Ah, senangnya! Pagi begitu cerah. Secerah wajah-wajah keluarga baruku (KKN 17) ini. Setelah melakukan muhasabah, semua berjalan normal kembali. Senormal mungkin. Bahkan lebih baik. Kita jadi makin akrab. Adapun mereka terkaget-kaget mengetahui sifat asliku yang bisa amat cerewet. Pokoknya, aku mulai begitu betah disini, bersama keluarga baruku. Menerima segala kekurangan dan kelebihan mereka.
Dalam muhasabah tadi malam, muhasabah untukku ialah: lebay, katanya. Karena kerap membubuhkan kata "Kakak (Baca: Qaqa)" dalam beberapa kesempatan. Hanya itu.
Aku jawab dengan sebenar-benarnya. Jika aku sebenarnya geli mendengar aku membubuhkan kata itu. Namun karena komitmen awal aku akan memiliki keluarga yang beranggotakan enam belas orang denganku, sejak itulah aku mencoba untuk lebih akrab dengan mereka lewat kata. Barangkali dengan begitu aku akan lebih cepat akrab. Mengingat aku kadang kala susah akrab dengan seseorang karena bisa sangat pemalu. Sepenglihatanku, aku mudah bergaul dengan orang lain baru semenjak kuliah. Dulu, jika orang berbicara aku hanya menimpali kata satu-satu.
Aslinya, aku bukan tipikal orang yang mudah mengikuti tren kata. Itu menurutku. Tren seperti; keles, njir, ketjeh, dan beragam kata lain yang dianggap gaul itu. Alasannya, karena selain aku tidak up to date, juga karena aku tidak suka. Dan itu hak siapa saja.
Lalu bagaimana saat aku sering menggunakan kata ganti "gue" di beberapa tulisan? Padahal dalam kehidupan sehari hari aku tidak pernah menggunakannya. Meski setelah menulis dengan kata ganti itu, aku jadi sering keceplosan mengatakan kata gue.
Aku dulu berpikir bahwa menggunakan kata gue itu terlalu kasar. Sampai akhirnya aku memahami jika itu adalah sebuah budaya. Lantas aku dulu ngefans pada almarhum Ustad Jefri Al-Bukhory. Beliau dikenal dengan dakwahnya yang humble dan merata. Sejak itulah aku kerap menggunakan kata gue agar terkesan lebih akrab. Walau kadang, keakraban cukup tersimpan dalam hati dan meluap berupa sikap. Bukan hanya sekadar kata.
---
Pagi ini setelah bersih-bersih, mengepel, menyapu, cuci piring dan sebagainya, aku bermain badminton dengan Fajar, Afifa dan Rima. Duh, senang sekali, akhirnya bisa berolahraga. Setelah sekian lama tidak bermain olahraga yang satu ini. Saat bermain dengan Fajar aku lebih banyak menyalahi diri yang seringkali kalah. Tapi tidak saat aku bermain dengan Afifa. Kita malah cekakakan tiada henti. Sedang dengan Rima yang lembut bicaranya, aku akan lebih banyak menyengir.
"Just be your best self."
Sumenep, 2017
0 komentar