Desa Langsar adalah sebuah desa yang memiliki wilayah paling luas dibanding desa lain yang ada di Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep. Selain fakta tersebut, ada fakta yang membuat pemandangan anak kecil yang masih duduk di bangku SD sudah mengendarai sepeda motor secara mandiri ke sekolah. Ini tak lain terjadi karena jarak dari rumah menuju sekolah yang relatif sangat jauh. Pun jarak antar rumah ke rumah juga tidak dekat. Inilah yang akhirnya membuat hampir seluruh anak kecil desa sudah mahir menyetir "honda".
Kenyataan yang membuat bangga beberapa orang tua. Padahal di balik itu sebenarnya ada pesan moral yang perlu diingat. Ialah hendaknya orang tua mengerti, jika mengendarai kendaraan bermotor bukanlah perkara yang patut diremehkan. Perlu perhatian agar mereka mampu menggunakannya dengan cara yang tepat. Karena sebetulnya, mengemudi seperti itu memerlukan kematangan emosi yang seringkali tidak dimiliki oleh seorang anak yang masih berusia belia. Dengan kata lain, setidaknya izin yang diberikan orang tua kepada anaknya untuk mengendarai sepeda motor adalah ketika mereka telah cukup umur. Sebab ada kewajiban dan tanggung jawab orang tua dan anak yang perlu digarisbawahi.
Aku juga berulang kali tertegun kala melihat banyak sekali anak-anak kecil di desa yang lebih sibuk berkerumul dengan gadget daripada buku. Sebenarnya, secara kurang ajar betul, pemandagan seperti itu telah kita anggap lumrah di lingkungan rumah kita, apalagi lingkungan sekelas kota. Baiklah, memang banyak daerah dengan orang-orang yang masih sangat peduli dengan minat membaca buku.
Lagi-lagi, seperti halnya alasan untuk mengizinkan anak mengendarai motor sangat dini, alasan untuk membelikan mereka gadget juga untuk memudahkan mereka. Tugas-tugas sekolah yang katanya akan lebih mudah dikerjakan dengan menggunakan benda sakti itu. Bagaimana tidak, jika orang tua sampai lalai, benda itu amat sakti mandraguna untuk mengubah watak anak. Anak yang tidak dipantau bagaimana cara menggunakannya bisa berakibat fatal. Segala apa yang ada di gadget yang sudah barang tentu terhubung dengan jaringan interner amat sangat perlu di saring untuk kemudian bisa dikonsumsi seorang anak.
Belum lagi, kemudahan-kemudahan yang bisa dinikmati dengan hidup yang serbak enak, jangan-jangan adalah cara kita untuk membiarkan otak anak berkarat. Malas untuk mengasahnya karena lebih peduli dengan bermain game yang memiliki sifat candu. Beda halnya jika benda itu digunakan sebagai mana mestinya. Hasilnya akan membuat orang dewasa terkagum-kagum. Salah satu contoh, kakak-beradik yang mampu membuat software.
Jangankan anak-anak, sebagai orang dewasa saja kita seringkali kewalahan mengontrol diri sendiri dalam hal penggunaan gadget. Kita juga kerap secara tidak langsung mengajarkan pada anak untuk malas. Seperti aku dan beberapa anggota keluarga yang biasa mengunakan motor saat berbelanja ke warung kelontong meski jaraknya amat dekat. Secara tidak langsung kita tidak mengajarkan untuk selalu berhemat, save energy.
Dulu, gerombolan anak bercanda tawa menyusuri jalan, bercerita riang, bernyanyi-nyanyi sepanjang perjalanan. Tak memikirkan sengat mentari yang membakar kulit dan perut yang terasa melilit. Mereka menikmati kebersamaan meraih ilmu dan
Kini, banyak kita temui kendaraan bermesin yang mampu mengantarkan kita kesana kemari. Tak ada canda tawa yang berlangsung lama. Saatnya pulang ke rumah dan sibuk dengan gadget masing-masing. Buku-buku hanya menjadi seonggok benda mati yang tidak berarti.
Sementara nun jauh disana, segelintir orang bersusah payah bertahan hidup. Jangan sampai pada kendaraan bermotor. Karena nyatanya anak-anak hanya belajar menggunakan lampu minyak. Tak mengerti gadget dan segala aplikasinya. Mata mereka tekun menyapu halaman buku. Tak ingin otak berkarat sewaktu-waktu.
Kaki melepuh, usai berkilo-kilo menempuh perjalanan, tak jadi halangan untuk mereka menjemput impian. Sekolah adalah tempat yang sakral bagi mereka, yang juga anak-anak bangsa.
Sekelumit kisah kehidupan mereka memberikan pesan tersirat pada kita semua. Bahwa jangan sampai hidup serba enak, membuat otak anak (juga kita) berkarat.
0 komentar