DAY 22 - Pewiwilan Cabai Merah


Hari PKL kedua puluh dua ya? Ini sudah memenuhi syarat lama PKL yang ditentukan jurusan. Artinya, it's ok jika kita pulang besok.
Tapi lihatlah, laporan bagian pembahasan belum kami sentuh sama sekali. Rangkanya pun masih terkurung di kepala kami. Konon, memulai adalah kegiatan yang sulit. Padahal jobdis pokok bahasan kami sudah jelas. Saya bagian pemasaran, Himma bagian pengolahan, Irvi membahas MSDM dan Huda mendapat bagian budidaya. Komoditas hortikultura di P4S yang berniat kami bahas juga jelas. Mereka antara lain: cabai merah; bayam; kangkung; dan kacang panjang. Pak Macmud membimbing kami di lapang, ditambah diskusi rutin tiap malam. Lalu masih kurang apalagi?
Hmm, jangan-jangan memang memulai itu sukar.
***
Hari yang mendung plus gerimis ini membuat kami berangkat ke lahan hampir pukul setengah delapan. Ini sesuai perkataan Pak Machmud: "Kalau masih gerimis jangan berangkat ke lahan dulu."
Jadilah kami tidak seperti biasa yang sarapan di lahan, karena sebelum berangkat kita telah menandaskan jatah sarapan kita.
Meski tetap mendung dan gerimis, kita tetap berangkat dan menjalankan aktivitas seperti biasa.
Kegiatan hari ini adalah pewiwilan cabai merah. Lahan cabai seluas kira-kira lebih dari tiga ribuan meter persegi selesai kita wiwili.
Masih ingat definisi pewiwilan, kan?
Ialah kegiatan membuang tunas yang tumbuh diketiak daun mulai dari bawah hingga cabang Y.
***
Hari ini makan siang terasa begitu berbeda. Kita berempat makan bersama adik-adik SMK PPN Bondowoso Tegal Ampel. Sebelumnya para anggota piket memasak bersama. Kami yang tidak kebagian piket dipanggil-panggil, diminta untuk makan bersama di aula.
Hmm, adik-adik ini kian hari kian baik, sopan, konyol, kocak, rempong dan mengesankan.
Bagaimana tidak, mereka sangat perhatian pada keempat kakak non kandung mereka ini.
Misal, saat kami kehabisan lotion anti nyamuk, salah satu dari mereka akan mengulurkan obat nyamuk bakar. Saat saya dan Irvi mencuci piring dengan tangan yang penuh dengan busa, salah satu dari mereka tanpa segan menyuapi kami setusuk kelepon yang entah di dapat dari mana. Saat salah satu dari kami sakit, mereka akan berbondong mengantar ke puskesmas. Saat kami kehabisan camilan, merekan tergerak untuk berbagi.
Sungguh, tak bisa saya sebutkan kebaikan mereka. Terlalu banyak. Terlalu berarti. Terlalu mengaharukan.
Sampai-sampai kami tidak rela meninggalkan mereka yang masih satu bulan lagi magang disini.
Kesan kami pada adik yang lugu-lugu ini lebih dari hitungan jari saat kami pergi.
Namun kami juga merindukan kampung halaman yang telah menanti.
***
Hari ini usai sholat magrib berjamaah dan mengaji, kami menonton film The Karate Kid. Sampai berbusa mulut kami menimpali film yang dibintangi Jaden Smith ini. Tentu kami telah berulang kali menonton film ini. Namun alur, latar, komedi dan pesan yang disampaikan membuat kami ingin menonton lagi dan lagi. Pesan mengenai sifat tawaddu', pantang menyerah, yakin dan lain sebagainya diungkapkan dengan amat apik. Terlebih sifat tersebut harus dimiliki oleh seorang guru pada murid-muridnya.
Kami terlena hingga tak terasa adzan Isyak berkumandang. Kami juga tidak dapat berkutik kala Pak Machmud memencet tombol off. Padahal turnamen dan filmnya hampir end. Ah, sadarkah kita. Bukankah film bagus selalu di putar di jam-jam sholat?
***
Hari yang tergabung dari kumpulan detik, menit lalu jam yang kemudian bersatu menjadi bulan, tahun dst kadang kala terasa sangat cepat berlalu.
Sepertinya baru kemarin malam kami membiasakan telinga kami dengan lagu-lagu mp3 yang mereka putar yang hampir kesemuanya bernada galau. Seperti baru kemarin sore Dek Riko, Dek Jokowi dan Dek Zaeni menjemput kami di muka jalan raya kota. Seperti baru kemarin siang kami menikmati perjalanan pulang dari lahan untuk pertama kalinya. Sepertinya baru kemarin pagi kami mulai mengenal lelucon khas mereka.
"Every meeting always ends with a farewell. The most important thing is not how we weep the farewell, but how we color our togetherness, provide our masterpiece, so its presence will be there when we’re gone."
-Anonymous
***
Hari itu, sepulang kampus, di dalam mini bus, seorang pria paruhbaya bertanya pada saya: "Kuliah, Nak?" "Iya, Pak." "Jurusan apa?" "Agribisnis, Pak." "Pertanian, ya?" "Iya, betul, Pak."
Saya tidak menatap wajah Bapak itu dengan jelas namun bisa saya gambarkan bagaimana ekspresinya.
"Kenapa ga ngambil jurusan Teknik aja?" "Anak saya di jurusan teknik," lanjut Beliau. "Hmm," saya hanya membalas dengan senyum.
Maka, saya sangat kagum manakala pertama kali melihat para adik-adik SMK PPN yang gigih bekerja dengan atribut lengkap. Huh, Indonesia butuh orang-orang seperti mereka. Saya memetik pelajaran yang sangat berharga dari mereka.
Ingat kawan, Indonesia adalah negara yang berkarakter agraris. Namun sedikit pemuda yang ingin berkecimpung di dunia pertanian. Sedikit yang saya ketahui, di Madura sepertinya tidak ada SMK atau SMA Pertanian. Padahal kalau dikelola secara profesional, pertanian akan menjadi ujung tombak meraih keselarasan sosial.
Pertanian adalah karakter budaya bangsa ini. Jadi untuk apa malu menjadi petani, malu menjadi bagian dari petani.
Pertanian juga mengajarkan pemuda agar berjiwa kewirausahaan hingga dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan mengurangi beban negara. Lebih-lebih, dengan memahami ilmu pertanian kita akan menjadi manusia yang lebih menghargai hidup ini. Percayalah.
Karena "Tanpa petani kita hanyalah seonggok benda mati."
-Anonymous
.
.
Lumajang, 30 Januari 2017 @21:00 WIB

0 komentar