[Obrolan santai || 😰: Lutfiyah, kamu kalo bikin status kok alurnya meliuk-liuk (memperagakan dengan sebelah tangan). Judul sama isi kadang ga relevan. Jadi bingung bacanya. Dari sini kesana, dari sana kesini. Beneran, aku bingung mahaminnya. 😂: hehehe, kan emang geje sih. || Ah, sungguh. Aku amat menyukai orang yang jujur dan blak-blakan seperti itu. Aku juga amat menghargai sebuah kritikan, saran dsb. Atas ungkapan itu aku hanya ingin menjelaskan, bahwa memang status yang ku buat beberapa jam sebelum tidur ini berdasarkan dari sedikit yang aku pahami dan kehidupan yang aku jalani. Hanya sebuah refleksi kehidupan. Jadi, hanya berisi curhatan yang tidak lebih penting dari jurnal maupun essay. Tapi di dalamnya aku menyelipkan sedikit pesan. Pesan yang bisa jadi aku sendiri sulit menerapkan. Jadi, statusku hanyalah media curhat sebelum tidur. Kata Nicun, ini sebagai langkah membersihkan pikiran yang penuh dengan rutinitas harian. Statusku juga tidak berlandaskan teori-teori berat yang kerap ditemui di kegiatan formal. Karena hanya berisi sedikit teori tentang pesan kehidupan, mungkin (hahaha). Statusku tidak dibuat lama-lama dengan perenungan alot seperti saat membuat proposal PKM ataupun essay. Juga buku-buku untuk mengerjakan ujian. Karena hanya ditulis berdasarkan apa yang terlintas dan terbesit dalam renungan kala mencuci piring, menyapu halaman saat liburan (wkwkwk), melamun dalam bus, dll. Aku juga tidak terlalu paham ilmu kepenulisan. Apalagi membuat cerpen, dll. Bagaimana alur yang bagus dan benar. Karena aku hanya membuatnya dengan perasaan dan sesuka hati. Itulah kenapa, aku belum bisa mendapat apa yang disebut saripati. Saripati dari sebuah hobi. Butuh bacaan, latihan, ketekunan, doa yang kerap dilantunkan, pengalaman dan -an lain. Betapa mudah memahami teori, tapi amat sulit (bagiku) untuk menerapkan. Yah, aku ingin menjelaskan itu, tapi yang ada aku hanya mampu bilang sambil nyengir: "Hehehe, iya. Namanya juga curhatan keseharian. Jadi geje. Karena ga paham bikin alur juga😂. || Maka dengan itu, aku sangat berterimakasih. Karena aku jadi paham, jika kita memang butuh bacaan yang lebih, pengalaman yang lebih, doa yang lebih dan ketekukan yang lebih. Prinsip sederhana namun butuh kesungguhan. Dan sebenarnya telah lama aku sadari]
***
Berapa kali kau mengikuti seminar dan ujung-ujungnya adalah "mulai dari diri sendiri". Ya, seperti talkshow mengenai korupsi, perempuan dan kebijakan yang aku ikuti hari ini. Kesimpulan yang bagi beberapa orang amat sederhana. Namun sulit luar biasa. Bagi beberapa orang hanya sebuah lagu lama. Namun siapa sangka masih banyak yang belum mampu melakukannya secara nyata.
Berapa kali kau mengikuti seminar dan ujung-ujungnya adalah "datang dari diri sendiri". Entah itu semangat, keinginan, tekad, dsbgnya. Ini yang membuatku kadang berpikir beberapa kali untuk mengikuti sebuah seminar atau acara sejenisnya. Entah seminar motivasi, seminar meningkatkan kemampuan toefl, dll. Apalagi yang bayarannya lumayan. Pasti akan aku pikir berulang-ulang, hehe.
Pernah suatu ketika di semester empat jika tidak salah, kelas kami kedatangan seorang wanita cantik dengan performance yang mumpuni. Baik performance dalam arti sederhananya, baik public speaking-nya, terlihat betul bahwa ia telah dilatih. Kala itu ia mem'promo'sikan untuk mengikuti sebuah seminar tentang bagaimana melatih public speaking. Meski HTM-nya lumayan, namun siapa yang tidak tertarik dengan gaya public speakingnya. Pastilah hampir semua orang dikelas kami menganggap seperti ia-lah model seseorang yang telah dilatih dengan acara demikian. Maka tanpa babibu banyak yang mendaftar untuk acara itu.
