DAY 8 - Penyiangan dan Persemaian


Kegiatan kami (saya, Himma dan Irvi) diawali dengan menyiangi bedengan yang akan digunakan untuk persemaian sawi. Sementara itu Huda, Dek Hilman dan Dek Riko membuat rangka tudung dari bambu. Bambu yang digunakan adalah bambu yang sudah tua. Tudung terbuat dari plastik. Sedangkan fungsi tudung ini untuk menghindari tingginya curah hujan. Selain karena hujan dapat merobek daun sawi, juga karena sawi rentan terkena penyakit bila kehujanan.
***
Usai memasang rangka tudung, kami menyiapkan daun pisang kering yang disuir-suir sebagai pengganti jerami. Kemudian daun pisang yang tua dan masih hijau utuh dengan pelepahnya. Setelah bedengan bersih dari gulma, Huda menebar benih sawi secara merata lalu saya, Himma dan Irvi menabur daun pisang kering secara merata. Ini bertujuan untuk menjaga kelembaban benih agar mudah tumbuh. Setelah itu Dek Riko dan Dek Hilman menutup dengan daun pisang utuh sebagai sentuhan terakhir. Ini juga dilakukan untuk mengatur kelembaban, yang nantinya diambil lagi saat benih sudah mulai berkecambah dan tumbuh.
***
Perjalanan pulang dari lahan selalu lebih cepat daripada saat berangkat. Kita baru saja melewati lahan yang penuh dengan pohon sengon. Tiba-tiba adik-adik berhenti dan menemukan jamur merang tumbuh liar. Siap untuk mereka masak.
***
Piket masak sudah saya tunaikan. Sambil menunggu kamar mandi kosong saya mengisi log book. Saya mende-hmm saat melihat diary tugas Pak Andrie masih kosong. Saya bingung ingin mengisi apa. Yang lain telah memenuhi diary-nya. Tetapi pikiran saya tetap buntu. Tugas mandiri ini mengenai pengamatan pribadi terkait P4S Persada Nusantara dan masyarakat sekitar dari sisi sosial ekonomi dll. Saya tidak punya banyak bahan untuk ditulis. Sebab itulah, hingga hari ke 10 (jika dihitung dengan hari tiba) ini diary saya masih terisi satu lembar saja. Pas.
***
Saya "tidak punya banyak" bahan untuk ditulis. Artinya saya punya bahan namun karena sesuatu tidak saya tulis. Bisa jadi karena saya malas, takut salah dan lain sebagainya. Intinya diary saya itu akan tetap kosong jika saya tetap merasa seperti ini. Pun sama seperti jalannya diskusi malam ini. Pak Machmud kembali mengingatkan adik-adik lantaran diskusi selalu berjalan sama. Yang aktif orang yang sama. Yang ngomong orang yang sama. Yang bertanya orang yang sma. Yang menjawab juga orang yang sama.
Pesan saya untuk adik-adik: "Jangan takut salah. Hal terpenting adalah belajar berbicara, bertanya, berpendapat, menjawab dan lain-lain. Jangan malu. Kapan lagi kalau tidak dimulai. Jangan malas untuk sekadar menbuat pertanyaan. Buatlah target, minim di sebuah diskusi satu kali bertanya atau menjawab. Kalian pasti mampu!"
***
"Aih, pandai betul kau menceramahi orang. Isi diary-mu S E K A R A N G, Mbak!," bayangan Pak Andrie melayang diikuti kalimat di bagian bawah buku tulis keluaran percetakan ternama, yang berbunyi: DON'T PUT OFF WHAT YOU CAN DO TODAY TILL TOMORROW. Kalimat itu pertamakali saya baca saat duduk di bangku SD. Heuffh ~
.
.
Lumajang, 16 Januari 2017 @10:56 WIB.

0 komentar