DAY 9 - Gerimis Rindu


Malam ini suasana Lumajang yang seperti di kampung sendiri dengan kebanyakan orang yang berbahasa Madura tidak membuat saya lolos dari homesickness. Gerimis dan hujan bergantian mulai jam 13:50 an hingga sekarang 18:51 WIB. Duh, gerimis mengundang rindu. Benar, tiba-tiba saja rindu suasana rumah, rindu orang-orang rumah, rindu segalanya tentang rumah. Terutama rindu Ibu dan Bapak. Rindu. Rindu yang hanya bisa saya salurkan lewat doa di hujan gerimis ini. Salah satu waktu terkabulnya segala doa.
***
Siang ini sama seperti siang-siang lalu. Usai makan siang tibalah satu-satunya waktu senggang hingga magrib menjelang. Mencicil bentuk dan isi laporan PKL agaknya menjadi pilihan kegiatan yang pas. Jangan bilang tidur siang terasa lebih pas setelah rutinitas mulai subuh. Lalu kapan kita akan berjibaku dengan laporan, Kawan?
***
Pagi ini rantai gembok masih melingkar di bagian tengah gerbang. Angkuh tidak mau membukakan jalan untuk aku dan Himma yang telah siap memburu tukang sayur keliling. Dek Jokowi telah saya misscall, niat hati meminta kunci gembok yang ada di ketua kelompok. Ini masih pagi agak buta (hehe) dan mereka belum kelihatan batang hidungnya. Hingga akhirnya terbuka juga. Kami bergegas belanja, memasak dan berangkat ke lahan. Di lahan kami melanjutkan kegiatan persemaian sawi. Mulai dari menggemburkan tanah kembali, menebar benih sawi, menabur daun pisang suir kering dan menutupnya dengan daun pisang utuh.
***
Pukul 19:06 masih dengan nada gerimis dan gema adzan nan syahdu. Saat antara adzan dan iqomah juga waktu terkabulnya segala doa.
Kawan, gerimis ini masih mengalunkan rindu. Pada Bapak dan Ibu.
.
.
Lumajang, 17 Januari 2017 @19:09 WIB.

0 komentar