Betapa banyak orang tua maupun keluarga yang lebih merisaukan pendidikan, pekerjaan dan lain-lan. Tapi lupa untuk bertanya; "Sudahkah anakku lancar membaca al-Qur'an?, Sudahkah adikku lancar membaca al-Qur'an" dan lain sebagainya. Lalu betapa banyak orang-orang yang malu belajar karena merasa usia sudah terlampau tua. Lihatlah, disini aku belajar banyak. Salah satunya bahwa aku masih harus banyak belajar.
Aku dulu kerap 'mengompori' adikku untuk sekolah di tempat favorit karena sedikit banyak telah teruji kualitas belajar mengajar dan mendidiknya. Sampai akhirnya aku memahami jika ilmu agama juga teramat penting. Akhirnya aku memberikan saran, jika inshaa Allah akan lebih baik kalau ia bersekolah di tempat favorit sembari belajar di pesantren. Bukankah itu perpaduan yang indah?
Jangan sampai kelak saat dewasa, adikku itu bukan saja terlambat. Tapi juga menyesal sepertiku.
---
Aku terpelongo melihat guru ngaji yang dua kali lipat lebih memesona dari guru ngaji (Bunda) di Masjid, hehe. Kesederhanaan, gesture-nya, humble, supel, ramah, tegas, baik, beautiful, dll. Beliau membimbing para Ibu-ibu dan lansia membaca al-Qur'an dengan cara yang amat kusukai, dimata orang yang tidak tahu apa-apa perihal teknik mengajar yang baik sepertiku.
Lihatlah, dia amat sederhana dalam berpenampilan. Tapi terpancar jelas ilmu yang ia miliki tidak hanya perihal agama, tapi luas. Ia kemudian mengambil buku dan bolpoin, lantas dengan cekatan menulis setiap yang aku katakan. Hanya beliau. Kemudian sesekali bertanya apa pun yang sepertinya ia lewatkan. Iya, benar. Beliau tengah mengikat ilmu dengan tulisan.
---
Behind the scene: Aduh, ini untuk pertamakalinya aku berbicara bahasa Madura halus di depan beberapa orang dan susahnya minta ampun. Lebih gampang menggunakan bahasa Inggris. Susahnya ngomong pake bahasa Inggris itu 96%, sedang ngomong pake bahasa Madura halus secara dadakan dimuka umum itu susahnya 96,9%, hehe. Sungguh miris. Dari kecil tidak berlatih beragam bahasa Ibu dengan sungguh-sungguh. Khususnya bahasa halus. Bisanya saat berbicara dengan orang tua hanya seputar engghi, enten (Iya, tidak, Red). Tapi tak apa, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Seperti terlambatnya para lansia yang belajar mengaji itu namun tetap semangat. Anyway, disini aku juga ikut belajar bukan mengajar. Dan ingin sekali aku mempunyai guru seperti beliau dalam waktu yang lama.
Kami sempat bebincang lama. Di tengah perbicangan beliau bertanya: "Kamu mondok dimana?". Aku agak terkesiap. Pertanyaan sepersis ini juga meluncur dari lisan Bunda. Kemudian aku menjawab ala kadarnya: "Hehe, saya ga pernah mondok, Bu. Aku malah balik bertanya, kalau boleh tahu sampean belajar ngaji dimana?."
"Saya belajar di sebuah Ponpes di Guluk-Guluk, Sumenep," jawabnya.
Hatiku berdesir mendengar jawabannya. Memang, ilmu bisa kita pelajari dari buku-buku. Tidak mesti belajar di Ponpes untuk belajar ilmu agama. Dengan pembawaan yang kalem nan sederhana penutup kemampuan besar yang dimiliki beliau. Namun, bagiku, akan selalu berbeda seseorang yang pernah mengikrarkan diri dan hatinya sebagai seorang santri di sebuah pondok pesantren.
---
Sosialisasi kedua produk olahan singkong berupa nugget dan rolade sekaligus belajar bersama kelompok belajar mengaji para Ibu-ibu dan lansia ini dimulai pada pukul 19:30 s/d pukul 22:30 WIB. Sepulangnya, kami masih mengadakan rapat panitia JJS (Jalan-jalan Sehat) hingga larut malam. Pagi harinya, saat tengah sibuk membuat produk nugget singkong, pihak LPPM akhirnya datang untuk monitoring dan evaluasi. Kemudian kami berdiskusi. Ku renungi lamat-lamat cara beliau (pihak LPPM) menyampaikan hal sesuai porsinya. Hingga pada beberapa kalimat, beliau berhasil menohok hatiku. Membuat aku kemudian bergumam meneguhkan hati: "Lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali."
Sumenep, 2017
0 komentar