(Day 5) Satu hal yang amat Penting

Bu Kades dan keluarganya begitu hangat. Kelak saat meninggalkan mereka, perasaanku seperti ditumpuki berkilo-kilo beban, berat. Mereka amat tulus, tanpa pamrih membantu kami. Memberi apa yang bisa diberi dan kami butuhkan. Kadangkala Ibu dari Bu Kades mengantar makanan ke posko kami, yang tak jauh dari rumah beliau.

Pagi ini, kami para wanita membantu memasak di dapur Bu Kades untuk kemudian nantinya dinikmatin bersama. Para lelaki membantu Bapak-bapak kerja bakti, mengecat dan sebagainya di balai desa.

Magrib ini, kami ikut belajar mengaji di masjid yang tak jauh dari posko. Sistem mendidik yang dilakukan Ustazah ini begitu memesonaku. Seperti halnya tempat belajar lain, sebelum mengaji mereka akan membaca doa terlebih dahulu, kemudian membaca asmaul husna. Uniknya, anak kecil berusia lima tahun pun hafal dengan cepat. Aku saja menghafal asmaul husna dan artinya saat duduk di Madrasah Aliyah. Lalu ada semacam sesi muhasabah. Ini juga bagian favoritku. Mereka akan ditanyai pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari lisan ustazah tersebut.

Pertanyaannya antara lain:
Siapa yang sholatnya masih bolong?
Kenapa?
Siapa yang orang tuanya masih bolong sholatnya?
Siapa yang masih berani melawan pada orang tua?
Siapa yang masih terbiasa bilang "Ah" apalagi membentak?

Pertanyaan itu bertahap. Dengan berani mereka akan mengacungkan tangan, seusia TK hingga SMP sekalipun. Mereka dengan berani mengakui kesalahan. Memnceritakan setiap detail alasan yang kemudian dibalas sang ustazah dengan nasihat yang begitu keramat. Sejak amat dini, mereka telah dididik untuk berani mengakui kesalahan, berani berbicara di depan umum dan berani berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Anak-anak kecil yant imut-imut itu bercerita dengan lucu. Dengan wajah polos yang membuat siapa saja yang berpikir akan terenyuh. Berpikir dan merenungi setiap dosa yang dilakukan diri sendiri. Satu lagi yang membikin aku takjub, saat di pertanyaan, "Siapa yang orang tuanya masih bolong sholatnya?" yang mengangkat tangan justru dua kali lipat lebih banyak. Tak pelak membuat ustazah itu keheranan. Kemudian secara spontan, seorang anak kecil yang imut dan lucu berkata: "Saya sudah meminta orang tua saya untuk melaksanakan sholat, Bunda (panggilan untuk Ustazah). Tapi tetap saja tidak mau." Kemudian meluncurlah nasihat yang begitu bijak. Nasihat apapun, yang menurutku disampaikan dengan baik dan tepat. Pemahaman dan didikan yang mengesankan. Teringat dulu waktu aku masih kecil, aku hanya belajar mengaji tanpa mengetahui maknanya, untuk apa, bagaimana, dana lain-lain.

Yang membuat aku lebih kagum lagi anak seusia PAUD sudah berani adzan dan iqamah. Mereka semua terlihat begitu menggemaskan, lucu dan imut. Yang laki-laki mengenakan baju koko lengkap dengan celananya. Yang perempuan mengenakan mukena warna warni yang menyegarkan mata. Duh, setiap momen ingin rasanya aku abadikan dengan kamera. Sayangnya, cukup tidak mungkin jika aku akhirnya harus membawa hape ke masjid. Akhirnya aku hanya bisa memandangi dan mereka tingkah imut nan polos mereka. Mereka adalah cikal bakal bangsa ini. Adalah penerus agama yang di nanti-nanti. Secara tiba-tiba timbul keinginan untuk menjadi seorang guru ngaji, agar aku bisa memberikan pemahaman yang sama atau mungkin lebih baik dan luas. Khususnya di desaku sendiri.

---

Aku menceritakan kisah indah di atas pada keluargaku. Tentang aku yang iri karena Langsar masih melestarikan budayanya, memiliki banyak kegiatan dan perkumpulan, mempunyai guru ngaji seperti beliau, dan sebagainya. Terang saja, desa sekelas Langsar yang langka air mampu memiiki banyak kesibukan demi melestarikan kebudayaannya dan lain-lain. Mungkin ini salah satu alasan kenapa Sumenep dan Pamekasan selalu lebih dielu-elukan daripadan Sampang dan Bangkalan. Hmm.

Komentar seorang saudara membuat hatiku seketika ngilu: "Ane sudah bikin kegiatan. Ente aja yang ngilang dan lebih memilih pergi ke Surabaya." ujarnya.

Kalau sudah begini, aku lebih suka bercerita pada hamparan padi ketimbang pada langit yang terlampau tinggi. Sebab aku akan selalu terlihat salah karena akan selalu lebih rendah. Sedang dengan padi, aku akan selalu merasa kurang menjadi orang yang baik bersama-sama.

Di hari keenam ini, aku berpikir bahwa belajar dari KKN, kuliah, masyarakat, tugas-tugas survei, dan Ustazah keren tadi, satu hal yang sebenarnya amat penting: "Belajar Islam dengan lebih sungguh-sungguh."

Sumenep, 2017

0 komentar