyak yang salah, meski beliau bilang "Ngga, kok. Kamu sudah pintar." Ah, aku benar-benar tidak mempan dengan pujian, aku hanya ingin belajar. Barangkali belajar al-Qur'an membuat aku mengamalkan sedikit dari apa yang disebut "Belajar Islam dengan lebih sungguh-sungguh."
Jujur, aku sangat malu karena sebagai orang yang hidup di desa harusnya aku mampu membaca al-Qur'an dengan baik dan benar. Lebih-lebih memahami maknanya. Dan yang terpenting mengamalkan isinya. Tapi aku tidak ingin larut dalam rasa malu. Aku akan terus berdoa, semoga Allah senantiasa mempertemukan aku dengan guru-guru terbaik. Aamiin Allahumma 'Amin.
Terkadang aku menangis sendiri, jika pemahamanku mengenai agama amatlah minim. Aku sempat menyalahkan diri sendiri, kenapa aku dulu tidak mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Tapi sebetulnya tidak demikian. Ilmu bisa kita dapat dari berbagai buku. Guru yang paling sabar. Meski memang, akan selalu berbeda orang yang pernah mengikrarkan diri dan hatinya sebagai seorang santri. Tapi apa guna menangis, jika buku-buku telah menunggu kebodohan perihal agama untuk ditepis. Wallahua'lam.
Sumenep, 2017
0 komentar