(Day 14) Menerima Setiap Perbedaan

Mungkin Kakak perempuanku ada benarnya juga saat dia dengan mimik pura-pura sebal berkata, "Kamu nih ya, beda. Orang lain gini, kamu gitu. Kita gini, kamu gitu," begitu kira-kira intinya. Dulu aku pernah membaca, jika orang bergolongan darah B kerap memiliki pemikiran dan perilaku yang berdeda. Tapi aku tidak mudah percaya. Bahkan tidak percaya.

Tetapi, setelah ku pikir-pikir ternyata ada benarnya. Lihatlah, saat yang lain tertidur, aku bangun. Kala yang lain terbangun, aku tidur. Saat yang lain mencuci baju berjemaah, aku sibuk mengetik ga jelas. Kala yang lain selesai mencuci baju, aku baru memulainya. Saat yang lain ribut perihal jemuran yang full, aku mencari cara untuk meminjam tali dan membuat jemuran baru. Kala yang lain perlu diantar ke toilet malam-malam, (berkat-Nya) aku bisa melakukannya sendiri.

Sebenarnya perbedaan-perbedaan itu tidak selalu menghasilkan dampak yang positif. Kadang kala kau akan dikucilkan hanya karena kamu bersikap independent. Tapi seiring berjalannya masa, lihatlah. Saat aku hendak menjemur baju, mereka memanggilku untuk sarapan bersama. Ah, ternyata kubu ini masih menganggapku, pikirku. Namun tetap, kubu yang manapun itu adalah keluarga baru buatku. Loh, loh, bukannya tidak ada yang namanya kubu-kubuan. Itu hanyalah sebuah isu. Lagipula, hanya akan menghabiskan energi jika selalu saja mempermasalahkan hal yang tidak terlalu krusial lantas berkubu-kubu. Ibarat kata, kelompok KKN lain telah berpikir cara membuat pesawat. Kita masih berekerumul dengan hal yang remeh, meski kadang jika dibiarkan akan menimbulkan kefatalan.

---

Malam kita isi dengan muhasabah usai melakukan rapat evaluasi. Disinilah semua uneg-uneg yang ada dalam hati disampaikan hingga larut. Yang larut adalah malam, juga suasanya. Apa saja disampaikan. Agar tidak ada lagi omongan-omongan dibelakang. Lalu sadarlah untuk menghargai setiap perbedaan. Mencoba belajar tentang kepekaan.

Menyatukan pemikiran enam belas orang bukanlah hal yang mudah. Dinamika kelompok adalah yang lumrah terjadi. Buang sifat dan sikap saling menyalahkan. Saatnya bangun untuk memperbaiki setiap kesalahan. Karena selama kita masih hidup di dunia, kita tidak akan selalu terjamin dari dosa.

Ku ingat, aku juga pernah membaca, jika seseorang yang bergolongan darah B cenderung acuh untuk beberapa hal atau kejadian yang ada di sekitarnya. Tapi dia begitu perasa. Mungkin ada benarnya, iklim konflik kelompok ini membuat aku terkesan cuek dengan obrolan-obrolan yang bertebaran. Tapi sebenarnya aku dari awal telah merasakan akan hal itu. Sudahlah, hidup tak hanya berakhir disini. Aku sendiri tak pernah mau jika memiliki banyak musuh akan menjadi akhir hidupku. Itulah mengapa, aku selalu berusaha bersikap ramah pada setiap orang. Lalu bersikap netral, independen. Meski kadang, bagaimanapun manusia akan selalu terlihat salah di mata manusia lainnya. Dan aku menyukai muhasabah ini. Karena dengan begini, harusnya tidak akan ada yang namanya rasan-rasan. Karena sungguh, aku tidak menyukai adanya perpecahaan. Kendati barangkali saat ini aku tidak ikut andil dalam sebuah perselihan. Aku tetap ingin ikut andil dalam terciptanya kembali sebuah persatuan karena menerima setiap perbedaan.

---

"Aku tidak melangkah untuk mencari perkara, ku hanya berjalan menebar senyum untuk bersaudara. Langkah demi langkah kuayunkan demi menjadi seirama, agar tidak menimbulkan tangga nada yang beda. Kata-kata bisa menjadi senjata yang mematikan kita, tetapi senyuman sederhana membuat kita bersama. Alangkah indahnya ketika kita sama-sama menebar senyuman yang tak lagi membedakan manusia."
- Ido Rube

Sumenep, 2017

0 komentar