DAY 6 - Penyulaman Cabai


Proses yang diperlukan untuk persiapan lahan bayam dan sawi cukup panjang. Hari ini tahap finishing. Penggemburan dan pemberian tudung di atas bedengan. Para kaum adam mulai mengambil bambu, lalu membuat rangka tudung.
***
Kami bertiga menyulam cabai bersama Ibu-ibu buruh. Mula-mula kami mengambil bibit cabai yang telah dibuat dengan sistem brownis oleh adik-adik SMK PPN Tegal Ampel Bondowoso. Menurut penuturan Pak Machmud, mereka memang ahli dalam pembibitan. Mereka telah tiga minggu magang saat kami baru tiba di P4S Persada Nusantara Lumajang. Oleh karena itu bibit-bibit brownis ini telah siap ditanam atau sebagai penyulaman.
***
Ibu-ibu buruh kali ini beda dengan pada saat pemupukan cabai kemarin lantaran menggunakan bahasa jawa. Saya jadi tidak leluasa untuk mengorek sisi sosial ekonomi--karena tugas dari Pak Andrie, hehe. Padahal sudah lama saya bertekad untuk bisa lancar berbahasa jawa. Bahasa unik itu bahkan banyak disukai dan dipelajari orang luar negeri.
***
Setelah itu, kami mencari tanaman cabai yang mati atau rusak untuk kemudian diganti dengan bibit yang baru. Teknik penyulamam dicontohkan terlebih dahulu sebelum akhirnya kami praktekkan. Tahap penyulaman dilakukan dengan: menggemburkan tanah pada sekitar lubang tanam cabai dengan menggunakan sabit; menyiram dengan air; mencabut bibit yang mati/rusak; melubangi tanah; memasukkan bibit baru; menimbun dengan tanah: menekan tanah ke arah samping agar akar tidak menggantung dan batang tegak; dan yang terakhir menyiram tanaman cabai kembali. Kriteria bibit juga harus diperhatikan. Pastikan bibit yang digunakan adalah bibit yang sehat dan memiliki kriteria: beruas sama; batang tidak pucat; daun tidak menggulung ke atas ataupun kebawah; dan lain-lain. Penyebab daun yang menggulung ke atas adalah mozaik. Sedangkan thrips membuat daun cabai menggulung ke bawah. Penyulaman ini dilakukan agar cost untuk pemupukan dan pemeliharan nanti tidak terbuang sia-sia karena banyaknya pohon cabai yang mati.
***
Omong-omong soal mati, malam ini tiba-tiba saja mati listrik. Presentasi ditunda kembali. Alasan lain karena Pak Machmud dan keluarga akan pergi kondangan. Jadilah kita di depan dua laptop untuk nobar bernuansa malam minggu. Tak seperti yang lain, saya sendiri biasa-biasa saja saat mendengar kata malam minggu. Namun beda lagi jika mengingat besok adalah hari minggu. Yes!~
.
.
Lumajang, 14 Januari 2017 @07:32 WIB.

0 komentar