Di dalam tas kebetulan ada nominal uang yang mencukupi untuk membayar kegiatan itu. Namun aku berpikir, benarkah aku akan termotivasi? Berapa lama motivasi itu akan menetap dan membakar semangatku setelah itu? Setelah dua puluh menit? Atau menetap selamanya?
Memang, kita juga sangat membutuhkan asupan latian, motivasi, dan semangat dari luar. Namun aku lebih sangat bersyukur jika semua itu berasal dari dalam diriku sendiri. Karena semangat dan motivasi dari dalam akan lebih dahsyat. Itulah yang membuatku urung mendaftar kegiatan itu. Beda lagi saat ternyata kegiatannya gratis. Pasti proses berpikir ulang tidak akan begitu alot. Hanya menimbang tenaga, dll. Apakah begini, begina, beginu. Ah! Terlalu banyak mikir! Kapan suksesnya? Seperti saat mendapat broadcast, news dll. Tidak dengan mudah percaya. Barangkali banyak diselipkan sesuatu.
***
Pen tertinggal di kamar. Hape tidak dilengkapi voice recorder. Tidak juga mendownload aplikasinya. Mengetik di hape akan terlalu menyita konsentrasi untuk menyimak talkshow. Oleh karenanya aku hanya mampu mengandalkan ingatan dan sebuah hp pemberian untuk membagikan apa yang telah aku dapat.
***
Kita boleh saja berkata ini dan itu, tapi pada kenyataannya kita ikut andil memuluskan jalan pelaku korupsi. Bagaimana tidak, jika makanan sehari-hati kita adalah KUHP (Kasih Uang Habis perkara) dan UUD (Ujung-ujungnya duit). Kita juga acapkali dengan santainya menerobos lampu merah. Inilah potret bahwa memang gampang mengkritisi sebuah pemerintahan. Namun untuk ikut andil didalamnya tidaklah mudah. Praktik untuk selalu mematuhi rambu lalu lintas bisa jadi sukar tak terkira. Belum lagi dalam persoalan lain ketika godaan calo-calo, mafia dan lain sebagainya dimana-mana.
Tindakan korupsi tidak sesederhana yang kita kira. Boleh jadi sejak kecil kita telah ditanami bibit-bibitnya. Saat orang tua dengan sengaja tidak meminta uang kembalian belanjaan, sehingga sang anak lantas mengantonginya sendiri. Saat perilaku konsumtif telah menjadi sebuah gaya hidup. Dll. Saat itulah bibit-bibit itu mulai tumbuh. Inilah pentingnya peran Ibu sebagai madrasah pertama bagi seorang anak. Bagaimana ia mampu menanamkan nilai-nilai kebenaran dengan cara-cara yang benar pula sejak dini. Hingga saat beranjak dewasa sekalipun, seseorang tidak akan mampu terpengaruh oleh lingkungan luar.
Selain itu peran perempuan juga terkait dengan pengambilan kebijakan. Sebuah tindakan korupsi tidak akan terjadi jika keluarga ikut mengatakan tidak pada korupsi. Misalnya nasihat seorang istri terhadap suamimya. Nasihat suami pada istrinya. Nasihat anak, saudara dan kerabat. Semua bersikukuh mengatakan tidak pada korupsi.
Jangan hanya menghakimi pemerintah, jika kita bahkan masih menerobos lampu merah.
Jangan hanya menuntut keadilan, jika kita bahkan ikut serta meramaikan ketidakadilan.
***
Dari talkshow ini aku mendapat booknote yang dilengkapi dengan sedikit teori mengenai korupsi, perempuan dan kebijakan. Juga tentunya ilmu yang dipaparkan oleh pemateri. Namun apalah artinya itu semua jika aku bahkan kerap tidak memakai helm. Apalah arti semua kebijakan jika kita tidak berperan didalamnya. Bahkan dari hal-hal yang amat sederhana.
***
Aku amat yakin, pasti judul dengan isi status ini juga agaknya tidak relevan. Tapi bukankah dari ketidakrelevanan itu kita juga dapat mengambil sebuah pesan. Pesan untuk membuat sesuatu yang relevan. Karena relevan juga memberikan sebuah pesan. Pesan. Pelajaran. Bacaan. Makan-makan. *apasih, Dek?
Baiklah, untuk mengakhiri ke-geje-an ini aku membubuhkan ini, petuah yang ada di bagian paling belakang booknote:
"Ikhtiar! Berjuanglah membebaskan diri... Jika engkau sudah bebas karena ikhtiarmu itu, barulah dapat engkau tolong orang lain."
- R.A. Kartini
Bangkalan, 4 Mei 2017 - 20:05 WIB
0 komentar