Kami melanjutkan proses penyiangan pada kangkung darat. Saat kami sampai di lahan, kami terkagum melihat kangkung yang sebelumnya telah disiangi, diberi pupuk dan pestisida telah tumbuh lebih sangat tinggi. Waw. Kami pun bersemangat menyianyi yang lain. Untuk kemudian nantinya akan diberi pupuk dan pestisida.
Sebelumnya kami memasang ajir pada kacang panjang yang tempo hari kita tanam. Ajir berfungsi sebagai media rambat tanaman kacang panjang nantinya. Pemasangan ajir pada tanaman kacang panjang ditancapkan secara tegak lurus dengan jarak 5 cm dari tanaman. Ingat, pemasangan ajir jangan sampai terbalik (yang runcing dibawah) seperti beberapa hal yang terbalik di zaman kekinian ini.
***
Ya, terbalik. Kita akan menjumpai guru/dosen rajin yang banyak haters-nya daripada yang sering absen kuliah. Kerajinan dan upaya pendisiplinan kerap menjadi sebuah "kecerewetan" belaka.
.
.
Di sekolah ataupun kampus, kita akan lebih meng-wisss-kan orang yang rajin pergi ke perpustakaan dan membaca buku. Tunggu, jangan sampai membaca, membawa saja kita akan berceloteh: "Wisss, rajin amat. Tebel banget buku loe. Buat nimpukin maling?"
Padahal bukankah kewajiban pelajar memang belajar. Lalu buku menjadi salah satu media pembelajaran. Jadi kenapa harus membuat orang salah tingkah? Membikin budaya membaca kian surut di negeri ini.
Bersikap biasa saja itu harus. Karena ya, memang biasa saja membaca buku itu. Siapapun berhak belajar. Seperti tukang becak, tukang ojek dan lain sebagainya yang masih sempat meminjam buku di perputakaan jalanan, dobrakan orang-orang yang masih peduli nilai-nilai luhur.
.
.
Pun saat kita mencatat dengan cekatan penjelasan guru/dosen. Kita bisa jadi dianggap rajin atau bahkan sok rajin.
Kenyataannya, memang ilmu itu musti diikat. Karena diibaratkan buruan yang musti diikat dengan tulisan. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih yang bernada: “Ikatlah ilmu dengan tulisan."
Maka berhentilah berpikir bahwa menulis itu sebuah kegiatan yang wow apalagi sok. Karena kewajiban kita memanglah mencari ilmu. Lantas menulisnya agar mudah dibaca, dipahami, diingat lalu diamalkan.
.
.
Di sekolah ataupun kampus, kita akan lebih meng-wisss-kan orang yang rajin pergi ke perpustakaan dan membaca buku. Tunggu, jangan sampai membaca, membawa saja kita akan berceloteh: "Wisss, rajin amat. Tebel banget buku loe. Buat nimpukin maling?"
Padahal bukankah kewajiban pelajar memang belajar. Lalu buku menjadi salah satu media pembelajaran. Jadi kenapa harus membuat orang salah tingkah? Membikin budaya membaca kian surut di negeri ini.
Bersikap biasa saja itu harus. Karena ya, memang biasa saja membaca buku itu. Siapapun berhak belajar. Seperti tukang becak, tukang ojek dan lain sebagainya yang masih sempat meminjam buku di perputakaan jalanan, dobrakan orang-orang yang masih peduli nilai-nilai luhur.
.
.
Pun saat kita mencatat dengan cekatan penjelasan guru/dosen. Kita bisa jadi dianggap rajin atau bahkan sok rajin.
Kenyataannya, memang ilmu itu musti diikat. Karena diibaratkan buruan yang musti diikat dengan tulisan. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih yang bernada: “Ikatlah ilmu dengan tulisan."
Maka berhentilah berpikir bahwa menulis itu sebuah kegiatan yang wow apalagi sok. Karena kewajiban kita memanglah mencari ilmu. Lantas menulisnya agar mudah dibaca, dipahami, diingat lalu diamalkan.
***
Saya sendiri lebih suka mencatat penjelasan dari seorang guru. Apalagi kalau pelajarannya terasa lebih sulit dipahami. Saya akan lebih giat mencatat, lalu teman sebelah saya akan berkata: "Duh, rajin sekali!"
The fact, itu karena saya tidak paham. -__-
Akan tetapi memang, sepenglihatan saya, saat seseorang tengah menulis (menggunakan pen dan buku tulis) akan terlihat lebih apik, brilian.
The fact, itu karena saya tidak paham. -__-
Akan tetapi memang, sepenglihatan saya, saat seseorang tengah menulis (menggunakan pen dan buku tulis) akan terlihat lebih apik, brilian.
***
Bermodal kata kekinian dunia akan terasa makin terbalik. Tidak afdol rasanya bila tidak mengikuti trend pacaran. Aneh saat melihat seseorang belum mempunyai pacar. Bahkan bisa jadi kita yang malu melihat mereka berpacaran, bukan mereka yang malu karena kita lihat berpacaran.
Lalu akankah kita abaikan pengetahuan tentang peringatan Allah yang satu ini: "Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk."
(QS Al-Isra 17: 32).
Lalu akankah kita abaikan pengetahuan tentang peringatan Allah yang satu ini: "Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk."
(QS Al-Isra 17: 32).
***
Sama halnya saat kita berpikiran bahwa tidak keren rasanya jika belum memiliki gadget canggih dengan fitur permainan yang menarik. Memaikannya sampai paham, sampai level tertinggi main lagi, entah sampai kapan. Tidak peduli meski pelajaran/kuliah tadi pagi belum kita pahami.
***
Kita juga kadangkala lebih memperdulikan berlama-lama menyanyikan lagu tanpa berpikir sudahkah membaca al-Qur'an hari ini?
Seperti saya yang belakangan menyadari betapa lupanya saya pada lagu-lagu sholawat yang terdapat di kitab Barzanji karena terlalu sering menyanyikan lagu barat.
Tidak seperti zaman saat saya masih di Madrasah Ibtidaiyah dulu.
Seperti saya yang belakangan menyadari betapa lupanya saya pada lagu-lagu sholawat yang terdapat di kitab Barzanji karena terlalu sering menyanyikan lagu barat.
Tidak seperti zaman saat saya masih di Madrasah Ibtidaiyah dulu.
***
“Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (Q.S Adz-Dzaariyaat ayat 56)
*** ***
Bahasan mengenai 'terbalik' sebenarnya amat luas. Tak habis-habis penjelasannya. Selalu menemukan celah lewatnya ilmu baru. Untuk itu, banyak sekali bacaan yang akan memperkaya pemikiran kita mengenai itu. Jangan bosan membaca dan menulis. Karena membaca adalah salah satu cara memburu ilmu. Lalu menulis adalah cara untuk mengikatnya. Keduanya bernilai ibadah, dalam rangka fastabiqul khairat. Jadi tidak ada yang perlu dirasa; aneh, sok, gengsi, cerewet, dsbnya. Kembalikan pada posisi yang benar pola pikir kita yang terbalik ini. Karena setiap perbuatan bergantung pada niat.
.
.
Lumajang, 31 Januari 2017 @22:10 WIB
.
.
Lumajang, 31 Januari 2017 @22:10 WIB
0 komentar