(Day 11) Lihatlah

Aku kadang ngeri sendiri membayangkan saat mereka mengepalkan tangan, lantas memekikkan kalimat; hidup mahasiswa! Padahal telat sudah dianggap kebiasaan, tugas kelompok lumrah dilupakan, lembar piket masak sekadar pajangan, apalagi PJ proker--hanya sebatas memenuhi loogbook, tidak dikerjakan dengan sepenuh hati karena hanya ajang penggugur kewajiban. Atau hanya tulisan yang mengalir di sebuah proposal dan tidak lebih penting dari oretan. Tidak perlu dipertanggung jawabkan. Yang lain sibuk, persetan. Aduhai, tidakkah mereka (juga aku) memahami bahwa hal-hal yang merela anggap remeh temeh seperti ini adalah tangga-tangga menuju puncak kesuksesan? Tidakkah mereka mengerti, jika banyak orang-orang yang mendamba perubahan? Tidakkah mereka menyadari bahwa bangsa telah menjadikan mereka sebagai harapan?

Lantas lihatlah, mereka (sekali lagi, juga aku) hanya piawai berbicara. Hanya pandai mengambil foto selfie bersama. Hanya lihai menonton drama korea. Hanya ahli mengolah kata. Sementara aksi tak ada. Ku pikir, kalimat; Tong kosong nyaring bunyinya, di sampul buku SD-ku dulu hanyalah sebuah isapan permen Relaxa. Ternyata,  disini ku lihat sendiri dengan mata kepala. Lalu memaafkan adalah cara untuk mendamaikan pikiran. But, still.. I can't wait "Rapat evaluasi" yang selalu mereka andalkan.

Ibu, I am not afraid to face the world because as you said that Allah will always be with me. Ibu, disini aku mengenal seseorang yang tidak banyak bicara, tapi aksinya benar-benar nyata, tak kenal pamrih bahkan meski hanya sekelumit tutur kata. Menggunjing adalah perilaku sampah baginya. Aku belajar banyak darinya, Bu. Ah, bukankah kita bahkan bisa belajar dari hal buruk sekalipun?

*reminding my own self🎈

Sumenep, 2017

0 komentar